Gubernur Koster Perintahkan Deportasi Bule Bugil di Kayu Putih, Marga, Tabanan

kosterku
BERI KETERANGAN - Gubernur Koster didampingi Kakanwil Kemenkumham Bali Jamaruli Manihuruk saat memberi keterangan perihal rencana mendeportasi Alina Fazleeva dan suaminya, Amdrei Fazleev (paling kiri). (DenPost.id/ist)

Sumerta, DenPost.id

Terbukti membuat foto tanpa busana (bugil) di objek wisata Kayu Putih, Banjar Dinas Bayan, Desa Tua, Marga, Tabanan, wanita asal Rusia yakni Alina Fazleeva (28) dan suaminya, Amdrei Fazleev (36),  dideportasi dari Bali. Hal ini merupakan usulan Gubernur Bali Wayan Koster yang dibacakan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kakanwil Kemenkumham) Bali Jamaruli Manihuruk dalam jumpa pers Jumat (6/5/2022) di Jaya Sabha, Denpasar.

Gubernur Koster menegaskan pariwisata di Bali diselenggarakan berbasis budaya yang berorientasi pada kualitas dan menjaga martabat keluhuran kebudayaan setempat. Karenanya, Pemprov Bali di era kepemimpinan Gubernur Koster sedang menata pariwisata Bali dengan membentuk Peraturan Daerah No.5 Tahun 2020 tentang standar penyelenggaraan kepariwisataan budaya Bali dan Peraturan Gubernur Bali No.28 Tahun 2020 tentang tata kelola pariwisata Bali dengan tujuan menjaga dan menghormati budaya serta tradisi setempat. “Budaya dan tradisi di Bali harus dihormati oleh siapa pun, termasuk oleh wisatawan di Bali, baik wisatawan domestik (wisdom) maupun wisatawan mancanegara (wisman),” tegas mantan anggota DPR RI tiga periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini.

Gubernur Koster juga menyampaikan pascapandemi adalah momentum baru untuk mewujudkan visi ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’ melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru. Maka untuk itulah kepariwisataan Bali harus diselenggarakan dengan tatanan era baru.

Dalam tatanan era baru, menurut Koster, kepariwisataan di Bali harus betul-betul dijalankan dengan menghormati budaya berorientasi pada kualitas dan bermartabat. Karenanya, Gubernur Koster tidak akan lagi mentolelir sedikit pun wisatawan yang melakukan tindakan-tindakan yang tidak menghormati budaya serta melecehkan dan merendahkan budaya Bali. “Kita jauh lebih penting menjaga budaya dan menghormati martabat Bali daripada kita mentoleransi tindakan-tindakan yang membuat budaya Bali terjaga dan merusak citra pariwisata Bali di mata nasional maupun di mata dunia,” jelas Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini.

Baca juga :  Wagub Hadiri Peluncuran Buku Transformasi Digital Perbankan

Menurut dia, Bali merupakan tujuan utama pariwisata dunia, sehingga harus betul-betul dijalankan dengan tertib dan disiplin. “Sudah banyak kejadian yang tidak etis dan sepatutnya dilakukan oleh wisatawan. Ada yang duduk di tempat suci secara sembarangan hingga ada yang telanjang di pohon yang disakralkan. Ini betul- betul memalukan dan tidak bisa saya biarkan. Karena itu, saya memperintahkan Bapak Kakanwil Menkumham Provinsi Bali segera mendeportasi wisatawan ini, agar tindakan yang tidak terpuji tersebut menjadi pelajaran bagi wisatawan,” tegas Wayan Koster.

Dia juga menyilakan siapa saja berkunjung ke Bali, tetapi tetap menghormati pariwisata setempat, menjaga martabat bangsa Indonesia dengan budayanya, khususnya menghormati keluhuran budaya Bali.

Atas dasar itu, Gubernur Bali tamatan ITB ini mengambil tindakan tegas terhadap semua pelanggaran, agar tidak terulang ke depan. Selain itu menjadi pelajaran bagi pelaku perjalanan serta para wisman maupun wisdom yang melanggar. “Selama ini yang paling banyak melakukan tindakan tidak etis dan bertanggungjawab adalah wisman,” ungkap Gubernur Koster.

Baca juga :  Cegah Tumbang, Pohon Besar Dirompes

Dia pun menyatakan Alina Fazleeva dan suaminya, Amdrei Fazleeva, yang asal Rusia, telah meminta maaf dan bersedia melakukan upacara  Guru Piduka  atau pembersihan secara niskala. “Namun hal itu tidak cukup. Saya baru saja mengundang kepala desa, bendesa adat, camat, danramil, Kapolsek, serta anggota DPRD Tabanan. Tidak cukup dengan meminta maaf dan hanya melakukan upacara Guru Piduka, tapi harus diberi sanksi berupa deportasi, karena menyangkut kehormatan keluhuran budaya Bali yang harus ditegakkan bersama-sama,” tegas orang nomor satu di Pemprov Bali ini.

Untuk ke depan, Gubernur Koster terus bertindak konsisten dan tegas terhadap pelaku wisatawan, baik wisman maupun wisdom yang melakukan tindakan – tindakan yang tidak menghormati tatanan budaya Bali. Dengan demikian, citra Bali sebagai tujuan wisata utama di dunia,  tetap terjaga dengan baik, terhormat di mata masyarakat nasional dan internasional.

Kakanwil Kemenkumham Bali Jamaruli Manihuruk menyampaikan viralnya informasi di medsos mengenai WNA yang membuat foto tanpa busana di objek wisata Kayu Putih Banjar Dinas Bayan, Desa Tua, Marga, Tabanan, mendapat perhatian yang luas masyarakat karena sangat bertentangan dengan kebudayaan Indonesia, khususnya kebudayaan Bali, yang memegang teguh adat-istiadat dan norma agama.

Baca juga :  Bali Temukan Terapi Penyembuh OTG

Keputusan deportasi itu diawali pada hari Rabu (4/5/2022) lalu, dimana Kanwil Kemenkumham Bali melalui Kantor Imigrasi Kelas I TPI Denpasar memerintahkan Tim Seksi Inteldakim Kanim Denpasar untuk melakukan penelusuran mengenai kasus wanita bule berpose bugil di objek wisata Kayu Putih, Banjar Dinas Bayan, Desa Tua, Marga, Tabanan. Tim lalu pengecekan pada sistem keimigrasian dan mendatangi lokasi kejadian.

Selanjutnya pada Kamis (5/5/2022) lalu pukul 13.00, kedua warga Rusia itu diperiksa dan dimintai keterangan. Sedangkan sebelumnya dilakukan serah-terima oleh pihak Direktorat Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Bali ke Kanwil Kemenkumham Bali.

Untuk diketahui, Alina Fazleeva dan Amdrei Fazleevmasuk pertama kali ke Indonesia tahun 2020 dan yang kedua pada November 2021. Mereka datang ke Indonesia untuk berlibur dan berinvestasi. Pasutri ini adalah investor yang mendirikan PT Art Planet Evolution yang bergerak di bidang pakaian dan alat musik. Mereka mengaku bahwa foto viral yang diunggah di akun Instagram pribadi milik Alina. Pemotretan dilakukan pada 1 Mei 2022 di objek wisata Kayu Putih di Banjar Dinas Bayan, Desa Tua, Marga, Tabanan. Keduanya tidak tahu jika pohon tersebut berada di tempat yang disucikan krama di Bali. (wir)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini