Bangkitkan Tabuh Klasik, Garapan Komunitas Jala Kinara Menyentuh Hati

picsart 22 06 16 07 18 29 563
PUSPA MEKAR - Duta seni Kabupaten Klungkung yang diwakili Komunitas Jala Kinnara, Desa Adat Kemoning, Kelurahan Semarapura Kelod, Kabupaten Klungkung menampilkan Tari Puspa Mekar Garapan Guruh Soekarno Putra.

Denpasar, DENPOST.id

Alunan melodi semara pagulingan terdengar begitu manis, hingga menyentuh hati. Penonton seakan larut dalam setiap nada yang dimainkan. “Melodinya mendamaikan, sangat harmonis, sampai di hati,” ucap seorang penonton.
Itulah reaksi ketika Tabuh Sekar Emas dimainkan oleh Komunitas Jala Kinnara, Desa Adat Kemoning, Kelurahan Semarapura Kelod, Kabupaten Klungkung, di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44, Rabu (15/6/2022).

Rekasadana (pagelaran) tari dan tabuh palegongan klasik iringan Semara Pagulingan Komunitas Jala Kinnara, sengaja menampilkan kembali tabuh klasik yang sempat populer pada zamannya. Tabuh Sekar Emas ini mengisahkan tentang keindahan bunga di sebuah taman. “Bunga yang indah dapat menciptakan hati yang damai, sehingga lewat nada-nada yang dimainkan dipercaya dapat memberikan kedamaian kepada setiap pendengarnya,” kata Penasihat Komunitas Jala Kinnara, I Dewa Gede Alit Saputra, di sela-sela pagelaran itu.

Baca juga :  Pasien Non Covid-19 Turun 60%, RS Sanglah Optimalisasi Layanan Isolasi

Pada bagian selanjutnya, komunitas seni yang didukung 40 seniman tari dan tabuh ini menyajikan Tari Puspa Mekar. Tari ini diciptakan oleh Guruh Soekarno Putra sekitar tahun 1980-an sebagai tari penyambutan. Tari ini menggambarkan keindahan bunga yang ditarikan oleh wanita cantik berjumlah 5 orang. Busananya tergolong unik, karena memakai lelancingan, seperti busana penari wanita dalam tari Oleg Tamulilingan. Para penari membawa bokor yang berisi bunga tabur sebagai ucapan selamat datang.

Pada penampilan ketiga, disajikan Tari Legong Jobog berdurasi 30 menit. Tari ini dimainkan sepasang legong. Kisah yang diambil adalah dari cuplikan Ramayana, tentang persaingan dua bersaudara Sugriwa dan Subali (Kuntir dan Jobog) yang memperebutkan ajimat dari ayahnya.

Baca juga :  PPKM di Denpasar, Tak Perlu Bawa Surat Hasil Swab dan Rapid Antigen

Sajian pamungkas, Komunitas Jala Kinnara yang berada di bawah Sanggar Kayonan Klungkung itu menampilkan Tabuh Jerebon. Tabuh ini, dimainkan secara utuh seperti yang dimainkan tompo dulu.

Alit Saputra mengaku untuk tampil di ajang PKB ini pihaknya telah melakukan persiapan sekitar dua bulan sebelum pentas. Sebelumnya, komunitas yang berdiri awal tahun 2020 ini hanya pentas secara virtual mengikuti program dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah program pentas seni di masa pandemi. “PKB ini sebuah euforia baru. Karena pandemi, PKB sempat ditiadakan sehingga kegiatan berkesenian sempat macet. PKB ini memberi ruang, sehingga ke depan PKB bertambah maju,” imbuhnya.

Ketua Komunitas I Dewa Gede Agung Kayonanda menambahkan, PKB ini tak hanya sebagai ajang perhelatan seni, tetapi juga sebagai sebuah pengakuan. Di mana ajang bertemunya para seniman dan pelaku seni untuk berinteraksi dengan berbagai daerah di Bali. “Kami sangat senang mendapat kesempatan tampil dalam PKB untuk berekspresi dalam kegiatan berkesenian,” ujarnya seraya menambahkan kegiatan komunitas ini mengajar menari, menabuh, puisi dan teater.

Baca juga :  Kabur dari Perawatan RS, Pasien Positif Covid-19 Gasak Motor Pasien

Salah seorang penari Puspa Mekar, Ni Wayan Ayu Suwari, mengaku senang dan bangga bisa kembali melakukan aktivitas menari setelah pandemi. Sebelumnya, gadis tamatan S1 Unud hampir setiap tahub mendukung duta kesenian Klungkung untuk PKB, selain juga menari di kampus. “Saat pandemi, saya hanya ikut menari dalam garapan virtual. Semoga pandemi berlalu dan kita bisa melakukan pentas seperti dulu lagi,” harapnya. (115)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini