Penyebab Banjir Bandang Akibat Longsor di Blok Hutan Inti

picsart 22 10 28 20 42 22 819
LONGSOR - Longsor yang terjadi di kawasan blok hutan inti yang sempat dicek tim gabungan.

Negara, DENPOST.id

Pascabanjir bandang, tim gabungan dari Kehutanan, KPH Bali Barat, Polda Bali, dan warga telah melakukan penelusuran sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Biluk Poh. Dari hasil penelusuran didapatkan fakta kalau selain longsor di kawasan blok hutan inti, juga banyak pohon di sepanjang aliran sungai tersapu banjir. Akibatnya banyak batang kayu, termasuk kayu besar yang terseret arus banjir.

Kepala Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Bali Barat, Agus Sugianto, Kamis (27/10/2022), mengatakan pihaknya telah melakukan penelusuran bersama-sama yang dilakukan di aliran sungai itu. Menurut dia. di sepanjang DAS di luar kawasan hutan banyak pohon tumbang dan masih di lokasi.

Baca juga :  Pretima Pura Dalem Perancak Digondol Maling

Sedangkan di kawasan hutan inti, terdapat beberapa titik longsor yang mengarah ke sepanjang DAS. Dikatakan itu hasil secara kasar dan itu, sudah dikirim ke KLHK.

Pihaknya menegaskan kepada kelompok yang mendapat hak pengelolaan hutan agar mengikuti kesepakatan yang dilakukan sebelumnya. Dikatakan yang perlu diingat, mendapatkan hak itu tidak mudah dan para anggota kelompok ini secara tidak langsung sebagai kader-kader relawan pelestarian hutan dan ikut menjaga kelestarian hutan di kawasan inti, serta mengelola zona pemanfaatan sesuai dengan petunjuk teknis tanaman yang diperbolehkan.

Baca juga :  Pos Lantas Sudirman Dewata Dilengkapi CCTV dan Kendali Informasi

Para kelompok yang notabene menjadi penjaga hutan ini, menurutnya juga semestinya mendapatkan bantuan permodalan dalam upaya penanaman dan sarana pendukung lainnya. Kelompok-kelompok pengelola hutan ini juga sebagai agen atau relawan menjaga hutan lestari dan solusi pendekatan menghentikan perambahan dan ilegal logging.

Diluar itu, perambahan dan ilegal logging juga yang harus menjadi perhatian bersama adalah penertiban pipa-pipa air liar hingga ke kawasan hutan. Dari pengecekan di sejumlah DAS, ada banyak pipa terjulur dari dalam hutan entah untuk keperluan apa. Ini katanya yang menjadi perhatian juga, pengambilan air secara tidak terkendali ini juga sangat berdampak. “Di satu DAS saja, ada yang sampai 25 pipa, ini yang harus juga diatur ke depannya,” kata Agus.

Baca juga :  Setop Perundungan, Bhabinkamtibmas Edukasi Siswa

Pemanfaatan air dari dalam kawasan tanpa terkendali katanya sangat berdampak besar mempengaruhi kualitas resapan di hulu. Kebutuhan air memang perlu, tetapi menurutnya harus diatur bersama-sama agar tidak liar.
Pihaknya mengatakan ke depan ini, menjadi perhatian serius. (120)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini