Dua Pengecer BBM Bersubsidi Diciduk Polisi

bbm1
PENYALAHGUNAAN BBM – Satreskrim Polres Badung saat meringkus pemilik usaha Pertamini, Haris dan Sanhaji, lantaran terlibat kasus penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, Kamis (1/9/2022). (DenPost.id/ist)

Mengwi, DenPost

Dua warga, Haris (34) dan Sanhaji (43), yang terlibat kasus penyalahgunaan BBM bersubsidi dengan menjual secara eceran (dengan Pertamini). Kedua pria asal Sumenep, Madura, ini diciduk setelah membeli empat jerigen besar BBM jenis pertalite di SPBU No.54.803.01 di Jalan Raya Sempidi, Desa Sempidi, Mengwi, Badung, Kamis (1/9/2022).

Kasat Reskrim Polres Badung AKP Putu Ika Prabawa, Minggu (4/9/2022), mengatakan tersangka Haris yang tinggal di Kelurahan Abianbase, Mengwi, dan Sanhaji yang kos di Banjar Kwanji, Dalung, Kuta Utara, ini memiliki usaha Pertamini yakni menjual BBM eceran. “Mereka menyalurkan BBM ke sejumlah warung yang menyediakan pompa (mesin Pertamini),” bebernya.

Kedua tersangka kedapatan membeli pertalite dengan menggunakan empat jerigen besar yang berisi 144 liter seharga Rp 1.110.000. “Modusnya menaruh empat jerigen di mobil Toyota Vios nopol DK 1627 ABJ. Dari bisnisnya itu, tersangka mendapat keuntungan jutaan rupiah dalam sebulan. Kami masih pastikan keuntungan pasti yang mereka dapatkan. Kalau bisnis seperti ini, terkadang ramai terkadang sepi,” imbuh Ika.

Mantan Kanit Reskrim Polsek Kuta ini mengungkapkan, kedua tersangka dijerat Pasal 55 Undang-undang No.22 Tahun 2001 sebagaimana diubah dengan Undang-undang No.11 Tahun 2020 tentang cipta kerja. Ancaman hukuman maksimalnya yakni enam tahun penjara dan denda paling tinggi Rp 60 miliar. “Kami imbau ke SPBU agar jangan menjual BBM bersubsidi ke warga yang menggunakan jerigen. Selain berbahaya akan kebakaran, hal itu juga melanggar peraturan,” tandas Ika Prabawa.

Baca juga :  Razia Prokes, 17 Pelanggar Terjaring di Kutsel

Polres Badung juga menggerebek pengoplosan elpiji subsidi di Jalan Batan Bengkel, Buduk, Mengwi. Saat itu tersangka I Nyoman Sedja (65), warga Banjar Badung, Munggu, Mengwi, beserta tiga mobil pikap yang berisi ratusan tabung elpiji berbagai ukuran, diamankan ke Polres Badung.

Kapolres Badung AKBP Leo Dedy Defretes mengatakan, tersangka Sedja mengoplos elpiji dari tabung 3 kg (subsidi) ke tabung 12 kg (non-subsidi). “Tersangka mengoplos elpiji di salah satu gudang di Banjar Batan Duren, Cepaka, Kediri, Tabanan. Tersangka mengaku mengoplos seorang diri dan diedarkan oleh karyawannya,” tegas Kapolres, didampingi Kasat Reskrim AKP Putu Ika Prabawa.

Baca juga :  Gubernur Koster: Tutup Produksi Arak Gula di Karangasem

Menurut dia, terungkapnya kasus pengoplosan elpiji ini berawal dari informasi warga bahwa di seputar Munggu, Mengwi, Badung, ada yang menjual elpiji ukuran 12 Kg dengan harga jauh di bawah standar. “Anggota kami lantas melakukan penyelidikan. Kemudian ditemukan satu mobil Daihatsu Grand Max pikap yang melintas dengan mengangkut tabung elpiji ukuran 12 kg dan 3 kg di depan Koperasi Lumbung Merta Sedana di Jalan Batan Bengkel, Buduk, Mengwi, Sabtu (3/9/2022) pagi,” ungkap Leo.

Saat sopir mobil itu diperiksa, ternyata dia tidak bisa menunjukkan pembelian resmi dari agen elpiji. Sang sopir mengaku bahwa tabung elpiji 12 kg yang diangkutnya adalah hasil dari memindahkan isi tabung elpiji 3 kg ke dalam tabung 12 kg. “Anggota kami melakukan pengembangan dan ternyata memang benar bahwa di gudang milik Nyoman Sedya ada tempat pengoplosan elpiji,” bebernya.

Saat diinterogasi polisi, tersangka mengaku telah setahun mengoplos elpiji. Setiap hari, dia mengoplos 25 tabung elpiji ukuran 12 kg. “Satu mobil pikap yang berisi elpiji dioplos oleh tersangka setiap hari. Motifnya masalah ekonomi. Untuk menyamarkan aksinya saat mengangkut elpiji oplosan, tersangka tidak menyegel tutup tabung elpiji ukuran 3 kg,” tegas Leo.

Baca juga :  Demi Kemanusiaan, Badung Terima Karantina PMI Daerah Lain

Dari tangan tersangka diamankan sejumlah barang bukti yaitu 25 tabung elpiji ukuran 12 kg dalam keadaan terisi, 89 tabung elpiji ukuran 12 kg dalam keadaan kosong, 350 tabung elpiji ukuran 3 kg dalam keadaan berisi, 149 tabung elpiji ukuran 3 kg dalam keadaan kosong, buku rekapan, 29 stik besi, dua alat congkel karet, pisau besar pemecah es, dan tiga mobil pikap yang digunakan mengangkut elpiji oplosan. “Tersangka dijerat Pasal 55 Undang-undang No.22 Tahun 2001 sebagaimana diubah dengan Undang-undang No.11 Tahun 2020 tentang cipta kerja, dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun dan denda paling tinggi Rp 60 miliar,” tandas Kapolres Badung. (yan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini