Pemkab Klungkung “Warning” Toko Modern yang Tak Jual Beras Lokal

picsart 22 06 20 19 25 22 250
PENYOSOHAN BERAS - Kondisi penyosohan beras di Klungkung.

Semarapura, DENPOST.id

Program inovasi Beli Mahal Jual Murah (Bima Juara) yang digulirkan Pemkab Klungkung, kembali akan dievaluasi. Mengingat, sistem dari hulu ke hilir tersebut belum juga mampu menyerap gabah petani dengan optimal.

Apalagi pemasaran beras lokal di koperasi, mini market ataupun toko modern juga belum memuaskan, sehingga Pemkab Klungkung akan mewarning setiap koperasi dan toko modern yang tidak menjual beras lokal.

Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta, seusai mengikuti sidang paripurna di DPRD, Senin (20/6/2022), mengatakan sejatinya inovasi Bima Juara ini sangatlah bagus. Sayangnya, jalan dan juga pasar yang telah disediakan oleh pemerintah ini tak dimanfaatkan dengan baik oleh para pengusaha. Permasalahan ini terjadi mulai dari hulu hingga hilir.

Untuk di hulu, Koperasi Unit Desa (KUD) yang menjadi rekanan untuk menyerap gabah petani ada yang sudah menyerah karena persoalan anggaran. Di samping itu, ada juga yang terhambat karena mesin pengering (dryer) rusak. Ketika KUD yang terlibat semakin sedikit, maka KUD yang tersisa otomatis tidak bisa menyerap semua hasil panen gabah petani. Apalagi jika panen dilakukan secara bersamaan.

Baca juga :  Ini 12 Masukan yang Diberikan DPRD Terhadap LKPJ Bupati Klungkung

“Kita akan evaluasi kembali, dengan perluas cakupan penanganan gabah ini. Misalnya beberapa KUD dilibatkan untuk ambil gabahnya,” ungkap Bupati Suwirta.

Sementara di hilir permasalahannya pada pemasaran. Yang mana, dilihat dari kualitas beras lokal sudah bagus. Hanya saja, karena masyarakat masih cenderung untuk membeli beras lain yang bermerek. Selain itu, banyak pula ditemukan toko modern yang pura-pura menjual beras lokal. Padahal nyatanya kemasan beras lokal justru diletakkan di tempat tersembunyi hingga usang.

Baca juga :  Wisatawan Tiongkok Tewas di Devil Tears, Lembongan

“Untuk menyikapi hal ini, saya akan evaluasi nanti. Jangan sampai edaran kita tidak diindahkan. Saya tidak segan-segan akan berikan warning ke koperasi, minimarket atau supermaret yang tidak indahkan edaran kita untuk pasarkan beras lokal. Warningnya bisa terkait masalah izinya atau mungkin juga sanksi lain yang kita berikan,” tegas Suwirta.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Klungkung, Ida Bagus Juanida mengatakan evaluasi inovasi Bima Juara harus dilakukan dengan melihat dua aspek. Pertama dari aspek KUD, jika hanya melihat dari sisi kuantitas gabah petani yang diserap memang tidak terjadi peningkatan yang signifikan. Jumlah serapan masih berkisar 8 sampao 10 persen saat panen tahun lalu, sehingga terkesan program ini tidaklah efektif.

Baca juga :  Jalan Raya Cucukan Klungkung Banjir

Namun jika dilihat dari aspek petani, Juanida menilai inovasi yang diluncurkan Bupati Suwirta ini, justru memberi perubahan besar. Utamanya, dari pola penjualan gabah. Yang mana, sebelumnya harga gabah sepenuhnya ditentukan oleh para penebas dan gabah petani dibeli dengan cara tebasan dan jumlahnya ditentukan dengan sistem hamparan. Cara ini
petani bisa mengalami kerugian atau kehilangan pendapatan antara Rp1 juta sampai Rp1,5 juta per hektar.

“Nah sekarang dengan inisiasi Bima Juara, petani sudah mau jual gabahnya kiloan. Walau dipanen oleh penebas, tapi yang dijual berapa (kilo) yang dihasilkan dari panen itu. Kalau dari sisi itu sudah luar biasa dampaknya ke petani. Dari sisi harga minimal bisa stabil, penebas tidak sewenang-wenang atau suka-suka dia,” jelas Juanida. (119)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini