Kadisperinaker Badung Perjuangkan Nasib 42 Ribu Naker yang Dirumahkan

rehat (eka merthawan)
Ekia Merthawan

Mangupura, DenPost.id

Kasus antara karyawan dengan perusahaan di Badung pascapandemi covid-19 terbilang sangat kecil. Hal itu karena Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Badung mengajak semua pihak agar menyelesaikan perselisihan secara win-win solution (sama-sama untung). Untuk itu Kadisperinaker Badung Putu Eka Merthawan berjuang keras agar nasib para tenaga kerja (naker) yang sempat dirumahkan selama pandemi, bisa bekerja kembali di tempat kerja masing-masing. Dia tak ingin permasalahan naker berkepanjangan karena dapat berdampak luas bagi Badung. ‘’Kami berikan pendampingan para naker dengan perusahaan, apalagi UU Cipta Kerja memberi keyakinan kepada kita agar tercapai win-win solution,’’ tegas mantan Kadis Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ((DP2KBP3A) Badung ini.

Menurut dia, menomorsatukan penyelesaian antara para naker dengan perusahaan ini merupakan perintah Bupati Badung Nyoman Giri Prasta. Intinya Disperinaker diminta berjuang agar semua naker terlindungi. Tak hanya bagi naker, pihaknya juga memberi pendampingan (sebagai mediator) kepada perusahaan agar penyelesaian kasus ketenagakerjaan jangan sampai masuk meja hukum. ‘’Kalau bisa selesaikan di kantor dengan duduk manis. Kita sudah sakit akibat pandemi, buat apa lagi bikin masalah di Badung?’’ beber Eka Merthawan, Kamis (21/7/2022).

Baca juga :  Gubernur Koster Ajak KONI Solid Majukan Prestasi Olahraga

Dia berharap agar semua komponen pariwisata melapor ke Disperinaker apakah usahanya sudah dibuka atau belum? Jika sudah buka, pengusaha diharapkan segera melapor lewat mekanisme Google Form. Menurut dia, sejauh ini sebagian kecil pengusaha yang sudah melapor. Walau demikian, Eka Merthawan menghargai langkah itu sebagai niat yang sangat baik. ‘’Dari empat puluh dua ribu naker di Badung yang sempat dirumahkan saat pandemi, baru empat ratus orang yang melapor lewat Google Form,’’ tegasnya.

Namun pihaknya melihat dari segi faktual di lapangan, sudah ada perkembangan menggembirakan. Jika pekan lalu, baru 22% (9.000) dari 42 ribu naker yang dirumahkan yang melapor, sekarang naik menjadi 30%. Sesuai indikator terukur dengan sistem sampling di lapangan, menunjukkan bahwa beberapa usaha pariwisata sudah buka, namun rekrutmen naker tidak maksimal. Pihaknya tak semata-mata menyalahkan pengusaha, karena mereka tentu tak mau gegabah membuka usaha karena kunjungan wisdom maupun wisman ke Bali belum normal.

Baca juga :  Gempa Bumi Tektonik M=4,4 Dirasakan di Kuta

Seperti diketahui, di antara delapan kabupaten plus satu kota di Bali, Badung-lah yang paling merasakan dampak pandemi covid-19. Hal itu karena usaha pariwisata terbanyak ada di kabupaten ini. Menurut Eka Merthawan, di antara enam kecamatan di Badung, tiga di antaranya yang paling terdampak yakni Kecamatan Kuta Selatan, Kuta, dan Kuta Utara. Di ketiga kecamatan ini ada sekitar 300 jenis usaha hotel, restoran, dan usaha lain, yang menyerap hampir 117 ribu naker. Dari jumlah naker sebanyak itu, selama tiga tahun terakhir ini mampu menghasilkan PAD sebesar Rp 6 triliun lebih. Namun sejak pandemi melanda dunia, PAD Badung menurun drastis. ‘’Kondisi inilah mendorong Bupati Badung Bapak Giri Prasta mengadakan restrukturisasi atas berbagai komponen sehingga sakitnya Badung bisa segera terobati,’’ tambahnya.

Baca juga :  Bali Resmi Turunkan Harga RT-PCR, Lab dan Klinik Mesti Menyesuaikan

Eka Merthawan mengungkapkan bahwa dari 117 ribu naker di tiga kecamatan tadi, 42 ribu di antaranya dirumahkan akibat pandemi. Jumlah itu bukanlah sedikit bagi Badung yang jumlah penduduknya 500 ribu. Bupati Badung lalu menjalankan strategi khusus agar ke-42 ribu naker yang dirumahkan ini bisa terserap kembali di berbagai sektor usaha seperti pariwisata, perdagangan, jasa, dan industri. (yad)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini