Istakari Apresiasi Perjuangan Gubernur Koster di Bidang Seni dan Budaya Bali

kostrenya
REUNI ASUNG ISTAKARI - Gubernur Bali, Wayan Koster didampingi Budayawan Porf.Dr. I Made Bandem, saat menghadiri reuni agung Istakari di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (16/7/2022). (DenPost.id/ist)

Denpasar, DenPost.id

Pengabdian Gubernur Bali Wayan Koster di bidang pelestarian seni budaya Bali mendapat apresiasi dari Ikatan Siswa Tamatan Konservatori Karawitan Indonesia (Istakari) pada Sabtu (16 /7/2022) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, dalam acara reuni agung Istakari. Acara juga dihadiri Putri Suastini Koster, budayawan Prof. Dr. I Made Bandem, dan Ketua Umum Istakari I Wayan Madra Aryasa.

Astakari mengapresiasi Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng, ini karena dalam sejarah perjuangan hidupnya, Wayan Koster aktif menabuh gambelan sejak menempuh pendidikan di SD Sembiran, SMP Bhaktiyasa, Singaraja, hingga dipercaya menjadi Ketua Kesenian Rindik di SMA Negeri 1 Singaraja dan merangkap di SMA TP 45 Singaraja. Koster berlanjut menekuni jiwa seninya saat dia kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), Badung, dengan menjadi Ketua Unit Kesenian Mahagotra Ganesha ITB tahun 1984.

Perjuangan Wayan Koster tidak berhenti di bidang seni budaya saja. Saat memulai karier politik menjadi anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan sejak tahun 2004, mantan peneliti Balitbang Depdikbud RI tahun 1988 – 1994 ini mendapat tugas di Komisi X di bidang pendidikan, kebudayaan, pariwisata, pemuda dan olahraga, dengan menyelesaikan peraturan perundang–undangan yang berkaitan dengan kebudayaan, yaitu UU No.11 Tahun  2010 tentang cagar budaya, dan UU No.5 Tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan. “Saya diwariskan RUU tentang kebudayaan dari DPR RI periode sebelumnya yang tidak pernah jadi-jadi dan tidak pernah mencapai kesepakatan. Namun periode kedua pemerintahan saya di DPR RI, barulah berhasil menyelesaikannya. Ketika itu ada Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dan saya membuat RUU ini yang dinamakan dengan RUU Pemajuan Kebudayaan serta mulai dibahas tahun 2016. Dalam hati saya, UU Pemajuan Kebudayaan ini sangat penting untuk memajukan kebudayaan Indonesia dan kebudayaan Bali pada khususnya. Mengingat pentingnya, saya berjanji memakai UU Pemajuan Kebudayaan untuk maju menjadi Gubernur Bali. Astungkara jadi UU, dan saya ditugaskan menjadi calon Gubernur Bali serta terpilih menjadi Gubernur Bali periode 2018 – 2023,” cerita mantan dosen STIE Perbanas Jakarta; Universitas Pelita Harapan Tangerang; dan Universitas Tarumanegara Jakarta, ini disambut tepuk tangan hadirin.

Terpilih menjadi Gubernur Bali, Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini menjadikan visi ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’ melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru sesuai dengan prinsip Trisakti Bung Karno: Berdaulat secara Politik, Berdikari secara Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan sebagai roh pembangunan daerah Bali, karena menyadari penuh kekuatan Bali ada di kebudayaan. “Bali tidak memiliki sumber daya alam, namun Bali dari seluruh wilayah di Indonesia, hanya memiliki anugerah yang luar biasa dengan kekayaan adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan local, yang sangat kuat dan tumbuh di desa adat,” tegas Gubernur Koster di hadapan anggita Istakari.

Baca juga :  Pemkot Sudah Kantongi Rp 66 Juta dari Pelanggar Prokes

Dia juga menyatakan itulah sebabnya, ketika dia menjadi Gubernur Bali mengeluarkan: Perda Provinsi Bali No.4 Tahun 2019 tentang desa adat di Bali; Perda Provinsi Bali No.4 Tahun 2020 tentang penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali; Pergub Bali No.79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali; dan Pergub Bali No.80 Tahun 2018 tentang pelindungan dan penggunaan bahasa, aksara, dan sastra Bali, serta penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali yang merupakan pilar utama untuk melestarikan dan mengembangkan budaya lokal Bali. “Jadi Bali harus bisa memastikan diri agar survive secara berkelanjutan dengan kebudayaannya sendiri,” tegasnya.

Baca juga :  Tangkal Penyebaran Covid-19, Ini Langkah Polisi

 

Lebih lanjut Koster mengatakan, dalam pelestarian seni budaya Bali tidak hanya dilaksanakan di desa adat, tetapi juga ada institusi yang melestarikannya yaitu sekolah seni. “Dulu pernah saya dengar ada Kokar (Konservatori Karawitan), kemudian bersyukur juga kita punya ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) atau yang sekarang disebut ISI (Institut Seni Indonesia) Denpasar. Saya berpesan kepada Prof. Made Bandem agar ISI jangan berubah menjadi universitas, tetapi harus tetap menjadi Institut Seni agar tidak kehilangan unteng (jati diri). Karena ini adalah salah salah satu instrumen kita untuk menjaga budaya Bali, sekaligus memajukannya ke depan dengan kreasi dan inovasi mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA,” pesan Gubernur Bali tamatan ITB  ini.

Baca juga :  Dalami Unsur Kelalaian, Polisi Panggil Bos Perusahaan Bus Maut

Sedangkan Ketua Umum Istakari I Wayan Madra Aryasa menyampaikan bahwa Istakari siap bersinergi dengan pemerintah dalam upaya mengembangkan dan melestarikan tradisi dan budaya Bali untuk mewujudkan visi pembangunan Bali ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Dalam reuni agung Istakari ini juga dimeriahkan oleh Putri Suastini Koster dengan membacakan puisi berjudul ‘’Sumpah Kumbakarna’’ yang diiringi musik gambelan siswa-siswi SMKN 5 Denpasar. (dwa)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini