Diminta Kosongkan Mes, Ratusan Karyawan Perkebunan Pekutatan Resah

picsart 22 08 31 19 47 08 581
GROUND BREAKING - Lokasi ground breaking jalan tol di Banjar Adat Sumberbaru, Pekutatan.

Negara, DENPOST.id

Pembangunan jalan tol akan segera direalisasikan. Menjelang pembangunan jalan tol dan sarana pariwisata pendukungnya, ratusan warga di tiga banjar adat di Kecamatan Pekutatan, yakni Banjar Adat Sumbermis Banjar Pasar Pekutatan, Banjar Adat Koprahan Pekutatan, serta Banjar Adat Sumber Baru Banjar Swastika Panghyangan, kini resah.

Ini menyusul Direksi Perumda Kerta Bali Sagunan Provinsi Bali, melayangkan surat untuk mengosongkan rumah dinas/mess di kawasan Unit Perkebunan Pekutatan. Karyawan perkebunan yang menampati mes berharap Pemerintah Provinsi Bali, tidak mengabaikan sejarah.

Ketut Dana (46), warga Sumberemis, Selasa (30/8/2022), mengatakan lahan yang mereka tempati turun menurun ini dibuka leluhur mereka sebelum Indonesia merdeka. Menurut dia, mereka sudah 5 generasi tinggal di wilayah itu, jauh sebelum ada Pemprov Bali dan Perusda Bali.

Di jaman penjajahan ratusan tahun lalun leluhurnya dari Karangasem, Bangli dan Buleleng didatangkan ke Pekutatan untuk merambah hutan. Tidak hanya untuk kebun karet, tapi juga diberikan untuk tempat tinggal. Tapi kenapa setelah merdeka, sejarah ini diabaikan. “Justru kami dibuat bergejolak,” tuturnya.

Baca juga :  Oknum Kepsek yang Diduga Cabul Diperiksa Polisi

Kadek Suyasa (56) juga menyesalkan, setelah sumber penghidupan mereka sebagai buruh sadap karet terdampak dan kini tempat tinggal mereka terancam. Kata dia, sekarang penghasilan sehari-hari saja sudah sulit dan pohon karet di jalur tol sudah ditebang. Padahal mereka tinggal di sisi barat jalan. “Lahan untuk pembangunan di timur jalan tidak kurang, masa harus menggusur penduduk,” keluhnya.

Begitupula yang kini dirasakan krama Banjar Adat Koprahan. Salah seorang krama yang enggan disebutkan namanya menyebut ada puluhan KK yang terancam tergusur. Di Koprahan satu banjar adat ada 36 Hindu dan 7 muslim. “Kalau kami digusur, jelas banjar adat ini akan hilang. Kami tidak menolak pembangunan, tapi pikirkan juga nasib kami sebagai masyarakat kecil. Kami tidak tahu harus kemana karena sudah dari turun temurun ratusan tahun di sini. Ini leluhur kami yang buka hutan dulu. Terbukti setiap banjar ada pura kawitannya,” jelasnya.

Baca juga :  Di Bangli, Tiga Pasien Terkonfirmasi Covid-19 Meninggal

Kelihan Adat Sumbermis, I Ketut Murjanan menyebut jumlah krama di wilayahnya 130 KK dan 2 KK muslim. Dikatakan satu banjar adat sampai perbatasan Temukus Asahduren. Ada dua pura yang di empon, yakni Pura Kawitan dan Pura Taman, serta ada mushola untuk muslim.

Krama Banjar Adat Suberbaru, Pangyangan kini juga merasakan keresahan yang sama. Salah seorang warga Sumberbaru, I Ketut Wartana (53) mengatakan sudah pernah menyampaikan aspirasi ke Gubernur Bali, I Wayan Koster. “Tiga bulan lalu tokoh di desa sudah ke gubernur. Sinyal positif untuk direlokasi dan masyarakat diminta agar tidak resah, tapi berbeda dengan sikap Manajemen Perumda Bali. Padahal permukiman kami tidak kena jalur tol,” ungkapnya

Baca juga :  Ternak di Jembrana akan Divaksinasi Dua Kali

Kelihan Adat Sumber Baru, Nengah Litra (57) menyatakan pihaknya siap untuk direlokasi asalkan tidak membeli, sekalipun harus membuka hutan seperti para para pendahulunya.

Di Sumberbaru katanya ada 63 KK. Di sini sama sejarahnya dengan di Pekutatan dan ada Pura Kawitannya. “Mohon kebijakan pemerintah agar kami diberi atau dicarikan tempat tinggal, walaupun di tanah hutan. Kami berharap bisa diberikan hak yang sama seperti di Sumberklampok,” harapnya.

Dalam surat yang ditandatangani Diretur Utama Perumda Kerta Bali Sagunan Provinsi Bali Nomor 266/PUD/UM?VIII/2022 tanggal 2 Agustus 2022 perihal Pengosongan Rumah Dinas/Mess tersebut, menyebut dengan akan dibangunnya jalan tol dan Theme Park di Kawasan Unit Perkebunan Pekutatan-Jembrana dalam waktu dekat, perlu dilakukan perataan lahan dengan melakukan pembongkaran terhadap rumah-rumah dinas karyawan. Para eks karyawan Perusda Bali ini diberi batas waktu hingga Senin, (15/10/2022). (120)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini