Kasus PMK Pengaruhi Penjualan Sapi di Pasar Hewan Beringkit

picsart 22 07 04 16 36 32 338
SEMPROT - Petugas Pasar Beringkit saat melaksanakan penyemprotan terhadap sapi yang baru masuk pasar.

Mangupura, DENPOST.id

Merebaknya kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di sejumlah kabupaten di Bali, tampaknya mempengaruhi penjualan sapi di Pasar Hewan Beringkit. Bahkan, penjualan sapi yang dikelola Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Mangu Giri Sedana disebutkan sebagai pasar hewan yang terbesar di Bali cukup tinggi.

Dirut Perumda Pasar Mangu Giri Sedana, Made Sukantra, mengatakan, mendekati Hari Raya Idul Adha penjualan sapi menjadi memang cukup tinggi. Transaksi di pasar yang buka setiap Minggu dan Rabu ini tembus 700 ekor. “Kemarin itu adalah puncaknya dari hari pasaran yang lain,” terang Sukantra, saat dimintai konfirmasi, Senin (4/7/2022).

Menurutnya, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya memang terjadi penurunan traksaksi. Hal tersebut dinilai terjadi akibat adanya pandemi Covid-19. Penjualan setiap bulannya pun yang biasanya mencapai 25 ribu turun menjadi 6.000 ekor sapi. Apalagi kini ditambah dengan adanya PMK membuat transaksi sapi di Pasar Hewan beringkit menurun hingga berpotensi merugikan Perumda Pasar Mangu Giri Sedana hingga sebesar Rp 2 Miliar.

“Sudah pasti kita mengalami kerugian atau pendapatan berkurang dengan adanya PMK ini. Bahkan pendapatan yang berkurang diprediksi mencapai Rp 2 Miliar. Memang keseluruhan transaksi tahun kemarin sangat jauh berkurang, terutama pada masa pandemi ini. Kalau tidak ada pandemi ada penjualan sebanyak 1.000-2.000 ekor saat pasaran,” bebernya.

Baca juga :  Di Darmasaba, Satgas Covid-19 Terapkan Sanksi Denda 

Terkait transaksi, Sukantra menerangkan, sapi-sapi yang terjual di pasar Hewan Beringkit ini akan dikirimkan ke sejumlah daerah, seperti Surabaya, Bekasi dan Jakarta. Sementara pedagang membawa sapinya dari seluruh daerah di Bali. “Sapi didatangkan dari Karangasem, Bangli, Nusa Penida, Buleleng dan Jembrana,” terangnya.

Meski di beberapa daerah ditemukan kasus PMK, namun Sukantra memastikan tidak ditemukan di Pasar Hewan Beringkit. Selama ini pihaknya telah melakukan langkah antisipasi dengan cara penyemprotan desinfektan. Penyemprotan tersebut menyasar sapi yang baru datang, kendaraan pengangkut, dan seluruh tempat transaksi setelah pasaran.
“Selain itu juga dilakukan pengecekan fisik dari sapi yang didatangkan. Secara kasat mata itu bisa dibedakan dilihat dari mulut sapi berbuih berlebihan, kemudian dari kakinya kalau melepuh, pasti kami tolak,” jelasnya.

Baca juga :  Bandara I Gusti Ngurah Rai Lepas Penerbangan Terakhir ke Tiongkok

Lebih lanjut dikatakan, sampai saat ini belum ada pembatasan dalam penjualan sapi. Namun ia menekankan seluruh sapi yang dapat dijual harus memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan. “Untuk sementara masih belum ada pembatasan. Saat ini masih akan dirapatkan oleh tim Satgas PMK, entah nanti keputusannya seperti apa saya ikuti,” imbuhnya.

Menyikapi kasus PMK yang sudah masuk Bali, Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, mengatakan, penyakit tersebut sudah ditangani dan diobati. “Dari kasus di Kabupaten Gianyar itu sudah kita pantau dan tangani , jadi mudah mudahan tidak ada lagi kasus. Untuk vaksin memang terbatas, karena Bali merupakan zona hijau kausnya baru ditemukan kemarin. Namun, kita juga berkoordinasi dengan pusat agar mendapatkan juga vaksin PMK ini. Kita harapkan dinas-dinas di kabupaten kota lebih atensi lagi untuk melakukan pemantauan. Kami di provinsi tidak bisa memantau di seluruh Bali,” katanya. (115)

Baca juga :  Diduga Komplotan Pembobol Bank, Wanita Asal Ukraina Diringkus di Kuta Selatan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini