Karena Ini, Pecandu Narkoba Bisa Bebas Proses Hukum

picsart 22 07 26 13 25 33 131
Kepala BNNP Bali, Brigen Gde Sugianyar Dwi Putra

Kereneng, DENPOST.id

Kasus penyalahgunaan narkoba termasuk paling tinggi dibandingkan kasus pelanggaran hukum lainnya. Dilihat dari jumlah napi di LP Kerobokan dan LP lainnya di Bali, hampir dipenuhi oleh tahanan kasus narkoba. Menekan kelebihan kapasitas tahanan narkoba di lapas, petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) memberikan rekomendasi asesmen terhadap para pecandu yang menjalani proses hukum di kepolisian.

Kepala BNN Provinsi Bali, Brigjen Gde Sugianyar Dwi Putra, mengatakan, rekomendasi asesmen tersebut untuk membebaskan para pecandu narkoba dari jerat hukum. “Meski demikian perlu saya perjelas, di mana penerbitan asesmen tersebut berdasarkan dua hal yakni dari sisi hukum dan kesehatan,” katanya, Selasa (26/7/2022).

Baca juga :  Dicurigai Corona, ABG Asal Demulih, Bangli, Diobservasi di RSUP Sanglah

Dari sisi hukum, lanjut mantan Kabid Humas Polda Bali ini, akan dilihat apakah para penyalahguna ini termasuk bandar atau tergolong pengedar. Sedangkan dari kesehatan, sejauh mana tingkat ketergantungan para penyalahguna. “Jika termasuk pengedar dan bandar, maka proses hukumnya tetap lanjut. Jika hanya pengguna tanpa terlibat jaringan maka proses hukumnya tidak dilanjutkan dan dilakukan proses rehabilitasi,” bebernya.

Dikatakannya, proses asesmen dilakukan setelah enam hari pelaku ditangkap. Lebih dari itu, penyidik harus menentukan proses hukum selanjutnya. “Jika jumlah barang bukti narkobanya besar, maka rehab bisa dilakukan dari sisi medis. Tapi tidak menghilangkan proses hukumnya,” kata Sugianyar.

Baca juga :  Prof. Wayan ‘’Kun’’ Adnyana Kini Rektor ISI Denpasar Pascadilantik Mendikbud

Dilanjutkannya, BNN hanya menerbitkan rekomendasi asesmen, bukan menentukan kasus hukumnya. “Nanti yang menentukan dilanjutkan atau tidak proses hukumnya adalah penyidik di kepolisian yang melakukan penangkapan. Jika tidak terlibat jaringan, tentunya kasusnya tidak dilanjutkan,” imbuhnya.

Langkah rehab dilakukan untuk menekan jumlah narapida di LP. Karena hal itu menyebabkan pihak lapas kesulitan untuk membina dan memasyarakatkan para napi narkoba. “Di lapas juga ada program rehab yang dilakukan pihak lapas bekerjasama dengan BNN. Yang direhab para napi yang kecanduan narkoba sebelum dibebaskan. Program rehabnya selama enam bulan,” tandas Sugianyar. (124)

Baca juga :  Kepala TK Mengaku Dianiaya Wali Murid

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini