Rugi Miliaran Rupiah, Peserta Investasi Pohon Jabon Lapor Polisi

picsart 22 06 30 16 57 39 124
MELAPOR - Peserta investasi pohon jabon membuat laporan ke Polda Bali karena merasa ditipu.

Kereneng, DENPOST.id

Puluhan warga Bali mengaku menjadi korban penipuan investasi pohon jabon di Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Para peserta investasi yang mengaku mengalami kerugian hingga Rp 4 miliar tersebut, melaporkan dugaan penipuan itu ke SPKT Polda Bali, Kamis (30/6/2022) siang.

Seperti diungkapkan salah satu korban, I Gede Putu. Dia mengaku mewakili sekitar 23 orang korban melaporkan orang yang mengajak atau menawarkan investasi pohon jabon tersebut bernama Made Robert atau Made Su. “Saya dan puluhan korban lainnya mengalami kerugian yang cukup besar. Alasan kami melapor untuk menuntut keadilan dan uang kami dikembalikan,” kata Gede Putu yang didampingi penasihat hukumnya, I Wayan Gede Mardika.

Gede Mardika menambahkan, laporan polisi yang dilayangkan ke Polda Bali merupakan langkah terakhir setelah sebelumnya para pelapor melakukan berbagai upaya, namun tidak membuahkan hasil. “Para korban juga pernah melayangkan somasi, namun tetap saja tidak menemukan jalan terbaik,” katanya.

Mengapa dilaporkan di Bali, sementara lokasi investasi di Mamuju? Ditanya begitu, Mardika mengatakan karena semua transaksi dalam investasi itu dilakukan di Bali dan semua pelapor berada di Bali. Sedangkan Mamuju hanya letak tanah tempat pohon jabon ditanam. “Jumlah korban lebih dari 50 orang. Hanya 23 korban di bawah kuasa saya. Dan, semua korban berasal dari Bali,” ucap Gede Mardika.

Baca juga :  Pengeroyok Pasangan Kekasih di Jalan Simpang Teuku Umar Ditangkap

Lebih lanjut dikatakannya, dugaan penipuan yang dialami para pelapor ini terjadi sudah sejak lama. Awalnya para pelapor diajak oleh Robert melalui Business Owner School. Para pelapor diajak ikut seminar dan memperkenalkan investasi pohon jabon. Robert menjanjikan keuntungan yang menggiurkan. Untuk lebih meyakinkan, Robert mengajak para pelapor ke Mamuju untuk mengecek langsung lahan yang disediakan untuk menanam pohon jabon.

Kemudian, lanjut Mardika, Robert memperkenalkan lahan seluas satu hektare yang bisa ditanami pohon jabon sebanyak 800 pohon. Perhitungannya akan menghasilkan keutungan sekitar Rp 582.400.000 per lima tahun untuk masing-masing investor atau pelapor. “Dengan penjelasan yg sangat meyakinkan dari Robert selaku pengurus perusahaan, dan mendapati lahan semua sudah siap tanam dan melihat bibit bibit pohon jabon, akhirnya para korban percaya. Dan para korban melakukan transaksi pembayaran dengan Robert,” ucapnya.

Baca juga :  Penanganan Pandemi Jadi Tolok Ukur Dibukanya Kunjungan Wisman

Setelah lima tahun berlalu, kata Mardika, rupanya Robert tidak menepati perjanjian. Dan keutungan investasi dari hasil panen dari pohon jabon tidak diberikan ke para pelapot. “Setelah ditanya oleh para korban, Robert mengatakan gagal panen dan siap ganti rugi. Seterusnya, Robert hanya janji dan janji tanpa ada hasil,” ujarnya.

Setelah terus dijanjikan tanpa kepastian, akhirnya para pelapor melayangkan somasi. Sayangnya somasi itu juga tidak membuahkan hasil hingga akhirnya membuat laporan polisi ke SPKT Polda Bali.

Baca juga :  Bunda Putri Ungkap Alasan Kain Endek Mesti Dilindungi

Sementara itu Kabid Humas Polda Bali, Kombes Syamsi, saat dimintai konfirmasi belum memberikan keterangan resmi terkait laporan tersebut. “Baru dilaporkan, saya konfirmasi dulu. Setiap laporan masuk, maka akan dipelajari dulu sebelum diproses ke tahap berikutnya,” tegasnya. (124)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini