Ketua DPRD Badung Putu Parwata: Kolaborasikan Sektor Andalan untuk Tingkatkan Pendapatan

parwata1

PANDEMI covid-19 yang dua tahun melanda Indonesia, berdampak luas bagi perekomian. Walau demikian, masyarakat khususnya di Badung, tak pernah putus asa, sehingga selamat berkat kerja gotong-royong antara pemerintah, masyarakat, dan swasta atau stakeholder lain. Hasilnya, menurut Ketua DPRD Badung Putu Parwata, belakangan ini terlihat geliat-geliat perekonomian yang positif. Semuanya tak lepas dari kebijakan Presiden Jokowi bersama para menteri, Pemprov Bali dan pemkab Badung, yang tak kenal lelah menanggulangi pandemi. Sektor penerbangan, pariwisata, akomodasi, transportasi, dan restoran terus menggeliat di tengah melandainya kasus covid-19. ‘’Berbagai komponen yang kami ajak berkomunikasi memberi sinyal positif atau gairah hidup mereka kembati tumbuh,’’ tegas Parwata, belum lama ini.

Mengenai pengembangan pariwisata di Badung ke depan, pria asal Dalung, Kuta Utara, ini menyebut bahwa pandemi covid-19 memberi pengalaman yang sangat berharga bagi semua pihak. Dengan adanya covid-19, Badung mengalami penurunan pendapatan hingga 85 persen, mengingat andalan pandapatan selama ini berasal dari pajak hotel dan restoran (PHR). ‘’Badung memberi kontribusi yang sangat besar kepada Bali, khususnya di sektor pariwisata,’’ tegasnya.

Baca juga :  Jumat, Layanan GeNose C19 di Bandara Ngurah Rai Diberlakukan

Berdasarkan pengalaman itu pula, tentu memberi kesempatan yang baik bagi Badung untuk membuat catatan atau regulasi. Besarnya PAD yang diperoleh, membuat sektor pariwisata di Badung harus tetap dipertahankan  di masa mendatang. Tetapi harus dikolaborasikan dengan sektor lain yang dimiliki masyarakat Badung sebagai pendukung pendapatan di luar pariwisata.

Berdasarkan pengalaman selama pandemi, tambah Parwata, Badung tidak dapat lagi mengandalkan pendapatan dari satu sektor saja yakni pariwisata. Pemkab harus mengambil langkah-langkah untuk mengubah rencana jangka menengah ke arah yang lebih riil. Sebagai inovasi daerah, perlu dibangkitkan sektor-sektor unggulan lain seperti UMKM, pertanian/ holtikultura lain, dan teknologi digital marketing. ‘’Ini harus dikolaborsikan dengan baik. Jika digitalisasi hidup dan berkembang, maka kita tak perlu kecewa karena telah berdiri berbagai star-up seperti aplikasi Bago,’’ beber Partawa.

Setelah sektor pariwisata, pemerintah perlu mendorong masyarakat agar mau berinovasi di sektor unggulan lain yakni UMKM. Sektor ini bentuknya beragam seperti perdagangan, berbagai olahan makanan, dan jasa. Hal ini akan digolongkan dengan rapi, dimana holding-nya ada di Dinas Koperasi dan UMKM Badung. Sektor lain yang juga didorong yakni pertanian, mengingat di Badung ada 37 ribu petani, dengan luas lahan sekitar 190 ribu hektar. Hasil nyatanya sekarang bahwa petani Badung mampu menaikkan hasil produksinya 100 persen. Jika dulu petani menghasilkan 6 ton padi dalam satu hektar sawah, namun sekarang mencapai 11 ton hingga 13 ton. Hal tersebut diperoleh dari demplot. Program itu telah ditandatangani PPL, sehingga diberikan empat kali demplot dengan hasil 100 persen meningkat. Kini muncul pula di Badung yakni beras super berkualitas yang disebut C-Par. Para petani pun dapat mengkonsumsi beras dengan harga murah. Begitu juga UMKM dapat digerakkan dengan jualan beras harga murah. ‘’Beras ini bisa diperdagangkan dan dikonsumsi, sehingga menguntungkan seluruh masyarakat Badung,’’ tandas Parwata. (kmb)

Baca juga :  Gempa M=4,3 Dirasakan di Kutsel

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini