Terhalang Proyek Tanggul Pantai, Petani Garam Kusamba Nganggur Tiga Bulan

picsart 22 08 24 15 33 01 935
PETANI GARAM - Petani garam di Desa Kusamba, Dawan, Klungkung tidak bisa bekerja karena masih ada proyek tanggul pengaman pantai, Rabu (24/8/2022).

Semarapura, DENPOST.id

Proyek tanggul pengaman pantai oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida membawa dampak besar terhadap sumber mata pencaharian para petani garam di Dusun Karangdadi, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung. Pasalnya, pembangunan tanggul yang menjulang cukup tinggi dan banyaknya material serta alat berat di sekitar lokasi membuat para petani garam kesulitan mengambil air laut.

Seperti yang disampaikan salah seorang petani garam bernama Ketut Kaping, Rabu (24/8/2022). Ditemui di lokasi penggaraman, Ketut Kaping mengaku sudah hampir tiga bulan menganggur atau tidak membuat garam karena ada proyek tanggul tersebut. Apalagi sejak tanggul berdiri kokoh, akses para petani untuk mengambil air laut tertutup karena tinggi. Belum lagi banyak material proyek berserakan dan alat berat masih bekerja di lokasi penggaraman.

Baca juga :  Bank BPD Bali Sebarkan "Virus" QRIS ke Mataram

“Kalau ada tanggul, tempat kami memang jadi aman dari abrasi, tapi akibatnya kami juga tidak bisa bekerja. Saya sudah tua, kalau mau ambil air laut dengan cara dipikul lewat tanggul itu sudah tidak sanggup. Jadi untuk saat ini, saya tidak bisa buat garam,” ujarnya dilema.

Menurut Ketut Kaping, ada sekitar 12 petani garam yang terdampak. Padahal, jika tak ada kendala, saat ini adalah waktu yang tepat untuk membuat garam. Mengingat cuaca sedang cerah, ditambah lagi pesanan terus berdatangan. Baik dari luar Bali, seperti Jakarta ataupun dari pasar-pasar tradisional di wilayah Klungkung serta Gianyar. Apalagi saat ini harga garam Kusamba dengan kualitas satu Rp 40 ribu perkilogram.

Baca juga :  Suwirta Ajak Kepala OPD Sisihkan Pendapatan

“Untuk sementara, stok garam saya sudah habis. Tapi untuk penuhi pesanan, saya ambil stok garam dari petani lain di sekitar wilayah Kusamba. Saya tetap cari garam tradisional, tidak berani campur dengan garam lain. Takut nanti pelanggan kapok, karena mereka tahu kualitas mana garam asli atau oplosan,” bebernya.

Selain berupaya mencari stok garam dari petani lain, Ketut Kaping saat ini tak memiliki pekerjaan lain. Oleh karena itu, dirinya sangat berharap proyek pembangunan tanggul segera rampung. Sebab, sesuai perencanaan para petani akan diberi bantuan berupa pipa untuk mengalirkan air laut ke tempat-tempat pembuatan garam. Apalagi petani garam juga sudah mendapat mesin genset dari Kementerian.

Baca juga :  Rumah BUMN BRI di Sumatera Barat Antarkan Rendang Tembus Pasar Ekspor

“Sekarang kami hanya bisa tunggu sampai proyek selesai. Kami juga sudah dapat bantuan mesin genset dari kementrian. Nanti rencananya ada pipa yang dipasang untuk alirkan air laut,” katanya.

Senasib dengan para petani garam tradisional, program pemerintah berupa pembuatan garam dengan metode tunnel juga terdampak akibat proyek tersebut. Sejak dibangun pada bulan Juni 2022 lalu, para petani garam di pesisir Pantai Karangdadi yang mengelola program tersebut sudah sempat panen perdana. Dengan hasil 200 kilogram dan dijual seharga Rpb20 Ribu per kilogram. Sayangnya, saat ini program tersebut juga tersendat akibat kendala yang sama. Yakni sulit mendapatkan air laut karena pengerjaan proyek tanggul pengaman pantai. (119)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini