Diduga Tolak Rawat Pasien, Dua RS Dilaporkan ke Polda Bali

gawat
RS WANGAYA - Salah satu sudut RSUD Wangaya, Denpasar.

Kereneng, DenPost.id

Kasus dugaan penolakan pasien yang dilakukan dua rumah sakit (RS) di Denpasar beberapa waktu lalu berbuntut panjang. Suami dari pasien yang ditolak pihak RS itu yakni Kadek Suastama (46) melapor ke Polda Bali pada Selasa (4/10).

Kadek Suastama memilih mencari keadilan dengan cara menempuh jalur hukum setelah sang istri, Nengah Sariani (44), meninggal dunia akibat ditolak untuk dirawat oleh kedua RS ternama itu.

Kabid Humas Polda Bali Kombes Stefanus Satake Bayu Setianto, Kamis (6/210) kemarin, mengakui bahwa memang benar ada laporan tersebut. Dia mengungkapkan bahwa Kadek Suastama melaporkan RSUD Wangaya dan RS Manuaba ke Polda Bali. “Iya, laporannya atas dugaan penolakan pasien oleh RSUD Wangaya dan RS Manuaba, sehingga menyebabkan pasien kehilangan nyawa sebagaimana dimaksud Pasal 190 Ayat (1) dan (2) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan,” tegasnya.

Sesuai laporan Kadek Suastama bahwa kejadiannya berawal saat Nengah Sariani menderita batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Pasien kemudian diantar oleh anaknya ke RSUD Wangaya dengan mengendarai sepeda motor. Saat tiba di sana, ada dokter yang tidak melakukan pertolongan pertama. Dokter tersebut beralasan bahwa ruangan IGD penuh dan tidak ada bed (tempat tidur). Ibu rumah tangga asal Sukasada, Buleleng ini, disarankan agar dibawa ke RS Manuaba di Jl.Cokroaminoto, Denut, yang masih berdekatan dengan RSUD Wangaya.

Baca juga :  DENPOST.id Raih Penghargaan Media Pengguna Bahasa Terbaik

Saat itu, sang anak sempat minta tolong untuk meminjam mobil ambulan RSUD Wangaya. Tetapi dokter jaga tidak bisa memberikan dengan alasan tidak jelas. Anak Nengah Sariani lantas membonceng ibunya dalam kondisi lemas menuju RS Manuaba. Setibanya di sana, pasien segera diterima oleh seorang dokter laki-laki dan dicek denyut nadi pada pergelangan tangannya. “Saat itu pasien masih di atas motor,” tegas Kombes Bayu.

Namun saat itu pihak RS Manuaba tidak bersedia merawat Nengah Sariani. Dia disarankan berobat ke RSUP Prof.Ngoerah di Sanglah. Anak Sariani kembali minta tolong untuk dipinjamkan mobil ambulans dari RS Manuaba  agar lebih cepat dan aman sampai di Sanglah. Namun dokter setempat tidak memberikan izin, karena takut masalah bakal menjadi rumit. Akhirnya, sang anak membawa ibunya ke RSUP Porf.Ngoerah di Sanglah.

Baca juga :  Lahan Bekas Pasar Loak di Jalan Gunung Agung Jadi TPS Liar

Setibanya di sana, petugas medis langsung mengambilkan bed dan Sariani dibawa masuk ke UGD. Setelah diperiksa detak jantungnya, ternyata Sariani telah menghembuskan napas terakhir alias meninggal dunia. “Kasus ini sekarang masih dalam proses penyelidikan,” pungkas Kombes Bayu.

Sementara itu Dirut RSUD Wangaya Kota Denpasar dr. A.A. Gde Widiasa saat dimintai konfirmasi mengaku belum menerima panggilan dari Polda Bali berkaitan dengan laporan dugaan kasus menolak pasien. “Belum ada panggilan. Kalaupun ada, kami siap menjelaskan,” tegasnya, Kamis kemarin.

Pihaknya pun dengan tegas mengungkapkan bahwa RSUD Wangaya tidak menolak pasien. “Ada pun pada saat kejadian, kapasitas Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RS Wangaya Denpasar penuh. Dalam kondisi tersebut, jika dipaksakan menerima pasien, tentu membuat pelayanan tidak optimal dan berisiko bagi pasien. Saran merujuk pasien dengan memanfaatkan mobil ambulans BPBD juga sudah kami sampaikan, mengingat ambulans kami tidak dapat merujuk pasien tanpa didampingi tenaga medis yang saat itu menangani pasien di UGD,” jelas dr. Widiasa.

Baca juga :  Axl Mathew Situmorang: Dapat Urus Izin Usaha Praktis dari Rumah

Hal tersebut, lanjut dia, sesuai hasil investigasi internal Dewan Etik RSUD Wangaya sebagai bahan pembanding yang dirasa perlu untuk disampaikan. Dalam menerima setiap kejadian di RS, selalu dilaksanakan investigasi sebagai upaya berkelanjutan guna evaluasi dan peningkatan pelayanan. “Dengan adanya rekomendasi atau masukan dari Dewan Etik serta masyarakat Bali, khususnya Kota Denpasar, kami terus melakukan evaluasi pelayanan RSUD Wangaya. Dalam memberikan pelayanan ke masyarakat dapat terus kami optimalkan dengan mengutamakan rasa kemanusiaan, prosedur pelayanan kesehatan yang mengutamakan keselamatan dan kepuasan pasien, serta kode etik kedokteran. Kami bekerja tak hanya baik, melainkan juga benar,” tegas Widiasa.

Selaku manajamen, pihaknya pun menyampaikan bela sungkawa dan duka cita mendalam atas berpulangnya ibu dari salah satu warga yang ingin mendapat pelayanan kesehatan di RSUD Wangaya. Selain itu, pihaknya meminta maaf bila ada kekurangan dalam pelayanan. (yan/eka)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini