Suwirta Masih Diklaim Sebagai Kader Gerindra

picsart 22 09 06 19 23 31 910
KUMPUL - Pengurus DPC Partai Gerindra Klungkung, saat kumpul di ruang fraksi, Selasa (6/9/2022).

Semarapura, DENPOST.id

Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta kini telah menjadi kader PDIP, dan akan bertarung ke DPRD Bali melalui kendaraan banteng moncong putih. Namun ditengah situasi ini, Suwirta masih “diklaim” sebagai kader Gerindra lantaran surat pengunduran dirinya belum mendapat jawaban dari DPP Partai Gerindra.

“Kami di DPC tidak memiliki kewenangan untuk mengeluarkan yang bersangkutan (Suwirta-red). Karena itu, diputuskan Makamah Kehormatan di DPP Partai Gerindra,” ungkap Ketua DPC Partai Gerindra Klungkung, I Wayan Baru, Selasa (6/9/2022).

Menurut Wayan Baru, dirinya bersama seluruh Fraksi Gerindra di DPRD Klungkung merasa terusik dengan pernyataan Suwirta yang mengaku keluar atau pindah partai karena dikeluarkan dari group WA Gerindra. Belum lagi surat pengunduran dirinya diantar oleh seorang guru berstatus ASN di Kecamatan Dawan. Hal ini terkesan kalau Suwirta tidak secara langsung mengajarkan ASN ikut berpolitik. “Tidak etis kalau sampai ada seorang guru mengantarkan surat pengunduran diri bupati ke kantor DPC. Apalagi dikeluarkannya dari WA group dijadikan alasan mengundurkan diri dari Partai Gerindra,” ujar Baru.

Hal senada juga dikatakan Sekretaris DPC Partai Gerindra, Nengah Mudiana dan Bendahara Wayan Widiana. Menurut Widiana, pihaknya di Gerindra menghormati hak politik Suwirta pindah ke Partai PDIP. Namun sebagai bupati dan penasehat di Gerindra, seharusnya Suwirta membahas hal itu terlebih dahulu di internal. Karena bisa saja HP yang digunakan error. “Sebagai seorang bupati dan penasehat partai harusnya jangan hal itu (dikeluarkan dari group WA-red) dipakai pembenaran untuk keluar dari partai. Lebih baik jujur saja kalau mau keluar dari partai,” kata Widiana.

Baca juga :  Jadi Pelopor Lansia, Wabup Artha Dipa Disuntik Vaksin

Selain itu, Baru menambahkan seorang bupati harusnya mengedepankan etika dan santun. Karena jika masuknya ke partai baik, harusnya keluar juga dengan baik. Apalagi dalam ajang Pilkada, Partai Gerindra tidak pernah meminta mahar. Malah Gerindra melalui adiknya Prabowo, Hashim Djojohadikusumo mengglontor dana sampai Rp2 miliar untuk menganti pengeluaran Suwirta saat kampanye. “Kalau jantan, bawa surat sendiri ke kantor DPC. Jangan suruh ASN. Kami sangat terusik kalau isi nyebut nama partai. Ibarat membangunkan macan medem,” ujar Baru, dengan nada tegas.

Baca juga :  Kapolres Bangli Pimpin Pendistribusian 200 Paket Sembako di Empat Kecamatan

Lain lagi dengan Wayan Baru dan Widiana, Ketua Organisasi Kaderisasi dan Keanggotaan (OKK) DPC Gerindra, AA Sayang Suparta menilai apa yang dilakukan Suwirta hanya mencari alasan untuk kepentingan politik biar merasa teraniaya. “Saya yakin itu strategi pak Suwirta untuk cari suaka politik. Beliau keluar murni ingin berlindung di ketiak penguasa provinsi,” kritik AA Sayang.

Sementara Bupati Suwirta ketika dikonfirmasi ternyata tidak terlalu serius menanggapi sorotan dari pengurus DPC Partai Gerindra tersebut. Dia mengaku cerita apa adanya. Apalagi hal ini merupakan hak politik dirinya selaku pribadi. “Kenapa mereka harus tersinggung? Kan dulu saya yang merasakan. Pak Baru dan temen-temen adalah sahabat saya semua,” ujar Suwirta. (119)

Baca juga :  Nyepi, Bandara Ngurah Rai Hentikan Operasional 24 Jam

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini