Ngangkid Tulang, Awali Prosesi Ngaben Massal di Desa Adat Nyanglan

picsart 22 07 26 15 04 58 387
NGANGKID TULANG - Prosesi ngangkid tulang di Setra Desa Adat Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung dan Desa Nyanglan Kaja, Tembuku, Bangli, Selasa (26/7/2022).

Bangli, DENPOST.id

Desa Adat Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung dan Desa Nyanglan (Nyanglan Kaja), Kecamatan Tembuku, Bangli tahun ini kembali menggelar ngaben massal sawa prenawa dan atma wedana. Sebanyak 57 sawa prenawa dan 88 pitara ikut dalam upacara yang biasa digelar dalam kurun waktu 4-5 tahun sekali itu. Selasa (26/7/2022), rangkaian ngaben massal diawali dengan  ngangkid (menggali tulang), untuk selanjutnya dibersihkan dan diupacarai.

Sejak pagi, warga terutama yang memiliki sawa sudah memadati kuburan kuburan setempat. Kuburan dibongkar dan tulang sawa yang dikubur diambil dan dikumpulkan. Jika ada sawa yang belum lama dikubur dan kondisinya masih utuh, maka langsung dibakar, kemudian diambil serpihan-serpihan tulangnya.  “Bau sudah pasti, tapi itu sudah menjadi keharusan dari pihak keluarga yang punya untuk mengurusnya,” sebut Bendesa Gede Desa Adat Nyanglan, Jero Mangku Nengah Suanda, didampingi Prajuru Nyanglan Kaja I Nyoman Sonder dan I Wayan Surastra.

Dahulu, lanjut Jero Bendesa, jika ditemukan kondisi seperti itu maka pihak keluarga akan memotong-motong raga sawa tersebut seperti tukang jagal. Kemudian kulit dan dagingnya dikuliti untuk didapatkan hanya tulang-tulangnya saja. Namun seiring perkembangan zaman dan juga terkait unsur kesehatan, metode tersebut sudah tak dipergunakan lagi. Jika raganya masih utuh, saat itu juga langsung dibakar.

Seperti yang nampak pada proses ngebet kemarin, di mana beberapa sawa masih ditemukan dalam kondisi utuh atau separuh utuh. Terutama mereka yang meninggalnya baru hitungan di bawah satu tahun dan diformaline. Ada pula mayat yang terkubur masih dalam peti terutama mereka yang sebelumnya meninggal karena terpapar virus Covid-19. Selain dalam peti, mayatnya juga dimasukan dalam kantong jenazah yang berbahan plastik tebal, sehingga menghambat proses pembusukan. Karenanya, masing-masing keluarga yang sudah memperkirakan kondisi itu, sudah bersiap menyediakan set kompor untuk pembakaran. “Begitu peti dibuka, mayatnya diangkat dan diletakan di tanah. Langsung dibakar, tanpa membuka kantong plastiknya,” jelas mantan Perbekel Desa Adat Nyanglan dua periode ini.

Baca juga :  Akses Jalan Menuju Tiga Desa di Kintamani Ditutup Sementara

Untuk kali ini jumlah sawa yang diangkid atau digali sebanyak 30 untuk krama yang masuk wilayah Banjar Tengah dan Kelod (masuk wilayah Klungkung) dan 18 untuk krama dari Banjar Kaja (Nyanglan Kaja, Bangli).

Dijelaskan pula, kali ini ngaben massal dari tiga banjar dilakukan bersamaan. “Kalau sebelum-sebelumnya tidak berbarengan. Paling tidak beda setahun. Tapi kali ini kami lakukan bersamaan. Pertimbangannya untuk semakin menyatukan ketiga banjar supaya terjalin kesatuan, keharmonisan meski berada di wilayah pemerintahan yang berbeda,” katanya.

Baca juga :  Beralasan Kepepet Penuhi Kebutuhan Hidup, Pelaku Bobol Kotak Sesari Dua Pura

Tulang-tulang yang sudah digali, semuanya diletakkan di tempat khusus yang sudah dibuatkan sebelumnya di setra. Sementara puncak ngaben dilaksanakan pada Sukra Umanis Merakih, Jumat (29/7/2022). Tiga bade besar dipersiapkan untuk mengusung seluruh alang-alang yang disimbolkan sebagai tulang. Sampai di setra digantikan dengan tulang yang asli kemudian dipindahkan ke kotak tempat pembakaran.

Setelahnya juga akan dilangsungkan prosesi memukur. “Jumlah tulang yang digali lebih sedikit dari jumlah sawa yang diaben. Sebab yang meninggal baru-baru (kurang dari 6 bulan, langsung dibakar namun jenis bantennya seperti banten untuk penguburan. Begitu pula yang ikut memukur lebih banyak, karena ada beberapa krama sebelumnya telah melaksanakan ngaben secara pribadi,” jelasnya.

Baca juga :  Diguyur Hujan, Tembok Penyengker Warga Sekardadi Ambrol

Memukur ini nantinya juga diikuti dengan proses metatah massal serta ritual manusia yadnya lainnya seperti tiga oton, tiga bulan anak dan lainnya. “Ngaben massal maupun upacara manusia yadnya massal lainnya sangat membantu para krama, karena biaya yang dihabiskan masing-masing jauh lebih sedikit jika dilaksanakan secara pribadi. Malahan ritual manusia yadnya yang dilakukan secara massal ini jauh lebih utama dibandingkan yang pribadi, karena banten upakara paling lengkap, dan dipuput sulinggih secara lengkap dan tentu lebih dari satu sulinggih, biasanya tiga sampai empat sulinggih,” pungkasnya. (way)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini