Vila Hendak Dieksekusi, Pasutri Mohon Perlindungan ke PN Denpasar dan Polda Bali

togir1
BERI PENJELASAN - Pasangan ‘’kopi-susu’’ Ni Ketut Meiyani (paling kiri) dan Wally, didampingi Dr.Togar Situmorang, memberi penjelasan mengenai kasus kontrak lahan yang dialaminya di Denpasar dan Gianyar. (DenPost.id/ist)

Sukawati, DenPost.id

Pasangan suami-istri (pasutri) ‘’kopi-susu’’ (beda negara), Ni Ketut Meiyani (Bali) – Wally (Swis), terancam ‘’diusir’’ dari vila tempat tinggal mereka di Jalan Sekarsari Gang Melasti, Banjar Kesambi, Kesiman Kertalangu, Dentim. Selain itu, rumah kayu di Desa Lembeng, Sukawati, Gianyar, yang dijanjikan seseorang, hingga kini tak jelas juntrungannya.

Ditemui di Lembeng, Sukawati, Gianyar, pada Kamis (13/10/2022) , Meiyani dan Wally, yang didampingi  kuasa hukumnya, Dr. Togar Situmorang, mengaku bingung dengan kasus yang menimpanya. Dia mengaku sama sekali tidak paham mengenai rencana eksekusi vila yang dia sewa sesuai perjanjian resmi bersama sang suami sejak 23 Oktober 2018 hingga 31 Oktober 2024 itu. Sebelumnya mereka terkejut menerima surat perihal eksekusi dalam perkara No.20/Pdt.Eks.Riil/2022/Pn.Dps jo Nomor 56/Eks/2022/Pn Dps tertanggal 7 Oktober 2022. Tak mau diam, Meiyani lalu mengajukan verzet terhadap putusan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar tersebut.

Baca juga :  Dewan Gianyar Minta Pedagang Pasar Blahbatuh Divalidasi

Menurut Dr.Togar Situmorang, Meiyani sama sekali tak ada hubungan hukum dengan IMS, tetapi IMS punya hubungan hukum dengan TKH. Awalnya Meiyani menempati sebagian hak atas tanah seluas 2.922 m2 dengan No.SHM 3849 di Jalan Sekarsari Gang Melasti, Banjar Kesambi, Kesiman Kertalangu. Dari tanah seluas tersebut, Meiyani memiliki hak tanah seluas 400 m2. Tanah itu kini dijadikan sengketa antara termohon IMS dengan si pemohon, TKH.  “Walau tanah tersebut mau dieksekusi oleh termohon, klien saya tetap memiliki hak tanah seluas 400 m2 dari luas tanah 2.922 m2 tersebut,” tegas Togar Situmorang.

Menurutnya, Ni Ketut Meiyani punya hak atas tanah di sana dengan luas 400 m2  sesuai perjanjian dan kesepakatan awal dengan si pemohon tanah, TKH. Meiyani juga telah mengantongi cukup bukti mengikat, salah satunya memenangkan perkara di PN Denpasar lewat putusan perdata No.975/Pdt.G/2021/PN.Dps, tanggal 11 Mei 2022 dengan penggugat WK dan tergugat TKH.

Baca juga :  Ratusan Krama Pengempon Samuan Tiga "Gerudug" PN Gianyar

Menghindari kerugian lebih besar, Meiyani kemudian membuat surat perlindungan hukum ke PN Denpasar dan Polda Bali. ‘’Hak azasinya sebagai penyewa yang beritikad baik memang harus dihormati. Klien saya sebagai penyewa, bukan penentang atau menghambat,” ungkapnya.

Pun rumah kayu di atas lahan sekitar 400m2 yang dijanjikan THK di Desa Lembeng, Sukawati, Gianyar, hingga sekarang belum terwujud padahal Meiyani dan sang suami sudah menyetor uang Rp 1,6 miliar untuk tinggal di sana. Sialnya, uang yang dikirim itu dinyatakan belum sampai di tangan si pemilik tanah yang mantan pejabat di Gianyar tersebut. Dalam surat perjanjian juga disebutkan bahwa tanah yang disewa Meiyani berlaku sampai tahun 2036, dengan surat pernyataan tertanggal 13 Januari 2018, dengan nilai nominal kewajibannya Rp 2,4 miliar. “Karenanya kami duga perjanjian itu palsu, sehingga akan kami laporkan,” tegasnya. (yad)

Baca juga :  Kasus Oknum Sulinggih Cabul Akan Dilimpahkan ke Gianyar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini