JPU Minta Majelis Hakim Tolak Eksepsi Mantan Bupati Tabanan

ekaku12
JALANI SIDANG - Mantan Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Denpasar, Kamis (30/6/2022). (DenPost.id/ist)

Renon, DenPost

Mengenakan kemeja putih dan celana hitam, wajah muram mantan Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti menjadi sorotan para pewarta saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Denpasar, Kamis (30/6/2022). Sidang kasus dugaan korupsi Dana Insentif Daerah (DID) Kabupaten Tabanan tahun anggaran 2018 ini mengagendakan tanggapan jaksa penuntut umum (JPU) KPK atas eksepsi yang diajukan kuasa hukum Eka Wiryastuti. Sidang dipimpin majelis hakim I Nyoman Wiguna.

Baca juga :  Seorang Preman Tusuk Warga di Monang-Maning

Dalam tanggapannya JPU minta kepada majelis hakim agar menolak eksepsi kuasa hukum Eka Wiryastuti dan menerima seluruh dakwaan JPU. “Meminta majelis hakim agar menolak eksepsi seluruhnya, menerima dakwaan JPU, dan melanjutkan sidang pemeriksaan terdakwa Eka Wiryastuti,” tegas JPU.

Dalam tanggapannya, JPU menyebut bahwa dakwaan telah memenuhi syarat formal dan materil. JPU tidak sependapat dengan kuasa hukum yang menyatakan dakwaan tak jelas dan kabur. Selain itu, JPU menyatakan eksepsi terdakwa mengada-ada karena telah masuk ke pokok perkara. “Kami tidak sependapat soal dakwaan tidak jelas atau kabur. Penuntut umum sudah merumuskan dakwaan secara lengkap dan cermat, memperhatikan fakta formal dan yuridis sesuai penyidikan,” terang JPU.

Ditambahkannya, dalam persidangan pembacaan dakwaan, Eka Wiryastuti sudah memahami apa yang didakwakan kepadanya, sama halnya dengan terdakwa Dewa Nyoman Wiratmaja  (berkas terpisah). “Penasihat hukum terlihat belum mencermati dakwaan penuntut umum secara utuh bahwa terdakwa Eka bersama Dewa melakukan beberapa perbuatan yaitu memberikan uang kepada Yahya Purnomo,” tegas JPU.

Baca juga :  Pakai SS, Oknum Notaris Diamankan Polisi

Setelah sidang, I Gede Wija Kusuma selalu kuasa hukum Eka Wiryastuti mengatakan tanggapan JPU terkesan berbelit-belit atau tidak menjelaskan peran kliennya dalam perkara yang didakwakan. “Dalam dakwaan tidak dijelaskan perannya (Eka). Klien kami tidak kenal dengan Yahya Purnomo. Karena itu kami tetap pada eksepsi kami,” beber Wija Kusuma. (yan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini