Pengabdian Berujung Adi Sewaka Nugraha untuk I Ketut Muka Pendet

pendet
Dr.I Ketut Muka Pendet

BERKAT kecintaan dan pengabdiannya yang cukup lama di bidang seni, Dr.I Ketut Muka Pendet memperoleh penghargaan Adi Sewaka Nugraha dari Pemprov Bali. Terlebih jabatannya sebagai Pembantu Rektor (PR) II di ISI Denpasar menuntun kreativitas dan terobosan untuk mencorong para mahasiswa berkarya.

Pengabdian seni Ketut Muka Pendet dimulai saat dia duduk di bangku SMA (dulu SMSR Batubulan). Namun sebelum itu, dia banyak mendalami seni lukis tradisional Bali berkat tempaan sang ayah, Wayan Pendet, yang dikenal sebagai pelukis dan pematung andal di Nyuh Kuning, Ubud. Kreativitas Ketut Muka berlanjut di PSSRD Unud (kini bergabung ke ISI Denpasar) di bidang seni keramik. Walau demikian, dia tak pernah surut menekuni seni patung, khususnya bentuk binatang.

Setelah paham benar tentang patung, keramik, dan lukis tradisional, Ketut Muka kini mengarah ke patung paras (batu padas) dengan teknik casting (cor). Hal ini dia lakukan karena sebelumnya berkembang pesat bahan cor di beberapa desa di Gianyar. Saking larisnya patung-patung teknik casting ini, membuat dia semakin tertantang. Terlebih selama ini banyak bongkahan batu padas yang terbuang percuma. Nah, sisa-sisa buangan batu padas itulah yang diayak sehingga halus lalu dicampur semen. Patung dengan teknik casting ini ternyata banyak disukai konsumen, dan menjadi industri kreatif di Singapadu, Gianyar. Industri ini memang sudah ada sebelumnya, kemudian dikembangkan di Nyuh Kuning, Ubud.

Baca juga :  71 Penghuni Gang Tegalwangi Rapid Test, Begini Hasilnya

Ketut Muka juga membuat beberapa patung secara keroyokan (banyak orang), terutama patung yang ada kaitannya dengan hiasan di pura Dia mengakui ada perkembangan baru berkat pesatnya ilmu pengetahuan yang ditandai dengan lahirnya teknik cetak campuran batu padas dengan berpola atau  berbagai motif. Jika dahulu patung batu padas berbentuk gelondongan (bakalan) dan diukir, namun sekarang dibuat dengan cetakan yang berdetail cermat.

Mengenai minat masyarakat dewasa ini, Ketut Muka menyebut patung hiasan untuk taman rumah atau bongalo yang dicor memang cukup tinggi, karena harganya lebih murah ketimbang patung yang diukir. Namun secara umum, antara patung yang cor dengan batu bata ukir nyaris mirip. Perbedaannya hanya diketahui oleh para seniman. Sedangkan proses produksinya, jauh lebih cepat dengan teknik cor. Ketut Muka menyebut untuk membuat patung Tualen, misalnya, sehari saja para seniman bisa  membuat 10 patung. Sedangkan kalau memahat, maka perlu waktu berminggu-minggu, bahkan bulanan.

Baca juga :  Pilar-pilar Sosial Denpasar Jadi Wadah Partisipasi dan Penyalur Aktivitas Swadaya Masyarakat

Dari segi material pula, para pematung di Singapadu dan Belayu, Tabanan, lebih banyak tertarik dengan teknik casting karena jauh lebih efisien dan lebih mudah mendapatkannya. Juga ada pemasok yang rutin membawakan bahan dengan cepat dan murah. ‘’Bahannya sangat gampang diperoleh dari sisa-sisa penggalian batu padas. Sisa-sisa itu diayak lalu dijual ke pematung per kampil,’’ tandasnya.

Ditanya mengenai kegiatan ngayah di beberapa pura, Ketut Pendet menyebut tak pernah surut. Dia tak hanya mengabdi di Bali, namun juga sampai di luar seperti di Lombok, NTB. Ngayah yang dia lakukan benar-benar berasal dari hati paling dalam, karena melahirkan kebahagiaan tersendiri. ‘’Jadi seniman juga tak boleh sombong, tapi rendah hati dan penuh semangat,’’ bebernya.

Baca juga :  Terapkan Pendataan Laka Online, Polresta Denpasar Raih Ini

Dia memberikan acungan jempol kepada Rektor ISI Denpasar Prof.Dr.Wayan ‘’Kun’’ Adnyana, karena memberikan ruang pameran, khususnya seni lukis, sehingga mampu mengangkat karya seniman Bali. Untuk ke dalam, Ketut Muka saat ini membuat semacam tempat untuk koleksi dan studio seni guna melestarikan kesenian Bali. Dia mendorong para mahasiswa agar mengembangkan diri dan melakukan terobosan, sehingga punya jati diri yang kuat. ‘’Studio saya di Nyuh Kuning, Ubud, juga terbuka untuk tempat berpameran maupun memperdalam seni,’’ tandasnya. (yad)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini