Sanghyang Jaran di Pura Puseh Sari Banjarangkan Kembali Dipentaskan

picsart 22 06 30 17 14 30 431
TARI SANGHYANG - Tari Sanghyang Jaran di Pura Puseh Sari Banjarangkan kembali dipentaskan pada saat pujawali di Pura Puseh Taman Sari, Desa Adat Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Rabu (29/6/2022) malam.

Semarapura, DENPOST.id

Tari Sanghyang Jaran di Pura Puseh Sari Banjarangkan kembali dipentaskan pada saat pujawali di Pura Puseh Taman Sari, Desa Adat Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Rabu (29/6/2022) malam. Tari sakral ini dipentaskan satu tahun sekali untuk menetralisir bumi dan menolak bala (penyakit) untuk warga Desa Banjarangkan.

Tarian ini memiliki makna spiritualitas dan religiusitas yang tinggi dan merupakan warisan pengempon Puseh Sari. Tarian ini dilengkapi dengan pelawatan Ida Batara berupa kuda yang terbuat dari kayu, beserta atribut lainnya dengan tiga jenis warna sanghyang yakni Sanghyang berwarna putih, Sanghyang berwarna kuning, dan Sanghyang berwarna poleng (hitam putih).

Bendesa Adat Banjarangkan, AA Gede Dharma Putra, mengatakan, pementasan Sanghyang Jaran dilakukan melalui serangkaian upacara yang kompleks. Dikatakannya, tarian ini termasuk tarian wali karena memerlukan serangkaian upacara untuk mementaskannya.

“Sanghyang Jaran ini diturunkan atau napak pertiwi untuk menetralisir bumi dan menolak bala,” ungkap AA Dharma Putra.

Baca juga :  Bubarkan Freestyle, Satlantas Polres Klungkung Sita 20 Motor

Menurut AA Dharma, proses ritual Sanghyang Jaran diawali dengan persembahyangan bersama yang dipimpin pemangku pemucuk Pura Puseh Sari. Setelah sembahyang berakhir, seka kidung sanghyang kemudian duduk bersila tepat di depan bangunan pelinggih pengaruman yang saat itu terdapat pengasepan di atas sebuah dulang.

Penglingsir kemudian memolesi pamor ke tubuh seka kidung dan penari yang sudah kerangsukan dengan tapak dara yang telah disiapkan. Ketika bara api sudah siap, maka seka kidung yang terdiri dari teruna teruni, mulai melantunkan nyanyian pemanggil roh sanghyang. Sanghyang Jaran baru akan beraksi ketika lagu sudah dimulai.

Baca juga :  Hotel Menolak, Warga Tak Bergejala Isolasi di Rumah

Semakin lama tempo dan irama nyanyian semakin kencang, sang pemundut (penari) mulai kehilangan kesadaran dengan mengepak-ngepakan badannya layaknya seekor kuda. Semakin lama, tubuh penari semakin kehilangan kontrol untuk menuju ke api.

Puncaknya, sang penari akan melompati dan menginjak-nginjak bara api yang telah disediakan, secara membabi buta. Seketika penari mulai tak sadarkan diri melewati bara api dan jatuh di tengah arena pementasan. Bahkan beberapa di antaranya berjalan di atas bara api yang telah berserakan di tanah.

“Mereka tak merasakan panasnya bara api, tak ada yang terluka, apalagi terbakar. ltulah gambaran sekilas tarian sakral Sanghyang Jaran yang dipentaskan di Jaba Pura Baleagung, Pura Puseh Taman Sari, Desa Adat Banjarangkan, Klungkung,” jelasnya.

Sementara, seka gending kembali melantunkan bait demi bait untuk mengiringi Sanghyang Jaran napak pertiwi. Kidung yang digunakan menggunakan kidung khas yang hanya ada di Pura Puseh Sari. Dari kidung atau nyanyian yang dilantunkan dapat ditafsirkan bahwa Sanghyang Jaran dibangunkan untuk diajak meliang-liang atau melila cita atau jalan-jalan, kemudian diakhiri dengan harapan semua senang, bahagia (pada girang).

Baca juga :  Resahkan Warga, Polres Klungkung Amankan 68 Motor Knalpot Brong

AA Gede Dharma Putra berharap tarian Sanghyang Jaran ini menjadi menjadi tonggak baru bagi kehidupan masyarakat di Desa Banjarangkan ke depan agar lebih maju, makmur dan terlepas dari berbagai petaka. “Perubahan musim yang ekstrem, di mana penyakit dan wabah akan menyelimuti bumi. Untuk mencegah penyebaran penyakit inilah, Sanghyang Jaran diturunkan atau napak pertiwi untuk menetralisir bumi yang sedang mengalami ketidakseimbangan,” pungkasnya. (119)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini