Eksis Hingga Generasi Ketiga, Seka Gong Candra Pangan Tetap Spektakuler di Panggung PKB Ke-44

picsart 22 06 28 12 44 40 455
CANDRA PANGAN - Seka Gong Candra Pangan saat pentas di di Gedung Ksirarnawa dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022 di Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center).

TAMPIL spektakuler, seka gong legendaris duta Kabupaten Badung yakni Seka Gong Candra Pangan, Banjar Tagtag, Desa Sibanggede, Kecamatan Abiansemal, di Gedung Ksirarnawa dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022, Senin (20/6/2022), tidak hanya memukau di hadapan publik. Seka gong yang terbentuk sejak zaman penjajahan Jepang itu sekaligus sukses menunjukkan grupnya eksis bahkan hingga generasi ketiga. Seka gong yang awalnya bernama Seka Gong Putra Jaya di era 1940-1950-an ini ternyata memiliki banyak kisah dalam pembentukannya. Karena mampu bertahan hingga tiga generasi, DENPOST.id pun ingin tahu lebih dalam kisah pelaku sejarah seka gong yang sudah melanglang buana ke berbagai daerah ini.

Melalui sebuah informasi dari masyarakat di Desa Sibanggede, DENPOST.id bertemu dengan para seniman Seka Gong Candra Pangan. Salah satunya adalah I Nyoman Paing. Pria kelahiran tahun 1942 ini merupakan generasi kedua dari Seka Gong Candra Pangan sekaligus sempat sebagai kelian Seka Gong Candra Pangan.

Menurut Paing, ada kisah menarik saat pemberian nama seka gong tersebut. Paing menuturkan, nama Candra Pangan ini diambil karena saat pembentukannya ada fenomena alam gerhana bulan. “Pembentukan nama Candra Pangan ini awalnya memang unik. Nama itu terbentuk pada tanggal 8 Agustus 1960. Ketika itu ada gerhana bulan atau istilah orang bali menyebutkan bulan kepangan. Jadi kami ambil kata ‘pangan’-nya saja dan ‘bulan’-nya diganti dengan kata ‘candra’. Candra juga dalam bahasa kawi adalah bulan. Kemudian terbentuklah nama Seka Gong Candra Pangan menggantikan nama Sekaa Gong Putra Jaya,” papar Paing, saat ditemui di kediamannya di Banjar Tagtang, Desa Sibanggede, Abiansemal.

Baca juga :  Koster Rayu Menteri Bappenas Kucurkan APBN ke Bali

Lebih lanjut pria yang kesehariannya bekerja sebagai petani ini juga menuturkan pengalaman pentas sekanya yang melanglang buana hingga ke Jawa Timur dan Sumatra. “Kalau di Bali kami sudah banyak pentas di berbagai tempat, bahkan seka gong kami menjadi Juara festival Gong kebyar se-Bali pada tahun 1978, saat itu digelar di Buleleng. Seka gong ini juga pernah pentas keluar Bali. Kala itu tahun 1957 ayah saya yang masih menjadi anggota seka gong tampil di Sumatera. Kemudian pada tahun 1978 saat saya sudah menjadi anggota pernah pentas di Jombang, Jawa Timur,” kenangnya.

Paing mengungkapkan, saat melakukan pementasan ke Desa Jombang, semua anggota seka melalui jalur darat. “Kala itu anggota seka diangkut bus dan truk. Mereka yang tidak mendapat kursi di bus, terpaksa harus berada di truk bersama alat gamelan yang kita bawa ke sana. Secara bergilir sekitar 40 anggota seka ada yang berada di truk, ada yang berada di bus. Saat itu saya dapat giliran naik di truk ketika pulang dari Jombang ke Bali,” tuturnya, mengenang suka duka ketika pentas keluar daerah.

Baca juga :  Sekda Adi Arnawa Ditunjuk Jadi Narasumber "Indonesian Development Talk"

Lantas apa yang membuat seka gong ini bisa bertahan hingga tiga generasi? Ditanya begitu, Paing mengatakan, ada aturan yang mengikat di Banjar Tagtag, yakni krama banjar diwajibkan setiap KK-nya ikut menjadi anggota seka. Menurut Paing, anggota seka ini berasal dari tiga banjar yakni Banjar Pande, Banjar Badung dan Banjar Tagtag. “Kita juga buat seka gong untuk generasi mudanya sehingga Seka Gong Candra Pangan ini ada yang diwariskan turun temurun dan tidak bubar kelak di kemudian hari,”’ paparnya.

Baca juga :  Cok Ace Sebut Isolasi Bali Bergantung pada Ini

Eksistensi para pegiat seni di Badung tak luput dari perhatian Pemerintah Kabupaten Badung. Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, Gede Eka Sudarwitha, mengungkapkan, perhatian terhadap seniman maupun seka gong legendaris sudah dilakukan pemerintah dengan memberikan ruang seka atau seniman untuk mengaktualisasikan diri. Selain itu pemerintah juga telah memberikan perhatian dalam bantuan peralatan seni untuk para seniman maupun sekaa gong di Badung. “Ke depan kita akan programkan seniman-seniman kita bagaimana dapat berkreasi dan berkreativitas serta dapat menunjang kesejahteraan seniman tersebut. Kita berkeinginan memberikan honor kepada pelaku seni, namun dasar aturannya belum ada untuk memberikan itu. Kalau untuk seperangkat gong atau gamelan itu sudah kita lakukan bahkan tahun lalu kita kucurkan dana untuk itu sebesar Rp 4 miliar lebih di sejumlah seka gong di Badung,” kata mantan Camat Petang tersebut. (dewa sanjaya)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini