Aksi Kriminal Marak, Warga Kuta Resah

picsart 22 08 09 13 39 17 361
Bendesa Adat Kuta, Wayan Wasista

Kuta, DENPOST.id

Selain meningkatnya kasus jambret atau copet, money changer liar dan sejumlah spa yang diduga mempekerjakan anak di bawah umur juga marak di Kuta. Kondisi ini cukup meresahkan warga Kuta. Hal tersebut diungkapkan oleh Bendesa Adat Kuta, Wayan Wasista.

Dikatakannya, saat ini kunjungan wisatawan ke Kuta sudah mulai ada peningkatan. Kondisi ini dimanfaatkan para penjahat melakukan aksinya terhadap wisatawan asing dan domestik. “Mereka ini adalah pengganggu keamanan terhadap para turis yang berlibur sehingga kami sidak. Ya, warga kami yang melakukan penyisiran beberapa waktu lalu menyusul maraknya aksi kejahatan jalanan,” bebernya.

Baca juga :  Nyepi, BPBD Denpasar Amankan Ular Sanca 3 Meter Masuk Rumah Warga

Menurut Wasista, kejahatan yang paling mendominasi di wilayah Kuta adalah copet, jambret dan money changer liar. Termasuk usaha spa liar yang mempekerjakan anak di bawah umur. “Saya curiga tapi perlu bukti. Mereka-mereka ini juga mempekerjakan anak di bawah umur. Kami dengar-dengar seperti itu, bule-bule sering kehilangan ATM, isi tas diambil dan sebagainya,” ungkapnya.

Wasista mengatakan, warga Kuta tidak melarang orang bekerja atau mencari rezeki di wilayahnya. Selama mereka bekerja dengan baik dan sesuai dengan aturan dan juga turut menjaga keamanan, pihak desa adat setempat tidak mempersoalkannya. “Pihak desa mendukung. Namun jika hal ini kerap menganggu kenyamanan warga dan para turis, pihak desa berjanji akan menindak tegas,” ancamnya.

Baca juga :  Dua KMP Tabrakan di Selat Bali

Diakui Wasista, kejahatan yang terjadi di Kuta sangat beragam tapi banyak yang tidak dilaporkan. Khususnya menimpa warga asing. Sementara lokasi yang menjadi titik rawan aksi jambret dan copet berada di seputaran Legian-Ground Zero-Pantai Kuta. “Di lokasi itu ada diskotek, jadi kalau ada orang atau bule mabuk itu yang jadi sasaran mereka. Kalau di sini kita perketat, biasanya mereka pasti bergeser. Mereka ini pintar juga, mereka pelajari gerak gerik kami saat melaksanakan pengamanan,” terangnya.

Soal money changer liar, lanjut Wasista, sudah sering disidak oleh pihak desa, apabila ada warga asing yang merasa dirugikan. Bahkan money changer liar itu bersedia menggantikan kerugian korbannya. “Jadikan susah dilanjutkan kasus itu. Makanya itu jadi kendala karena mereka money changer penipu itu sudah memberikan ganti rugi,” ujarnya.

Baca juga :  Pandemi, Sekolah di Badung Lakukan Ujian Daring

Wasista berharap, money changer tersebut sadar dan berusaha mengurus perizinan terlebih dahulu kemudian setelah izinnya lengkap baru bisa membuka usaha. “Yang resmi ada sekitar 103, tapi yang liar banyak. Selama mereka belum melengkapi izin, kami Desa Adat bersama BI Kejaksaan Badung akan tertibkan,” tandasnya. (124)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini