Pelaku Pariwisata Keluhkan “Perang” Tarif Hotel di Nusa Penida

picsart 22 05 24 15 28 23 051
AKOMODASI - Salah satu akomodasi pariwisata di Nusa Penida. Objek wisata di pulau tersebut kini mulai ramai kembali dikunjungi wisatawan.

Semarapura, DENPOST.id

Wilayah Nusa Penida, Kabupaten Klungkung mulai ramai dikunjungi wisatawan. Hanya saja tingkat okupansi atau hunian penginapan baik hotel atau bungalow di wilayah kepulauan tersebut masih sepi. Selain itu, fenomena “perang” tarif penginapan juga mulai terjadi di Nusa Penida.

Seperti dikatakan salah satu pelaku pariwisata Nusa Penida, Ketut Kusetiawan, Selasa (24/5/22). Pemilik penginapan Holy Hill di Desa Bunga Mekar ini mengakui kalau wisatawan mulai ramai berkunjung ke Nusa Penida. Terutama saat liburan. Hanya saja, jumlah wisatawan yang menginap tidak terlalu banyak. Malah bisa dihitung dengan jari.

Baca juga :  Hotel Menolak, Warga Tak Bergejala Isolasi di Rumah

“Yang menginap rata-rata 1 sampai 2 orang per hari. Dan yang menginap juga wisatawan domestik,” ungkap Kusetiawan.

Selain tingkat hunian penginapan masih sepi, Ketut Kusetiawan mengatakan kalau fenomena perang “tarif” penginapan mulai terjadi di Nusa Penida. Hal ini mulai dikeluhkan pelaku pariwisata yang memiliki penginapan di bagian atas. Apalagi ada akomodasi wisata yang berada di bawah dan mengunggulkan pemandangan pantai memasang tarif murah Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per malam.

Baca juga :  Pura Pejenengan Dipadati Warga, Jro Mangku Sarankan Warga Cukup "Ngayeng"

“Kalau kita jual harga Rp 100 Ribu kan susah kita. Karena kalau harga segitu hanya bisa bayar pegawai dan melihara akomodasi,” katanya.

Hal senada juga dikatakan Ketua PHRI Klungkung, Wayan Kariana. Menurut Kariana, banyak hotel atau bungalow yang berada di pinggir pantai dikatakan memasang tarif murah yakni sampai Rp 300 ribu per malam. Yang mana kondisi ini tentunya sangat berdampak terhadap penginapan yang lokasinya jauh dari pantai.

“Sekarang ada yang masih tarif sampai Rp 300 per malam. Padahal dulu sebelum Covid-19, memasang tarif Rp 1,2 juta per malam. Jadi kasihan teman-teman yang punya penginapan jauh-jauh dari pantai karena belum merasakan,” kata Kariana. Dikatakannya, masalah tarif ini sempat dibahas dengan pelaku pariwisata. Namun belum ada titik temu.

Baca juga :  27 Warga Miskin di Desa Paksebali Luput dari Bantuan Bedah Rumah

Sementara Kadis Pariwisata Klungkung, AA Putra Wedana, belum dapat dimintai konfirmasi terkait fenomena “perang” tarif penginapan di Nusa Penida. Saat dihubungi, telepon selulernya aktif tapi tidak diangkat. (119)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini