Jalani Sidang Perdana, Eka Wiryastuti Berharap Proses Hukumnya Tak Membias

picsart 22 06 14 16 30 19 150
SIDANG - Mantan Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wiryastuti, saat dihadirkan dalam sidang perdana di Pengadilan Negeri Tipikor Denpasar, Selasa (14/6/2022).

Renon, DENPOST.id

Sidang perdana kasus dugaan korupsi dengan terdakwa mantan Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wiryastuti, digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Denpasar, Selasa (14/6/2022). Sidang yang dimulai pukul 09.40 mengagendakan pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Seusai mendengarkan dakwaan, Eka Wiryastuti berharap agar proses hukum yang dia jalani saat ini tidak bias ke mana-mana. “Semoga proses berjalan lancar, berharap kebenaran akan terungkap. Satyam Eva Jayate. Saya berharap jangan membias ke mana-mana,” kata Eka.

Sementara itu, dalam sidang yang digelar secara tatap muka dan dipimpin Ketua PN Denpasar, I Nyoman Wiguna, S.H., JPU membacakan dakwaan setebal 12 halaman.

Dipaparkan jaksa penuntut umum, kasus ini bermula dari tahun 2017, ketika Pemkab Tabanan ingin menaikkan APBD Tabanan yang bersumber dari Dana Alokasi Umum dan Dana Insentif untuk APBD tahun 2018. Ketika itu, terdakwa Eka menugaskan staf khususnya, I Dewa Nyoman Wiratmaja (berkas terpisah) untuk mencari jalan.
“Dalam hal hubungan pemda dan pemerintah pusat terdakwa mencari alternatif dana yakni dengan meningkatkan DID dan DAU. Terdakwa kemudian menugaskan saudara I Dewa Nyoman Wiratmaja,” ungkap penuntut umum.

Baca juga :  Tanaman Langka Hijaukan Taman Kota Lumintang

Selanjutnya, kata jaksa, Wiratmaja melalui jaringannya akhirnya bertemu dengan dua petugas dari Kementerian Keuangan yaitu Kepala Seksi Dana Alokasi Khusus Fisik II Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan, Riffa Surya serta pejabat Kemenkeu ketika itu, Yaya Purnomo. Dalam sejumlah pertemuan mereka diduga menyepakati sejumlah hal, termasuk dana “adat istiadat” alias success fee sebesar 2,5 persen dari anggaraan Dana Insentif Daerah (DID) yang nanti disetujui. “Riffa dan Yahya Purnomo minta komitmen fee 2,5 persen,” bebernya.

Baca juga :  Bidan ‘’Suspect’’ Covid-19 Dirawat di Buleleng,  Punya 80 Kontak

Selanjutnya, Dewa Wiratmaja disebutkan menyerahkan uang sebesar Rp 600 juta kepada Yahya Purnomo dan Riffa. Diserahkan dua kali, masing-masing Rp 300 juta sebelum Tabanan masuk daftar Kabupaten penerima DID. Sedangkan sisanya Rp 300 juta diserahkan setelah Kabupaten Tabanan masuk daftar Kabupaten penerima DID.

Uang tersebut kemudian dibagi dua secara merata. Riffa dan Yahya Purnomo masing mendapat 300 juta. Kemudian pada 27 Desember 2017, Dewa Wiratmaja kembali bertemu dengan Yahya Purnomo di Restoran Sunda, Cikini, Jakarta Pusat. Kali ini Dewa Wiratmaja menyelesaikan pembayaran succsess fee dengan nilai sebesar $ 55.400 US. Penyelesaian menggunakan mata uang asing ini sesuai permintaan Yahya Purnomo dalam pertemuan beberapa waktu sebelumnya. “Pada 27 Desember Dewa Wiratmaja dan Yahya Purnomo bertemu di Cikini selesaikan 55.400 Dollar Amerika yang dimasukkan dalam amplop coklat. Yahya Purnomo lalu menghubungi Riffa lalu membagi dua uang tersebut,” terang penuntut umum.

Baca juga :  Terparah Setelah 25 Tahun, Ini Penampakan Usai Banjir Bandang di Nusa Penida

Menanggapi dakwaan jaksa, salah satu penasihat hukum terdakwa, Warsa T. Bhuana, S.H., menyatakan akan mengajukan eksepsi dalam sidang yang rencananya digelar kembali pada Kamis (23/6/2022) mendatang. (124)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini