Kasus-kasus Besar Terungkap, Pelayanan Polresta Makin Mantap

jayan 1
SS - Kapolda Bali, Irjen Putu Jayan Danu Putra saat menginterogasi pemilik belasan kilo sabu-sabu (SS).

KOTA Denpasar menjadi tempat paling heterogen di Bali. Meski tindak kriminalitas tidak setinggi di kota-kota besar lainnya, namun gangguan keamanan yang meresahkan masyarakat juga kerap terjadi di Bali. Aksi kriminal yang menonjol di Bali khususnya di Denpasar yaitu peredaran narkoba dan kejahatan jalanan. Hal itu diakui Kapolresta Denpasar, Kombes Bambang Yugo Pamungkas.

Di masa kepemimpinannya, lulusan Akpol 2000 tersebut bertekad memerangi dan menumpas para preman, ormas atau sejenisnya jika berulah di Denpasar. Termasuk membasmi para pengedar narkoba. Tak sekadar pemanis bibir, tekad tersebut dibuktikan perwira polisi kelahiran Boyolali, Jawa Tengah ini. Selama 9 bulan bertugas di Polresta Denpasar, dia mengklaim telah mengungkap berbagai tindak kejahatan termasuk pengungkapan kasus narkoba skala besar. Termasuk meningkatkan proses pelayanan kepolisian terhadap masyarakat. Salah satunya dalam menindaklanjuti laporan kasus kriminal.

Seperti penanganan kasus dugaan penipuan investasi bodong berkedok koperasi bernama PT. Goldkoin Sevalon Internasional (GSI). Di bawah komando Bambang, kurang dari dua bulan penyidik Unit V Satuan Reserse Kriminal Polresta Denpasar bergerak cepat menahan bos PT GSI yakni Rizki Adam dan anak buahnya, Ngurah Arta.

Penahanan Rizki Adam setidaknya membuat ribuan korban yang kehilangan uang dari puluhan juta hingga miliran rupiah memiliki harapan untuk mendapatkan dana yang telah disetorkan. “Di Polresta Denpasar hanya satu korban yang melapor dan kantor PT. GSI di Jalan Nangka Selatan, Denpasar langsung disegel. Sementara puluhan member yang melapor ke Polda Bali belum mendapatkan tanggapan hingga kini. Merasa kecewa kami sempat mendatangi SPKT Polda Bali untuk minta kejelasan laporan,” kata salah seorang korban  PT. GSI dengan wajah kecewa. saat ditemui beberapa waktu lalu.

Peningkatan kualitas pelayanan kepolisian di Polresta Denpasar juga diakui seorang advokat muda, I Made Suardana. Pengacara nyentrik ini mengaku beberapa perkara yang ditanganinya lebih cepat diproses di Polresta Denpasar.

Menurutnya, birokrasi Polresta Denpasar dan polsek jajaran tidak rumit dan bertele-tele. Seperti saat melapor ke SPKT, petugas yang menerima laporan langsung memanggil penyidik untuk dicek, apakah laporannya diterima atau tidak. “Jadi cepat. Kalau melapor di tingkat lebih tinggi (Polda) ada proses dan tahapan yang panjang. Harus meminta persetujuan Kanit, Kasubdit, Direktur. Jadi lebih lama prosesnya,” bebernya.

Sementara itu, terkait pemberantasan tindak kejahatan narkoba, Bambang Yugo Pamungkas mengatakan, Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polresta Denpasar juga sempat mengungkap kasus narkoba dengan barang bukti 17 kg sabu-sabu (SS). Barang terlarang bernilai puluhan miliar itu merupakan pengungkapan kasus terbesar yang pernah dilakukan Polresta Denpasar.

SS tersebut diselundupkan dari Kalimantan ke Bali melalui jalur laut. Barang bukti yang dikemas dengan teh berisi tulisan mandarin itu disita dari dua orang pengedar yakni Muhamad Ansar (25) dan Aulia Rahman (29). Mereka merupakan suruhan bandar besar di Banjarmasin, Kalimantan, berinisial M dan F. Dua pelaku digerebek di salah satu hotel di Kuta, Sabtu 19 Februari 2022. “Kami amankan barang bukti 18 kg sisa dari 25 kg yang telah diedarkan,” kata suami dari Bupati Mamuju, Sutinah Suhardi tersebut ke awak media saat menggelar jumpa pers beberapa waktu lalu.

Baca juga :  Motor Hantam Pohon, Seorang Tewas Satu Kritis

Dua bulan berselang, giliran industri rumahan pembuatan kue kukis berbahan baku narkoba digerebek petugas. Bahkan waktu itu, tidak seperti biasanya Kapolresta Denpasar menggelar press rilis di lokasi penggerebekan di Jalan Ida Bagus Oka Gang Pasa Tempo No.9, Panjer, Denpasar Selatan, Rabu 6 April 2022.

Di lokasi, polisi mengamankan belasan potong kue kukis berbahan narkoba yang siap dikirim ke Jakarta dan diedarkan di Bali. Termasuk pembuatnya yakni Emanuel Chaesar Bagaskara (24) juga ditangkap. “Anggota kami awalnya mendapatkan informasi dari petugas Bea dan Cukai ada kiriman paket mencurigakan dari Tiongkok ke seseorang di Denpasar. Setelah dicek, ternyata isi paket tersebut mengandung narkotika golongan satu jenis sintetis. Ini narkotika jenis baru,” ucap pria yang murah senyum dan gemar bergurau ini dengan wajah sumringah kala itu.

Pengungkapan kasus narkoba yang dilakukan Polresta Denpasar juga mendapatkan apresiasi Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar, Made Muliawan Arya. Menurut pria yang akrab disapa De Gadjah ini, keberhasilan jajaran Polresta Denpasar mengungkap kasus narkoba jenis SS seberat 17 kilogram adalah kinerja luar biasa yang sangat perlu diapresiasi. “Ini kinerja luar biasa dari jajaran kepolisian yang patut diapresiasi,” tegasnya, Rabu 11 Mei 2022.

Dia sangat mendukung penerapan hukuman berat bagi pemilik barang haram tersebut. Menurutnya, pengedaran narkoba merupakan sebuah kejahatan besar dan para pelakunya harus mendapat hukuman maksimal. “Narkoba merusak mental generasi sehingga akhirnya akan membuat bangsa ini menjadi rapuh. Para pelaku pengedar narkoba harus mendapat hukuman berat,” tambahnya.

Politisi dari Partai Gerinda ini berharap, jajaran kepolisian dapat mengungkap kasus tersebut sampai ke akar-akarnya sehingga Bali, khususnya Denpasar terbebas dari ancaman bahaya peredaran narkoba. Dia mengajak seluruh masyarakat untuk ikut bersama-sama melakukan pengawasan agar generasi muda tidak terjebak ke dalam pengaruh narkoba.

Menurut De Gadjah, penanggulangan dan pencegahan peredaran narkoba membutuhkan peran aktif semua pihak. Beban ini tidak bisa disandarkan kepada pihak kepolisian saja tetapi harus ada keterlibatan masyarakat. “Masyarakat harus berperan aktif sehingga polisi terbantu dalam mengungkap kasus-kasus narkoba. Pemerintah daerah juga tidak kalah penting peranannya melalui sosialisasi terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba,” tegasnya.

Baca juga :  Donor Darah Kodam Udayana Libatkan Ratusan Peserta, Datang Bergantian dan Taat Prokes

Selain mengungkap kasus narkoba yang cukup menonjol, komitmen memberantas geng motor juga dibuktikan perwira kelahiran 14 Mei 1978 ini. Puluhan geng motor yang rata-rata masih berusia belasan tahun ditangkap dari beberapa titik lokasi balap liar. Seperti di Jalan Gatot Subroto Barat, Jalan Mahendradatta, Jalan By-pass Ngurah Rai dan Jalan Teuku Umar Barat. Tidak sampai di sana, puluhan pelajar yang berbuat ulah dengan berkonvoi di Kota Denpasar juga sempat digelandang ke Mapolresta Denpasar.

Penertiban geng motor yang termasuk aksi kejahatan jalanan yang dilakukan Polresta Denpasar mendapatkan apresiasi dari Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Kota Denpasar, Anak Agung Ketut Sudiana. “Kami mendukung langkah yang dilakukan Polresta Denpasar dalam menertibkan aksi geng motor dan kejahatan jalanan yang meresahkan warga Denpasar,” katanya, Jumat 14 Mei 2022.

Menurut Sudiana, sikap yang dilakukan Bambang Yugo Pamungkas beserta anggota jajaran sudah tepat dalam menjaga keamanan wilayah hukumnya. “Kami dari Majelis Desa Adat Kota Denpasar mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Kapolresta beserta jajarannya untuk menjaga keamanan wilayah hukum Kota Denpasar khususnya. Karena Kota Denpasar ini menjadi barometer dari Provinsi Bali, Nasional dan Internasional,” ujarnya.

Sudiana mengungkapkan, pihaknya akan melakukan sinergi dengan Polresta Denpasar dan mendukung upaya dalam menangani geng motor atau gangguan Kamtibmas khususnya Kota Denpasar.

Bersama Desa Adat Kota Denpasar, Sudiana mengaku telah melakukan upaya pengamanan di tingkat Desa kemudian di Kecamatan hingga Kota Denpasar keseluruhan. “Kami menerapkan sistem pengamanan terpadu berbasis Desa Adat, tentunya melakukan sinergitas dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, unsur Pemerintah Desa Dinas dan Desa Adat,” tegasnya.

Di samping keberhasilan mengungkap kasus besar, Bambang diharapkan menyelesaikan kasus lainnya. Salah satunya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan kasus asusila terhadap anak yang cukup tinggi di Denpasar.

Pengurus Yayasan Duta Bina Bhuana (lembaga yang memberikan pendampingan hukum secara gratis terhadap korban kasus asusila terhadap adak dan KDRT) Ni Luh Arie Ratna Sukasari, mengharapkan Polresta Denpasar menangani secara serius kasus-kasus yang dialami perempuan dan anak serta KDRT. “Di Bali secara umum tak terkecuali di Denpasar, kasus kerasan terhadap anak dan perempuan utamanya kasus asusila serta KDRT cukup tinggi,” tutur Sukasari.

Hanya saja, sambung Sukasari, banyak korban seperti KDRT dan asusila takut melapor ke polisi. Hal itu dikarenakan para pelakunya cenderung orang dekat para korban. “Mereka takut melapor karena ancaman, nama baik keluarga dan lain sebagainya. Selain melakukan penindakan bagi pelaku, saya harap Polresta Denpasar melalui Bhabinkamtibmas atau anggotanya lebih proaktif mencari informasi dan memantau situasi masyarakat di wilayah binaannya,” harapnya.

Baca juga :  Rapid Test 80 Warga Perum Pondok Galeria, Pasangan Suami Istri Reaktif

Menurut Sukasari, tak hanya penanganan dan perlindungan bagi para korban asusila dan KDRT, pelaku kejahatan yang dilakukan anak di bawah umur juga diharapkan menjadi perhatian pihak kepolisan. “Mereka belum matang dan masih labil. Untuk itu perlu dilakukan penyuluhan dan pencegahan. Hal itu sangat penting dilakukan oleh kepolisian karena anak-anak merupakan pilar bangsa kita,” tutupnya.

Terkait penanganan kasus KDRT dan asusila terhadap anak, Kasat Reskrim Polresta Denpasar, Kompol Mikael Hutabarat, mengatakan, selama 2021 anak-anak yang menjadi korban kriminalitas jumlahnya tidak terlalu menonjol. Namun sebaliknya, anak-anak yang terlibat kriminalitas malah cukup tinggi. “Biasanya anak-anak menjadi korban kekerasan seksual dan perdagangan anak. Memang kami belum kategorikan kejadian tersebut sebagai kasus menonjol. Terutama perdagangan anak di wilayah hukum Polresta Denpasar masih tergolong minim,” ujarnya.

Walau demikian, kata Mikael, bukan berarti Polresta Denpasar abai dengan kasus yang dialami anak-anak. Hal itu menjadi perhatian dalam penanganannya. “Melalui Unit PPA, kami secara terus-menerus melakukan penegakan hukum. Juga melaksanakan langkah-langkah pencegahan berupa memberikan sosialisasi imbauan-imbauan terhadap masyarakat dan pihak terkait,” imbuhnya, seraya mengatakan jika jumlah korban kekerasan yang dialami anak-anak sekitar 20 sampai 30 kasus selama setahun.

Selain menjadi korban kasus kejahatan, kata Mikael, sejumlah anak di bawah umur juga justru menjadi pelaku tindak kriminal. Unit Perlindungan Perempuan dam Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal Polresta Denpasar mencatat, selama lima bulan ada puluhan pelajar yang terlibat berbagai kasus kejahatan.

Mikael mengungkapkan, anak di bawah umur yang terlibat kasus kriminalitas dari awal Januari hingga Desember 2021 mencapai 15 orang. Jumlah itu meningkat di tahun 2022. Bahkan lima bulan terakhir mencapai puluhan. “Detail jumlah atau angka pelaku kriminalitas yang dilakukan anak di bawah umur akan saya cek dulu. Meski di bawah umur atau tergolong anak, tetap kami proses hukum. Walaupun pemidanaan berbeda dengan orang dewasa,” ucap perwira polisi kelahiran Medan, Sumatra Utara ini.

Mikael juga menjelaskan, aksi kejahatan yang melibatkan anak-anak di Denpasar, mulai dari pencurian motor, pencurian biasa, pencurian dengan kekerasan, pencabulan atau pelecehan seksual dan lainnya. “Yang tingginya juga adalah aksi balap liar dan pencurian,” bebernya. Dia mengimbau kepada orang tua agar lebih mengawasi aktivitas anak-anaknya dari pergaulan yang tidak benar atau negatif. (124)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini