Perajin Capil di Klungkung Keluhkan Bahan Baku di Musim Hujan

picsart 22 10 20 18 29 28 254
BERTAHAN - Perajin capil di Dusun Pemenang, Desa Nyalian, Banjarangkan, Klungkung, tetap bertahan membuat capil walaupun harga bahan baku naik.

Semarapura, DENPOST.id

Aktivitas perajin anyaman capil (sejenis topi tradisional Bali) di Dusun Pemenang, Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, belakangan ini mulai lesu. Selain kesulitan modal, mereka mulai kesulitan mendapatkan bahan baku janur di saat musim penghujan sekarang ini. Belum lagi harga janur dalam sebulan ini, meroket karena hari raya.

Seperti yang disampaikan salah seorang perajin anyaman capil, Ni Nyoman Remi (50). Ibu tiga anak ini mengaku sejak musim penghujan ini, kesulitan mendapatkan bahan baku. Bahkan ia juga mengaku tidak bisa menganyam di saat musim hujan. Karena jikapun ada janur, janur yang dipakai cepat berwarna hitam dan jamuran.

“Musim hujan seperti ini memang sulit dapat atau beli janur. Biasanya saya cari bahan ke Gianyar karena sudah langganan,” ungkap Remi, ketika ditemui di rumahnya, Kamis (20/10/2022).

Menurut Remi, di musim penghujan saat ini memang sulit mendapatkan janur. Belum lagi janur di pasar tradisional diborong warga untuk keperluan hari raya. Tidak itu saja, harga janur dalam sebulan ini juga meroket dan bahkan tembus mencapai Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per ikat.

Baca juga :  Gudang Furniture Tertimpa Pohon Kelapa

“Biasanya kami membeli satu ikat janur berisi 50 batang janur dengan harga berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Tapi sebulan ini harganya bisa mencapai Rp25 ribu,” katanya.

Selain masalah harga, Remi juga mengatakan kalau kondisi janur yang ada di pasar sebagian besar didatangkan dari luar Bali, seperti dari Lombok dan Jawa. Kualitasnya dinilai kurang bagus ketimbang janur lokal untuk dijadikan capil karena ukurannya pendek-pendek.

Baca juga :  Temui Warga Miskin, Ini yang Dilakukan Polwan Polres Klungkung

Karena kesulitan bahan baku, Remi mengaku tidak banyak menghasilkan capil. Bahkan ia mengaku sempat tidak memproduksi capil karena saking mahalnya harga janur. Padahal order langganannya, pengepul di Tabanan dan Gianyar selama ini cukup lancar mengambil capil kepada dirinya.

Yang membuat dilema lagi saat harga bahan baku meroket, harga jual capil per bijinya justru stagnan. Perajin tidak berani menaikkan harga, khawatir pelanggannya berpaling ke tempat lain. Apalagi kerajinan anyaman capil tidak saja ada di Klungkung juga di kabupaten lain. Sementara untuk satu ikat (50 batang) janur hanya bisa dianyam menjadi satu capil dengan harga Rp15 ribu hingga Rp25 ribu.

Baca juga :  Propam Cek Urine 25 Personel Polres Klungkung

“Harga capil sesuai kualitas bahan, kalau janurnya yang putih (bersih) harga capil bisa Rp25 ribu per biji. Sedangkan dari slepan (daun kelapa) harganya Rp15 ribu,” ujar Remi.

Hal senada juga dikatakan perajin capil lainnya, Nengah Suda. Pihaknya mengaku lebih sering mengambil janur di Pasar Gianyar. Sebab, harganya lebih murah daripada di Klungkung dan stoknya lebih banyak. Tapi janur yang dibeli sebagian besar didatangkan dari Lombok. Bahkan ukurannya sedikit pendek, tidak begitu panjang seperti janur lokal.

“Dalam sehari, rata-rata kami bisa menyelesaikan 10 sampai 15 capil. Tapi untung yang kami dapat tidak banyak. Untuk satu kodi (20 biji), kami bisa untung antara Rp25 ribu sampai Rp50 ribu,” tandasnya. (119)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini