Kabalitbang Badung I Wayan Suambara: Pertahankan Pariwisata, Kembangkan Sektor Pertanian

bara
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kabupaten Badung Dr.I Wayan Suambara

HAMPIR tiga tahun dilanda pandemi covid-19, lingkungan Pemkab Badung sangat merasakan bahwa banyak program yang telah direncanakan oleh pemda sebelumnya tak bisa jalan sesuai harapan. Namun, menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kabupaten Badung Dr.I Wayan Suambara, Senin (1/8) kemarin, Badung masih bisa bersyukur karena beberapa program pemerintah berupa kegiatan belanja yang bersifat wajib seperti pendidikan dan kesehatan masih bisa didanai. Bahkan untuk mendanai itu, para pegawai di lingkungan pemkab setempat ikut berkontribusi menopang pembangunan. Bentuk kontribusinya yakni pendapatan/gaji yang mereka terima setiap bulan disumbangkan untuk membiayai kegiatan pemerintah.

Persoalannya sekarang, pariwisata belum pulih seperti masa-masa yang lalu. Secara perlahan memang mulai ada kunjungan, tapi tidak terlalu banyak. ‘’Kalaupun ada kunjungan tentu harga jual hotel maupun restoran tidak masih seperti dulu. Dengan demikian pendapatan para pengusaha di sektor pariwisata belum sepenuhnya pulih,’’ tegas Suambara.

Menurut dia, tantangan dan pertanyaan besar yang kini muncul sampai kapan kondisi seperti ini akan berlangsung? Sampai kapan sektor pariwisata bisa normal seperti dulu atau sebelum covid-19?

Untuk itu, pihaknya di Balitbang Badung mencoba berdiskusi dengan tim setempat dan para ahli. Pendapat mereka ternyata bervariasi. Ada yang menyebut bahwa pariwisata bisa tumbuh sekitar tahun 2024. Ada juga yang berpendapat bahwa situasi mungkin agak berat dan panjang karena kita tidak tahu sisa waktu pandemi. Belum pula dengan munculnya perang atau penyakit baru lainnya. Tetapi apa pun yang terjadi dari semua itu, tentu harus dijalani. Suambara menyebut bahwa sesuai hasil diskusi dengan para pakar atau ahli bahwa Bali, khususnya Badung, tak bias begitu saja meninggalkan sektor pariwisata, karena masih ada peminatnya. Pariwisata harus terus berjalan, karena sebagian besar sumber penghidupan masyarakat kita dari sektor pariwisata.

Sesuai hasil diskusi pula, tambah Suambara, bahwa Badung atau Bali perlu menyikapi isu nasional dan internasional yakni mengenai ketahanan pangan. Persoalan ini harus disikapi oleh semua pihak, baik pemdes, pemerintah kecamatan, pemkab, hingga provinsi. Kusus untuk di Badung, isu ketahanan pangan ini sudah disikapi dengan cermat. Khusus untuk pengembangan sektor pertanian, Pemkab Badung harus terlibat langsung. Artinya pemerintah tak cukup memberi bantuan bibit, pupuk, pendampingan atau hibah, tapi harus menjadi bagian dari pelaku sektor pertanian. Konsepnya ini sering disebut corporate farming. Dimana pemerintah dan masyarakat menjadi bagian dari usaha itu, sehingga mereka bergerak bersama dalam sektor yang sama. Kebetulan Pemkab Badung mempunyai manajemen, tata kelola, dan SDM yang memadai sehingga garbong masyarakat yang bergerak di sektor pertanian bisa ditarik secara bersama-sama.

Baca juga :  Abaikan Larangan Jam Buka, Pedagang di Jimbaran Disanksi Bersih-bersih

Kendati Badung punya lahan yang sempit, menurut mantan Kepala Bappeda Badung, ini sektor pertanian masih sangat memungkinkan untuk dikembangkan. Kita sejatinya masih bisa bersyukur walau punya lahan yang sempit ketimbang negara-negara maju yang tak punya lahan. Mereka justru tetap memepertahankan dan mengembangkan pertanian hingga melahirkan produk pertanian unggulan.

Suambara menambahkan konsep dari hulu hingga hilir juga harus diterapkan masyarakat. Dia memberi contoh Agro Techno Park di Petang. Tanah warga setempat disewa pemerintah sesuai peraturan perundang-ungangan. Setelah itu petani dipekerjakan sebagai tenaga kontrak dan membentuk koperasi yang berbadan hukum. Konsep (corporate farming) ini sangat tepat dilaksanakan karena pemerintah dan warga sama-sama terlibat.

Baca juga :  Pertama Kali Digelar di Luar Eropa, VWD 2022 Tampilkan Vespa Superlangka

Mengenai pariwisata, Suambara menyebut agar jangan diabaikan begitu saja. Pariwisata tetap jalan dan dijaga dengan baik, tapi pertanian juga tetap dibangun, diperkuat, dan dikembangkan. Dia mengistilahkan dengan dekonstruksi pembangunan pariwisata Bali yakni penataan ulang lagi seperti menerima turis berkualitas dan bukan turis massal. Menurut dia, Bali tak perlu terlalu banyak turis, namun masa tinggal mereka bagus, dan pembelajaan bagus, sedangkan pertanian ditata lagi dengan konsep modern.

Baca juga :  Fluktuatif, Kunjungan Wisdom Via Bandara

Balitbang juga telah mempersiapkan konsep pemikiran untuk membangun  Badung lima tahun ke depan. Problematikanya sekarang, insfrastruktur tidak memadai. Belajar dari fakta bahwa Kuta, Legian, Seminyak, kemudian Pererenan, hingga Munggu, bagaikan balon yang dipencet (sebagian menggelembung dan sebagian kempes), maka Balitbang menyarankan Badung agar memuat gambar trase jalan. Misalnya jalan di Badung barat mendekati pembangunan jalan tol Mengwi-Gilimanuk atau akses jalan yang mempermudah transportasi. Badung perlu memikirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. ‘’Memang semua berubah tapi didesain sedemikian rupa. Konsep menyusun kebijakan publik berdasarkan suatu kajian, bukan dadakan. Jangan membangun dengan cara akrobat, tapi by-design yang matang,’’ tandas Suambara. (yad)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini