Muncul Surat Penghentian Operasional Dermaga, Desa Adat Tri Bhuwana Protes

jeti 1
PELABUHAN TRI BHUWANA - Para penumpang boat ketika menggunakan jembatan di Pelabuhan Tri Bhuwana, Desa Kusamba, Dawan, Klungkung, Selasa (25/10/2022).

Semarapura, DENPOST.id

Situasi Pelabuhan Tri Bhuwana, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Selasa (25/10/2022) terlihat sedikit berbeda dari hari biasanya. Hal ini menyusul banyaknya pecalang dari Desa Adat Tri Bhuwana yang turun ke pelabuhan dan protes terhadap surat yang dikeluarkan Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas II Nusa Penida terkait penghentian operasional dermaga atau jetty, Senin (24/10/2022).

Kehadiran belasan pecalang di pelabuhan ini dikoordinir langsung Bendesa Adat Tri Bhuwana, I Gusti Lanang Putra Wijaya. Mereka intinya tidak terima operasional dermaga atau jetty di Pelabuhan Tri Bhuwana distop gara-gara belum mengantongi izin pembangunan terminal khusus. Apalagi surat penghentian operasional jetty tanpa koordinasi dulu dengan pihak Desa Adat Tri Bhuwana.

“Dermaga atau jetty ini dikelola pihak desa adat. Kita (desa adat) izinnya include dari Kementerian Kelautan. Semuanya sudah ada izinnya baik itu tangga, jetty sudah keluar izinnya sebulan lalu. Izinnya pemanfaatan ruang laut sehingga kita berani memanfaatkan fasilitas yang kita miliki,” ungkap Lanang Putra Wijaya ketika ditemui di Pelabuhan Tri Bhuwana.

Dia mengaku tidak mengerti kenapa harus mengantongi izin pembangunan terminal khusus lagi. Karena pihaknya di desa adat sudah memiliki izin pemanfaatan ruang laut. Apalagi Pelabuhan Tri Bhuwana merupakan pelabuhan rakyat yang dimanfaatkan untuk kepentingan umum dan digunakan setiap saat. “Kalau kita diarahkan ke izin terminal khusus, apakah izin yang kita miliki akan ditumpuk? Izin yang kita miliki ini kan dikeluarkan pusat. Kita di desa adat hanya mengikuti aturan. Lain halnya usaha perorangan, mereka wajib mengantongi izin terminal khusus,” ujarnya.

Baca juga :  Komitmen Tata Keuangan Negara, Gubernur Koster Diapresiasi Anggota VI BPK RI

Lanang Putra Wijaya juga mengatakan akan mencari keadilan jika operasional dermaga di Pelabuhan Tri Bhuwana tetap dihentikan. Apalagi di Klungkung daratan ada tiga pelabuhan yang beroperasi. Belum lagi yang ada di Nusa Penida. Dia pun meminta pihak terkait dalam hal ini Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas II Nusa Penida mengecek semua izin pelabuhan tersebut. “Kalau mereka bisa memberikan dasar pelabuhan tersebut sudah mengantongi izin semuanya, kita tidak masalah kita akan tutup. Jangan sampai kita saja di Pelabuhan Tri Bhuwana yang diintimidasi,” protesnya.

Baca juga :  Angin Puting Beliung, Bangunan dan Truk Rusak Ditimpa Pohon

Lanang Putra Wijaya mengaku sangat keberatan jika operasional dermaga dihentikan. Karena hal ini dapat mempengaruhi pendapatan yang diterima. Belum lagi dana yang dikeluarkan dari desa adat untuk membangun jembatan tersebut tidak sedikit yakni mencapai Rp 1,2 miliar. Dana tersebut juga merupakan pinjaman dari pengusaha boat yang dibayar dari pemotongan kontribusi yang didapat dari pengelolaan pelabuhan. “Tidak hanya membuat pendapatan tersendat, mata pencaharian warga juga akan hilang. Dan, warga yang bekerja di sini tidak hanya warga lokal, namun juga ada dari warga luar seperti Gunaksa dan Kusamba,” katanya.

Baca juga :  Koster Akui Sempat Cemas Sebelum Divaksin, Kadiskes Sebut Wajar

Sementara itu, petugas syahbandar Kusamba, I Nengah Warnata, ketika dimintai konfirmasi berdalih surat yang dilayangkan Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas II Nusa Penida terkait penghentian operasional dermaga atau jetty baru bersifat teguran. Ia pun akan berkoordinasi lagi dengan pimpinannya menindaklanjuti keberatan dari pihak Desa Adat Tri Bhuana. “Kami akan koordinasi lagi dengan pimpinan. Ini baru sifatnya teguran. Apalagi dermaga tersebut masih digunakan,” katanya. (119)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini