Jaksa Bebaskan Tersangka Pencurian HP Lewat Restorative Justice

picsart 22 09 07 19 53 00 878
PELUK KAJARI - I Kadek Juliawan, saat memeluk Kajari Bangli, Yudhi Kurniawan, setelah dibebaskan dari tuntutan lantaran perkaranya diselesaikan lewat Restorative Justice.

Bangli, DENPOST.id

I Kadek Juliawan alias Kadek, akhirnya dinyatakan bebas dari jeratan hukum yang menjeratnya. Hal ini menyusul Kejaksaan Negeri Bangli, telah melaksanakan penghentian penuntutan karena menempuh keadilan restorative atau Restorative Justice (RJ), Rabu (7/9/2022).

Ini adalah perkara pertama yang ditangani Kejari Bangli, dengan penyelesaian berdasarkan RJ.

Kasi Intelijen Kejari Bangli, I Nengah Gunarta mengatakan sebelumnya Juliawan disangkakan melakukan tindak pidana pencurian, yakni mengambil sebuah HP dengan tanpa izin dari pemiliknya, dengan saksi korban atas nama I Gusti Nyoman Sudana. “Setelah dimediasi di Kejaksaan Negeri Bangli, antara pelaku dan korban sepakat untuk berdamai,” sebut Gunarta.

Diuraikan dia, kasus ini berawal pada, Rabu 18 Mei 2022 sekira pukul 17.00 Wita, saat tersangka pulang dari bekerja dan melintas di Jalan Pondokan Pangsut Tiga, Banjar Tiga, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli. Saat itu, tersangka melihat handphone (HP) di pinggir jalan, kemudian tersangka parkir dan turun dari sepeda motor.

Baca juga :  Simpan Sabu di Saku, Mantan Napi Dibekuk

Kemudian tanpa seijin dan tanpa sepengetahuan saksi korban, dia mengambil satu unit HP merk Vivo tipe Y71 warna hitam tersebut. Di mana, tersangka melanggar pasal 362 KUHP sesuai dengan dakwaan Jaksa Penuntut Umum. “Berdasarkan kasus di atas, dapat diselesaikan berdasarkan keadilan restorative atau Restorative Justice yang telah terpenuhinya syarat-syaratnya,” ucap Gunarta.

Syarat-syarat yang dimaksud berdasarkan Pasal 5 ayat (1), (2), dan (6) Perja Nomor 15 Tahun 2022 tanggal 22 Juli 2020 dan Surat Edaran Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Nomor : 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022. Di mana, tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana dengan nilai barang bukti (BB) atau kerugian Rp3 juta. “Tersangka telah meminta maaf kepada korban dan korban pun telah memaafkan tersangka. Barang bukti handphone masih utuh dan dapat dikembalikan kepada korban,” jelasnya.

Baca juga :  Covid-19 di Jembrana, Kasus Harian 55 Orang dan Satu Orang Meninggal

Kebijakan ini juga berdasarkan telah adanya kesepakatan perdamaian antara korban dan tersangka dan tokoh masyarakat yang mendukung, serta sepakat terhadap perkara dimaksud untuk diselesaikan di luar pengadilan melalui Restorative Justice, yakni kepastian hukum bagi korban maupun pelaku dengan cepat dan sederhana.

Di mana, Restorative Justice merupakan salah satu program Jaksa Agung Republik Indonesia yang tertuang dalam Perja Nomor 15 Tahun 2020 tentang Keadilan Restoratif, yang mana merubah image jaksa lebih humanis dan dekat dengan masyarakat. “Dengan hakikat dari Restorative Justice tersebut, mengedepankan pemulihan kembali pada keadaan semula dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/ korban dan tokoh masyarakat,” pungkasnya. (128)

Baca juga :  PPDB, Bupati Buleleng Instruksikan Sekolah Tidak Pungut Biaya Apapun

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini