Suspect DB, Bayi 11 Bulan Meninggal Dunia

picsart 22 10 04 19 00 41 989
KONDISI RUMAH - Dinas Kesehatan Klungkung, saat mengecek kondisi rumah almarhum GMT (11 bulan) di Lingkungan Pekandelan, Kelurahan Semarapura Klod, Selasa (4/10/2022).

Semarapura, DENPOST.id

Kasus Demam Berdarah Dangue  (DBD) di Klungkung, beberapa bulan terakhir mengalami peningkatan. Berdasarkan data yang diperoleh di Dinas Kesehatan Klungkung hingga September 2022, tercatat ada 287 kasus DBD dengan satu orang meninggal dunia.

Bahkan di awal Oktober ini, sudah ada lima kasus tambahan. Yang mana, satu orang di antaranya bayi berusia 11 bulan diduga meninggal akibat penyakit tersebut, Senin (3/10/2022) malam.

Kepala Dinas Kesehatan Klungkung, dr. Ni Made Adi Swapatni ketika dikonfirmasi, Selasa (4/10/2022) mengatakan kalau bayi tersebut meninggal di RSUD Klungkung. Namun pihaknya masih memastikan apakah bayi berusia 11 bulan asal Lingkungan Pekandelan, Kelurahan Semarapura Klod yang meninggal tersebut, murni karena DBD atau disertai penyakit lain.

“Informasinya yang bersangkutan (bayi) mengeluh panas sejak 28 September dan sudah berobat ke UGD RSUD Klungkung. Kemudian diberikan obat penurun panas. Dan selama observasi panasnya turun dan pasien dipulangkan,” ungkap dr. Adi Swapatni.

Baca juga :  Rapid Test  Massal di Klungkung Abaikan Social Distancing

Namun, keesokan harinya pada 29 September menjelang subuh, pasien panas lagi dan dibawa ke UGD RSUD Klungkung. Oleh tenaga medis, pasien diperiksa dan diputuskan untuk rawat inap. Hanya saja pada 2 Oktober, kondisi pasien agak melemah, sehingga dipindah ke ruang ICU.

“Rencananya pasien dirujuk ke RS Prof. dr. Ngurah Denpasar, tapi karena keterbatasan ruang PICU belum bisa diterima oleh pihak RS Prof. dr. Ngurah hingga pada tanggal 3 Oktober pasien meninggal,” jelasnya.

Baca juga :  Pasien Covid-19 Melonjak, RSUD Klungkung Kembali Buka Ruang Isolasi

Menindaklanjuti hal ini, dr. Adi Swapatni memastikan jajarannya sudah terjun ke lapangan dengan mengecek langsung kondisi rumah pasien di Lingkungan Pekandelan. Dari hasil pelacakan ditemukan ada satu orang warga di lingkungan tersebut yang menderita panas dan sudah berobat. Sedangkan di lingkungan sekitar, petugas memang menemukan banyak jentik.

Mengingat di depan rumah yang bersangkutan terdapat banyak tanaman. Seperti nanas dan keladi. Selain itu air got juga tidak mengalir dengan lancar. Air terlihat menggenang di depan rumah-rumah warga.

Baca juga :  Usai Jalani Karantina, PMI di Klungkung Bingung Cari Surat Keterangan Pemeriksaan

“Tadi, tim kami sudah turun cek jentik dan cek warga yang panas di lingkungan juga sudah. Rencananya besok akan dilakukan fogging di lingkungan sekitar,” imbuhnya. (119)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini