Kadiskes Bali: Warga Jangan Panik Dengan Sub Varian Baru Omicron

selaswa kadiskesku
BERI PENJELASAN - Kadiskes Provinsi Bali Dr. dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes., memberi penjelasan mengenai perkembangan covid-19 di Pulau Dewata, Senin (13/6/2022). (DenPost.id/ist)

Denpasar, DenPost.id

Even internasional, Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) di Nusa Dua, Kutsel, pada 23-25 Mei lalu sempat memunculkan sub varian Omicron (BA.4 dan BA.5). Ketika anggota delegasi yang berjumlah antara 5.000-6.000 dari berbagai belahan dunia itu menjalani tes PCR ditemukanlah beberapa warga negara asing (WNA) yang terpapar covid-16 jenis omicron. Sebagian dari mereka tidak menunjukkan gejala covid-19, namun hanya seorang yang menunjukkan gejala ringan.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Provinsi Bali Dr. dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes., Senin (13/6/2022), anggota delegasi yang terpapar covid-19 itu kemudian diminta menjalani isolasi mandiri di hotel yang diawasi ketat oleh petugas. Mereka tetap dibolehkan mengikuti acara secara daring. Setelah menjalani isiolasi mandiri selama lima hari, mereka akhirnya dinyatakan negatif alias sembuh, sehingga dibolehkan pulang ke negara masing-masing.

Setelah dua pekan acara berlalu yakni 9 Juni 2022 keluarlah hasil lab dari Kemenkas yang menyatakan bahwa empat anggota delegasi positif covid-19 sub varian omicron. Menariknya, setelah even internasional itu berakhir hingga sekarang, di Bali tidak terjadi lonjakan kasus covid-19 maupun jenis varian baru.

Menurut Kasdiskes, varian baru ini memang tidak menunjukkan gejala seperti halnya varian delta. Jika varian delta sampai menyerang paru-paru penderita, namun sub varian baru omicron ini hanya menyasar sekitar tenggorokan.

Baca juga :  Sempat Covid-19, Rai Mantra Tak Ikut Divaksin

Kendati sempat muncul jenis varian baru di Bali, Anom mengimbau masyarakat agar jangan sampai panik atau khawatir, karena sumuanya sudah terkendali. Walau demikian, warga mesti tetap menjaga kondisi, tetap menerapkan prokes (terutama mengenakan masker) dan menjalani vaksin dosis 3 (booster). ‘’Bagi warga yang belum disuntik booster agar secepatnya disuntik, karena vaksin dosis tiga ini terbukti mampu memperkuat imunitas tubuh kita dari serangan virus,’’ tegas pria asal Blahbatuh, Gianyar ini.

Bicara tentang cakupan vaksinasi booster di Bali saat ini, menurut Anom, telah mencapai 70 persen, dan termasuk tertinggi di Indonesia. Jumlah ini bakal terus ditingkatkan minimal hingga mencapai 80 sampai 90 persen, bahkan menyamai vaksin dosis 1 dan 2. Hal ini memang target Pemprov Bali untuk menjaga krama agar tetap sehat, terhindar dari virus varian baru. Pemerintah juga telah mempersiapkan jumlah vaksin untuk menjangkau seluruh warga di Pulau Dewata.

Baca juga :  Golkar Target Kemenangan 60 Persen

Anom mengungkapkan masih dijumpai sejumlah warga di beberapa tempat yang enggan divaksin booster. Hal itu kemungkinan disebabkan warga telah merasa sehat dan kebal terhadap virus, padahal vaksin booster ini teramat penting untuk menjaga munculnya varian baru. Untuk itu pihaknya bakal menggencarkan vaksinasi booster di banjar-banjar, desa-desa dan puskesmas, sesuai perintah Gubernur Bali Wayan Koster. Selain itu Kadiskes mengimbau warga, terutama yang punya penyakit penyerta (komorbid) atau warga lansia, supaya tetap mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan menjauhi kerumunan.

Mengenai kesiapsiagaan rumah sakit (RS) di Bali jika nanti ada warga yang mempunyai gejala berat, Anom menyebut semuanya tetap siaga. Jika banyak yang warga terpapar, semua RS siap menangani pasien hingga sembuh. Hal yang menggembirakan, jumlah pasien covid-19 yang dirawat di tempat isolasi maupun RS sangat sedikit yakni hanya 11. Sejatinya secara de facto, Bali sekarang bisa dibilang memasuki fase endemi. Hal itu disebabkan lima faktor yakni tingkat penularan sangat rendah, positive rate di bawah 5 (di bawah 20 persen), tingkat perawatan di RS sangat rendah yakni 0,12 persen, angka kematian juga rendah yakni 0,02 persen, dan status PPKM level 1.

Baca juga :  Diduga Akibat Dupa, Mobil Bermuatan Telur Ludes Terbakar

Mengenai status endemi ini, Anom mengatakan bahwa kondisi di Bali sudah bisa dianggap normal atau biasa. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya pergerakan warga dan roda perekonomian yang mulai tumbuh.

Ditanya  jika masih ada warga yang positif terpapar covid-19, Anom menyebut tidak lagi diisolasi terpusat/karantina, namun menjani isolasi di rumah masing-masing atau bisa juga di hotel. Untuk sementara ini, jika ada warga yang terpapar maka langsung ditangani di puskesmas setempat, untuk selanjutnya isolasi mandiri di rumah saja. (yad)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini