Gubernur Koster Berorasi Ilmiah pada Wisuda Untar, Sampaikan Ekonomi Kerthi Bali

kosterku
ORASI ILMIAH - Gubernur Bali Wayan Koster saat berorasi ilmiah pada wisuda ke-18 Universitas Tarumanegara (Untar) di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (15/10/2022).

Denpasar, DenPost.id

Gubernur Bali Wayan Koster mendapat kepercayaan untuk berorasi ilmiah pada wisuda ke-18 Universitas Tarumanegara (Untar) di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (15/10/2022). Uniknya, acara yang disiarkan secara langsung lewat kanal Youtube itu bernuansakan Bali.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Koster mengungkapkan Ekonomi Kerthi Bali untuk mewujudkan Bali berdikari dalam bidang ekonomi yang dibangun dan dikembangkan berlandaskan nilai-nilai filosofi Sad Kerthi dengan menerapkan 11 prinsip. Kesebelasnya adalah: 1) Ekonomi yang dikembangkan dari sikap mensyukuri/ memuliakan kekayaan, keunikan, dan keunggulan sumber daya lokal alam Bali beserta isinya, sebagai anugerah Sang Pencipta; 2) Ekonomi yang dikembangkan sesuai potensi sumber daya lokal alam Bali beserta isinya; 3) Ekonomi yang dikembangkan oleh krama Bali secara inklusif, kreatif, dan inovatif; 4) Ekonomi yang dikembangkan berbasis nilai-nilai adat, tradisi, seni, budaya, dan kearifan lokal Bali; 5) Ekonomi yang dikembangkan dengan menjaga ekosistem alam dan budaya secara berkelanjutan; 6) Ekonomi yang dikembangkan untuk meningkatkan kapasitas perekonomian lokal Bali, berkualitas, bernilai tambah, dan berdaya saing; 7) Ekonomi yang dikembangkan dengan mengakomodasi penerapan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta teknologi digital; 8) Ekonomi yang memberi manfaat nyata guna meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan krama Bali secara niskala-sekala; 9) Ekonomi yang dibangun dengan azas gotong-royong; 10) Ekonomi yang dibangun untuk meningkatkan ketangguhan menghadapi dinamika perkembangan zaman secara lokal, nasional, dan global; dan 11) Ekonomi yang menumbuhkan spirit jengah dan cinta/bangga sebagai krama Bali.

Menurut Gubernur Koster, Ekonomi Kerthi Bali memiliki enam sektor unggulan sebagai pilar yaitu: sektor pertanian dalam arti luas termasuk peternakan dan perkebunan dengan sistem pertanian organik; sektor kelautan dan perikanan; sektor industri yang meliputi industri manufaktur dan industri berbasis budaya branding Bali; sektor industri kecil menengah (IKM), usaha mikro kecil-menengah (UMKM) dan koperasi; sektor ekonomi kreatif dan digital; serta sektor pariwisata yaang berbasis budaya, berkualitas, dan bermartabat.

Pemprov Bali, menurut Gubernur tamatan ITB ini, mengembangkan dan memperkuat IKM, UMKM, serta koperasi terutama koperasi produksi serta lembaga perekonomian adat, yang mengolah dan mengelola hasil pertanian, perkebunan, kelautan, perikanan, dan industri kerajinan rakyat. Kebijakan dan strategi diarahkan dalam rangka meningkatkan produktivitas IKM, UMKM dan koperasi, dengan menciptakan ekosistem usaha yang tangguh dan berdaya saing. Arah kebijakan dan strategi ini dituangkan dalam regulasi/peraturan antara lain: Pergub Bali No.79 Tahun 2018 tentang hari penggunaan busana adat Bali; Pergub Bali No.99 Tahun 2018 tentang pemasaran dan pemanfaatan produk pertanian, perikanan dan industri lokal Bali; Pergub Bali No.1 Tahun 2020 tentang tata kelola minuman fermentasi dan/atau destilasi khas Bali; Surat Edaran (SE) Gubernur Bali No.4 Tahun 2021 tentang penggunaan kain tenun endek Bali/kain tenun tradisional Bali; SE Gubernur Bali No.17 Tahun 2021 tentang pemanfaatan produk garam tradisional lokal Bali. ‘’Sejak diberlakukannya kebijakan tata kelola minuman fermentasi dan/atau destilasi khas Bali tahun 2020, kini menggeliat penggunaan dan usaha minuman destilasi tradisional arak bali. Arak bali dijadikan minuman penyambutan tamu, acara jamuan, dan pertemuan-pertemuan resmi, serta dimanfaatkan sebagai minuman wisatawan di hotel/restoran,’’ tegas Gubernur asal Desa Sembiran, Buleleng ini.

Baca juga :  Jalan Tol Jagat Kerthi Bali Bawa Perubahan Bagi Jembrana

Dia menambahkan desain kemasan dan branding produk arak bali mulai berkembang dengan elegan dan berkualitas, sehingga mampu bersaing dalam perdagangan lokal, nasional, dan global. Juga siap menjadi minuman spirit ke-7 dunia yang tidak kalah dengan produk minuman negara lain seperti whisky (Skotlandia), sake (Jepang) dan soju  (Korea).

Mengenai kebijakan penggunaan busana adat Bali setiap Kamis, purnama-tilem, serta hari jadi pemda, dan penggunaan busana berbahan kain tenun endek bali/kain tenun tradisional Bali setiap Selasa, menurut Gubernur Koster, berdampak nyata dan signifikan, serta mampu menggerakkan perekonomian masyarakat Bali. Juga berkembangnya ekonomi kerakyatan, yaitu industri mode, pelaku usaha, IKM, UMKM, dan koperasi di Bali yang berkualitas dan berkelas dunia.

Diberlakukannya kebijakan berupa SE No.17 Tahun 2021 tentang pemanfaatan produk garam tradisional lokal Bali, tambah Koster, terbukti membangkitkan kebanggaan masyarakat lokal, nasional, dan dunia. Dengan demikian, mampu meningkatkan kesejahteraan petani garam. Produk garam tradisional lokal Bali bisa dipasarkan di pasar swalayan dan toko modern, dengan kemasan yang elegan dan berkualitas.

Baca juga :  OTG Meninggal Dunia Ditempat Karantina

Transformasi Ekonomi Kerthi Bali juga difokuskan pada sektor pariwisata, dengan menetapkan haluan pariwisata Bali berbasis budaya, berkualitas, dan bermartabat. Untuk itu Gubernur Koster merumuskan Enam Pilar Kepariwisataan Bali. Pilar pertama: Bali memiliki kekayaan, keunikan, dan keunggulan adat, tradisi, seni, budaya dan kearifan lokal serta keindahan alam yang harus dibangun dan dijaga dengan serius, konsisten dan terarah. Adat, tradisi, seni, budaya dan kearifan lokal Bali menyatu dalam satu kesatuan tatanan kehidupan beragama di Bali, sehingga Bali memiliki aura, taksu, dan tenget, yang menjadikan Bali punya daya tarik bagi masyarakat dunia, Bali menjadi destinasi wisata utama dunia.

Pilar kedua: Bali harus memiliki destinasi/daya tarik pariwisata baru dan produk wisata baru yang berkelas dunia serta mampu bersaing, dan memiliki segmen wisata baru. Karena itu, sekarang dibangun sejumlah program monumental seperti kawasan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Klungkung; Bali Maritime Tourism Hub di Denpasar, dan Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali di Buleleng.

Pilar ketiga: Bali harus menjaga ekosistem alam yang bersih. Karena itu diberlakukan bebagai kebijakan guna mewujudkan ekosistem alam ramah lingkungan, yang dituangkan dalam regulasi/peraturan antara lain: Pergub Bali No.97 Tahun 2018 tentang pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai; Pergub Bali No.47 Tahun 2019 tentang pengelolaan berbasis sumber; Perda Bali No.8 Tahun 2019 tentang sistem pertanian organik; Pergub Bali No.45 Tahun 2019 tentang Bali energi bersih; Pergub Bali No.48 Tahun 2019 tentang penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai; Pergub Bali No.24 Tahun 2020 tentang pelindungan danau, mata air, sungai, dan laut; serta SE Gubernur Bali No.05 Tahun 2022 tentang pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap.

Pilar keempat: Bali harus memiliki infrastruktur darat, laut, dan udara secara terkoneksi dan terintegrasi, dengan transportasi yang memadai. ‘’Saat ini saya gencar membangun infrastruktur antara lain: jalan shortcut Singaraja-Mengwitani yang menghubungkan Bali Utara dengan Bali Selatan; Jalan Tol Jagat Kerthi Bali yang menghubungkan Gilimanuk-Mengwi, Bali Barat dan Bali Selatan; Pelabuhan Sanur (Denpasar); Pelabuhan Sampalan serta Pelabuhan Bias Munjul di Nusa Penida, Klungkung. Juga dibangun sarana-prasarana strategis penyediaan air baku,’’ ’’ tegas Gubernur Koster.

Baca juga :  KPK Beberkan Hasil Penyadapan Telepon Terdakwa Dewa Wiratmaja

Pilar kelima: Bali harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja pada semua level usaha pariwisata. Pilar keenam: menerapkan tata kelola pariwisata yang berdaya saing dan berpihak pada sumber daya lokal Bali. ‘’Untuk mewujudkanya, saya memberlakukan kebijakan yang dituangkan dalam regulasi/peraturan antara lain: Perda No.5 Tahun 2020 tentang standar penyelenggaraan kepariwisataan Budaya bali; Pergub Bali No.28 Tahun 2020 tentang tata kelola pariwisata Bali,’’ bebarnya.

Gubernur Koster juga menyebut pembangunan infrastruktur dan sarana-prasarana strategis di Bali diyakini mampu menumbuhkan daya tarik pariwisata baru, semakin meningkatkan daya saing pariwisata Bali, menciptakan pusat-pusat pertumbuhan perekonomian baru, meningkatkan pertumbuhan perekonomian Bali, menyeimbangkan pembangunan wilayah di Bali, membuka lapangan kerja baru, meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali, mengurangi tingkat kemiskinan, dan menjadi sumber baru pendapatan asli daerah (PAD) provinsi dan kota/kabupaten se-Bali.

Rektor Untar Prof. Dr. Ir. Agustinus Purna Irawan menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Koster yang hadir sekaligus berorasi pada wisuda ke-10 Untar. ‘’Ini momen bersejarah. Perlu kita ketahui oleh para wisudawan dan orangtua bahwa Bapak Gubernur Bali adalah warga Untar. Sebelum menjadi politisi dan Gubernur Bali, beliau aktif menjadi dosen di Untar,’’ tegasnya

Sedangkan Kepala Pendidikan Tinggi Wilayah III Jakarta, Kemendikbudristek, Dr. Ir. Paristiyanti Nurwardani, M.P., menyatakan Gubernur Koster memang benar adalah keluarga Untar. ‘’Beliau adalah teladan nyata yang bisa dijadikan teladan bersama kita di Untar untuk mewarnai Indonesia dan dunia. Kami akan mohon CV Bapak Gubernur Bali untuk dijadikan teladan mahasiswa agar tercipta SDM unggul dan maju dengan memiliki integritas,’’ tandasnya. (dwa)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini