Sempat Ditolak Warga, Pembangunan Pabrik Limbah B3 Berlanjut

picsart 22 10 11 15 31 09 812
PABRIK LIMBAH - Pabrik limbah B3 PT BMS yang mulai dibangun dan sudah dilakukan ground breaking.

Negara, DENPOST.id

Sempat ditolak warga, pembangunan pabrik limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Banjar Munduk, Desa Pengambengan, Kecamatan Negara ternyata terus berlanjut.
Kini, di Pengambengan ada dua pabrik limbah B3. Pabrik limbah B3 PT Klin dan PT. Balindo Marino Services (BMS).

Pabrik yang dibangun PT. BMS bahkan secara terang-terangan mengadakan ground breaking, Senin (10/10/2022) yang dihadiri Kadis LH Jembrana, Kapolsek Negara dan sejumlah undangan dari Provinsi Bali.

Berlanjutnya pembangunan pabrik limbah tersebut lantaran pihak dari PT. BMS menyatakan sudah mengantongi seluruh izin dan memiliki persetujuan masyarakat sekitar pabrik tersebut.
Selain itu, permasalahan adanya beberapa warga yang menolak keberadaan pabrik dinilai kurangnya pemahaman dari warga.

Pemrakarsa pabrik limbah B3 PT. BMS, IB. Putu Astina, mengatakan, keberadaan pabrik limbah B3 ini memang dinanti oleh Pemerintah Provinsi, lantaran sampah B3 khususnya rumah sakit nantinya tidak perlu lagi dikirim ke luar pulau.
Menurutnya, sampah yang ada di Bali ini harus dikelola sendiri. “Semestinya tidak boleh dibawa ke luar pulau,” ungkapnya.

Baca juga :  Di Jembrana, 30 Ekor Sapi Diduga Positif PMK

Dengan keberadaan pabrik ini, kata Astina, selain mengurangi mobilitas sampah B3 ke luar pulau, keberadaan pabrik yang memiliki teknologi terbarukan ini juga akan menjadi contoh di daerah-daerah lain.
Diharapkan keberadaan pabrik ini sangat membantu, baik itu masyarakat, maupun pengusaha yang berhubungan dengan limbah B3. “Khususnya rumah sakit nantinya dan diharapkan cepat selesai,” paparnya.

Terkait penolakan warga atas pembangunan pabrik limbah tersebut, pihaknya siap menerima masukan dari masyarakat, baik itu penolakan atau saran mengenai keberadaan pabrik.
“Kalau memang menolak silakan lakukan sesuai kajian dan peraturan yang berlaku di Indonesia, dan kalau perlu silahkan menggunakan jalur hukum. Tapi berani tidak? Karena izin kami sudah lengkap,” ujarnya.

Baca juga :  Kecelakaan, Pengendara Motor Meninggal Usai Dirawat di RS

Astina juga menegaskan, seluruh tahapan izin sudah dilakukan, dan sudah keluar, sehingga pembangunan pabrik ini harus dilanjutkan.
Pihaknya menargetkan pembangunan selesai pada Februari 2023 mendatang.

Ketua Asosiasi IPAL Indonesia (IpalINDO), A A Ngurah Panji Astika, menyebutkan, keberadaan pabrik tersebut dirasa aman, lantaran sudah dilakukan pengujian di daerah lain yang sudah menggunakan teknologi tersebut.
Dikatakan Panji, industri ini tujuannya sangat mulia, mencegah dan mengurangi dampak yang ditimbulkan dari pemcemaran limbah-limbah B3.
“Terkait teknis, sudah dilakukan pemantauan dan sudah dilakukan pengujian. Keberadaan pabrik ini sangat dibutuhkan di Bali,” tandasnya. (120)

Baca juga :  Situasi di Gilimanuk Jelang Larangan Mudik, Siang Lengang, Malam Ramai

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini