PMI Asal Bangli Diduga Terlantar di Turki, Keluarga Minta Pemerintah Bantu Pemulangan

picsart 22 08 15 20 43 25 172
TUNJUKKAN FOTO - Sepupu korban, menunjukkan foto Gusti Ayu Vira, saat masih bisa komunikasi lewat Whatsapp (WA).

Bangli, DENPOST.id

Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Bangli, I Gusti Ayu Vira Wijayantari ABW (23), diduga terlantar dan sakit di Turki. Yang bersangkutan pun menulis surat melalui Whatsapp (WA), yang ditujukan langsung kepada Presiden RI, terkait kondisi yang dialaminya tersebut untuk membantu kepulangannya.

Saat ditemui di rumahnya di Lingkungan Banjar Tegal, Senin (15/8/2022), para awak media hanya bertemu dengan saudara sepupu yang bersangkutan bernama Gusti Ayu Kencana Dewi. Sementara ibu dan adiknya menetap di daerah Denpasar, dan ayahnya sudah meninggal sekitar setahun lalu karena sakit.

Kepada wartawan, Kencana Dewi membenarkan jika sepupunya itu, kini tengah sakit dan kekurangan biaya berobat di Turki. Hal itu, ia ketahui saat yang bersangkutan menghubungi dirinya melalui WA, beberapa bulan lalu. Sementara untuk kondisi terkini, dirinya mengaku tidak tahu lantaran yang bersangkutan tidak bisa dihubungi lagi. “Kurang lebih ada sebulan lalu kita berkomunikasi. Waktu itu, ia (Vira-red) mengaku sedang sakit perut dan muntah-muntah. Ia mengaku sebelumnya sempat ke dokter, tapi karena sekarang tidak ada biaya terpaksa dirawat ditempatnya bekerja. Dari waktu ini, beberapa kali saya hubungi tapi pesanya tidak terkirim,” jelasnya.

Lanjut dirinya menjelaskan jika yang bersangkutan sudah bekerja di Turki sejak satu tahun lalu. “Kalau jelas pekerjaanya saya tidak tahu. Waktu itu, saya tahu ia akan berangkat saat sembahyang dan memohon keselamatan akan berangkat bekerja ke luar negeri di merajan,” ujarnya.

Baca juga :  Begini Situasi Desa Wisata Penglipuran Pascaditutup

Sementara kini keluarga berharap agar Pemerintah RI bisa membatu memulangkan sepupunya itu. Lantaran keluarga tidak memiliki biaya dan khawatir kondisi kesehatanya terus memburuk. “Sepupu saya kondisi sekarang kurus, padahal saat berangkat kondisinya gemuk. Kita sebagai keluarga berharap pemerintah bisa membantu memulangkan sepupu saya tersebut,” harapnya.

Sementara dalam surat yang ditujukan kepada Presiden RI, Joko Widodo tersebut tertanggal 14 Agustus 2022. Gusti Ayu Vira menyebutkan selama di Turki dirinya bekerja sebagai terapis SPA. Dalam surat itu, Gusti Ayu Vira membeberkan kronologi awal dirinya bisa berangkat menjadi PMI ke Turki. Di mana, sekitar tahun 2020, lewat salah seorang kenalan kerabatnya, dirinya ikut pelatihan SPA di Bali Widya Padmi International Spa School yang beralamat Jl. By-pass Ngurah Rai Gg. Sehati No. 18, Denpasar. Sekolah SPA itu disebut milik Anak Agung Raka Murtini.

Sejatinya yang bersangkutan sempat hendak membatalkan keberangkatan ke Turki, sebab ayahnya meninggal. Namun pemilik spa melarang,m dan tetap bersikeras menyuruh dirinya berangkat ke Turki. Pada saat itu, dijelaskan kalau dirinya akan mendapatkan gaji sekitar Rp12 juta, jam kerja hanya 8 jam dan untuk kamar tidur 1 sampai 4 orang saja. Dirinya pun tergiur dan menandatangani kontrak tersebut. “Saya berangkat dengan sistem potong gaji. Lalu saya mengurus Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) pertengahan April, yang mana saat mengurus KTKLN saya tidak diizinkan untuk berkata kalau saya berangkat melalui PT/agent Bu Gung ini, dan saya tidak diizinkan untuk mengatakan alamat PT. dari Bu Gung ini, jika ditanya oleh petugas yang sampai akhirnya pada hari itu kami gagal untuk mengurus KTKLN,” bebernya dalam surat tersebut.

Baca juga :  Kasus LPD Belusung, Enam Orang Saksi Berikan Keterangan

Esoknya, pemilik SPA pun datang langsung membantu untuk mengurus KTKLN, tapi dia mengatakan kalau dirinya adalah keponakannya yang ingin berangkat dan melakukan keberangkatan mandiri. Saat itu, dirinya harus membayar Rp1 juta untuk dilancarkan KTKLN -nya.
Waktu sampai di Turki, dirinya bekerja dengan bos yang bernama Abdulrahman, dan bekerja di Hitel Lonicera. Jam kerja berangkat jam 6 pagi dan pulangnya jam 9 malam, waktu untuk istirahat tidak ada, waktu makan hanya 15 menit. Kantin atau tempat makan sangat jauh, dirinya harus jalan kaki selama 5 menit. Terkadang saya hanya dapat makan sehari sekali dengan alasan karena ramai tamu, kadang saya curi- curi waktu, saya taruh nasi dan lauk di kertas tisu, saya masukan ke kantong, nasi itu saya makan pada saat saya mengambil tamu karena jika tidak demikian maka saya tidak bisa makan seharian. Maka saya tidak ada energi untuk bekerja, libur hanya sekali dalam sebulan, itu pun sangat sulit untuk mendapatkan libur,” ungkapnya lagi.

Baca juga :  Suka Duka Petugas BPBD Bangli, Diumpat Warga Hingga Kuburkan Jenazah Didampingi "Kera Jadi-jadian"

Saat teken kontrak di Bali, tertuliskan gaji 7,155 lira yang pada saat itu harga liranya 1 lira = Rp1,700 total gaji sekitar Rp12 juta tapi kenyataanya saya digaji 300dolar atau Rp4.200.000 dan bulan berikutnya 500 dolar atau Rp7.100.000 dan gajinya pun sering terlambat. Selama dirinya bekerja, pemilik SPA si Bali itu juga sering minta uang. Seperti pada, 8 Juni 2021. Setiap dirinya minta pertanggungjawaban dari Bu Gung tidak ada tanggapan. Pihaknya pun kabur, mencoba mencari pekerjaan di tempat lain, dengan niat hati untuk mengumpulkan uang.

Tapi di bos yang kedua, dirinya tak mendapatkan gaji. Ia pun kabur lagi, mencari bos yang baru sampai berpindah ke bos ke empat. Terakhir inilah dirinya baru bekerja sebulan. Sebab, pada 17 Juli 2022, dirinya jatuh sakit parah. Hingga 13 Agustus 2022, belum dapat bekerja dengan sebagaimana mestinya.

Pada saat ini kondisi kesehatan dirinya semakin parah. Tiap hari muntah, uang untuk biaya pengobatan sudah tidak ada. “Dengan ini saya memohon kepada bapak Presiden untuk memulangkansaya ke Bali, Indonesia,” mohonnya.

Surat ini juga ditembuskan ke Menteri Luar Negeri RI, KBRI Indonesia untuk Turki, Gubernur Bali di Denpasar, Bupati Bangli, dan pers. (128)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini