Kadis Perindustrian dan Tenaga Kerja Badung Punya Program Marmer, Naker Diberi Legalisasi Magang

eka
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Badung Drs.I Putu Eka Merthawan, M.Si

Perkembangan pariwisata Badung, termasuk Bali, pada Agustus 2022 berangsur-angsur membaik. Hal ini tak lepas dari komitmen pemerintah yang memberi kontribusi nyata bagi pariwisata sebagai sumber utama PAD. Naiknya kondisi pariwisata ini juga tak lepas dari pengaruh rangkaian kegiatan KTT G20 yang puncaknya pada November mendatang di Nusa Dua, Kutsel.

MENURUT Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Badung Drs.I Putu Eka Merthawan, M.Si., walau gema KTT G20 di Nusa Dua, dampaknya ternyata juga dirasakan di tempat pariwisata terpisah, serta hotel dan usaha priwisata lain seperti restoran dan akomodasi. Dengan adanya perubahan ini, pihaknya terus memantau kedatangan wisman maupun wisdom ke Badung. Bahkan sekarang, pihaknya menyikapi kondisi para karyawan yang sempat dirumahkan selama pandemi covid-19. Mereka mulai dipekerjakan kembali di sektor masing-masing. Hingga akhir Agustus 2022, sebanyak 75 persen (30 ribu) daripada 42 ribu tenaga kerja (naker) yang sempat dirumahkan saat pandemi, mulai bekerja kembali. Hal ini menandakan era baru dalam merekrut kembali naker sehingga berdampak terhadap perekonomian dan menghidupkan denyut pariwisata.

Para naker yang bekerja ini, tambah Eka Merthawan, tentu melalui tahapan-tahapan penting yakni pemilik hotel dan serikat pekerja memahami mesti kondisi ini bahwa bukanlah normal sekali, melainkan baru menuju normal. Hal ini jauh lebih baik ketimbang saat pandemi yang memang tak ada aktivitas pariwisata. Saat dipekerjakan kembali, hak-hak gaji mereka tetap mengikuti UMK atau kebijakan masing-masing perusahaan. Yang terpenting, tambah Eka, tetap mengacu pada upah minimal dan tak boleh sembarangan.

Baca juga :  Kelelahan, Wabup Badung Masuk RS

Dia berharap kondisi ini terus naik level, sehingga sebagian besar naker dapat direkrut kembali. Pihaknya tak bisa memaksa perusahaan, karena terkait investasi dan kemampuan perusahaan masing-masing untuk membayar gaji karyawan. ‘’Kita berdoa semoga pariwisata benar-benar pulih seperti sediakala,’’ tegasnya.

Mengenai munculnya angkatan kerja baru, Eka Merthawan mengungkapkan memang tak dapat dibendung. Yang jelas, pihaknya tidak ingin ada pengangguran terbuka lagi di Badung. Jumlah mereka sekarang menyentuh angka 6,9 persen, termasuk kategori realistis jika dibanding dengan daerah lain di Bali. Hal ini karena Badung merupakan barometer pariwisata di Indonesia bagian timur, dan tak dipungkiri jika angkatan kerja baru jumlahnya cukup banyak.

Pascapandemi, fenomena yang muncul yakni adanya lapangan kerja baru, karena desain sekarang lebih banyak menonjolkan entrepreneurship (wirausaha) berbasis digital. Jika dulu mereka bekerja dengan pola regular-manual, tapi sekarang menjadi milenial-digital. ‘’Inilah yang kami sebut berkah pandemi bagi mereka yang kreatif untuk diarahkan ke sektor informal yakni sektor bukan lembaga, tetapi personal. Sedangkan karyawan yang dirumahkan maupun di-PHK langsung membuat usaha sendiri yang dibesut dengan sektor informal. Jumlahnya cukup banyak,’’ tegas Eka Merthawan.

Baca juga :  BMKG Prediksikan April - Mei Mulai Musim Kemarau

Dari 42 ribu naker yang bekerja di Badung, sebanyak 15 ribu di antaranya beralih ke investasi atau penjualan digital. Hal tersebut tak terlalu banyak membutuhkan modal dan bisa merekrut teman mereka untuk join membuka usaha. Sedangkan mereka yang bergerak di bidang digital (work anywhere) diarahkan lewat inovasi Marmer yang kepanjangannya magang kerja merdeka. Kenapa disebut magang kerja merdeka? Menurut Eka Merthawan lantaran semuanya diserahkan ke krama (warga) Badung atau Bali yang kerja di Badung. Mereka dibebaskan memilih tempat magang kerja. Walau masih magang, minimal mereka punya langkah awal memulai usaha baru yang terpenuhi. Menurut data, jumlah naker yang telah direkrut melalu program Marmer ini menyentuh angka 250 orang. Mereka  magang di perusahaan swarta, negeri, luar negeri, maupun BUMN. Tareget tahun ini sebanyak 3.000 naker yang bisa ikut konsep Marmer.

Baca juga :  Jelang G20, Progres Penataan Infrastruktur GWK Hampir 80 Persen

Konsep Marmer ini memang sangat apik. Para naker dibebaskan magang di mana pun yang diinginkan alias tak mengikat. Pihaknya memberi informasi kepada warga yang aktif, serta mempasilitasi dengan jalan memberi kartu tenaga pekerja serta rekomendasi legal atas magang ini. Legal yang dimaksud agar hak-hak mereka nanti terlindungi. Pihaknya pun punya konsep tenaga kerja terlindungi sebagai amanah UU Cipta Kerja dan perda terbaru Badung yakni pelayanan ketenagakerjaan.

Mereka yang boleh ikut program Marmer diharapkan memenuhi kriteria seperti tamat SMA, S1, kejuruan, dan bahkan mereka yang pernah kerja di hotel atau kapal pesiar yang menginginkan usaha baru.

Kepada semua krama yang kerja di Badung, Eka Merthawan mengimbau jangan sampai pesimis. Yakinlah bahwa dampak pandemi segera dapat diatasi bersama dan rajinlah melihat-lihat info di medsos sebagai ranah untuk mencari kehidupan yang baru. Pihaknya di Pemkab Badung berkomitmen dengan konsep pekerja terlindungi mengerjakan sepenuhnya amanah itu. (yad)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini