Rawan Bencana, Jembrana Belum Miliki Tim Jitupasna

picsart 22 10 17 08 25 16 558
BANJIR BANDANG - Kondisi jembatan Biluk Poh, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana yang dipenuhi kayu besar akibat banjir bandang.

Negara, DENPOST.id

Untuk daerah rawan bencana seperti di Jembrana, keberadaan tim Pengkajian Kebutuhan Pasca-Bencana (Jitupasna) atau post disaster need assesment sangat dibutuhkan.
Tim ini dibutuhkan agar prioritas penanganan bisa cepat dilakukan.
Tim ini memiliki kemampuan untuk menghitung kerusakan dan kerugian dari sebuah bencana. Juga bisa mendeskripsikan kondisi sehingga dapat dijadikan dasar untuk menentukan prioritas penanganan pascabencana. Namun hingga saat ini Jembrana belum memiliki tim ini.

Baca juga :  Kasus Pencabulan Diduga Terjadi di Pondok Pesantren di Jembrana

Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, Rabu (2/11/2022) mengaku  akan segera membentuknya. Terlebih sekarang, untuk mengajukan proposal perbaikan akibat bencana melalui E-Proposal, tim Jitupasna harus ada dan terlibat. “Masih kita koordinasikan karena anggotanya dari instansi terkait seperti PU, Bapeda, PMD dan yang lain. Contohnya ada jembatan putus pascabanjir bandang, nanti tim yang bekerja berapa nilainya,” terangnya.

Sementara itu, bencana banjir bandang di sejumlah kawasan di Kabupaten Jembrana menimbulkan kerugian hingga puluhan miliar rupiah.
Banjir bandang pada Minggu, 16 Oktober hingga Senin 17 Oktober 2022 lalu selain merusak beberapa infrastruktur seperti jembatan dan jalan, juga merusak rumah warga. Bahkan, beberapa rumah warga di lingkungan Bilukpoh Kangin, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo hanya tinggal pondasi setelah tersapu banjir bandang Sungai Bilukpoh. (120)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini