Arak Bali Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

kosterku
ARAK BALI - Gubernur Bali Wayan Koster berada di samping sejumlah arak bali yang kini ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. (DenPost.id/ist)

ARAK bali dan delapan warisan budaya Bali lainnya ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, pada Sidang Penetapan WBTB secara hybrid (luring dan daring) pada 27 September hingga 1 Oktober 2021, di Hotel The Alana Malioboro, Yogyakarta. Penetapan ini dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi No.414/P/2022 tentang penetapan warisan budaya tak benda Indonesia tahun 2022.

Dengan ditetapkannya menjadi WBTB, arak bali telah mendapat pengakuan dan legitimasi kuat bahwa warisan leluhur ini harus dijaga bersama-sama dengan kuat dan konsisten. Di samping itu diberdayakan secara ekonomi menjadi sumber kehidupan dan kesejahteraan masyarakat Bali. Dengan upaya tersebut, arak bali menjadi semakin kuat.

Sidang penetapan diawali dengan pemaparan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali mengenai urgensi usulan penetapan sembilan warisan budaya Bali menjadi WBTB nasional. Seperti kemahiran membuat arak bali merupakan pengetahuan tradisional yang perlu dikembangkan karena, selain mengandung nilai kehidupan, juga berpeluang besar sebagai sumber penghidupan dan kesejahteraan masyarakat Bali. Dengan penetapan menjadi WBTB, arak bali dan delapan warisan budaya lainnya akan mendapat pelidungan dan pengakuan secara nasional.

Sidang dipimpin Direktur Pelindungan Kebudayaan, Irini Dewi; serta dihadiri Ketua Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda Basuki Teguh Yuwono; anggota Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda M.Natsir Ridwan selaku Koordinator Kelompok Kerja Penetapan Direktorat Pelindungan Kebudayaan; Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya dan Kepala Dinas (Provinsi/Kabupaten/Kota) yang membidangi kebudayaan atau yang mewakili secara hybrid (daring dan luring).

Sidang penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia tahun ini menghasilkan rekomendasi penetapan sejumlah 200 usulan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari tiga 32 provinsi. Sembilan di antaranya merupakan warisan budaya Bali yaitu: arak bali (kemahiran kerajinan tradisional); uyah (garam) amed (kemahiran kerajinan tradisional); jaja laklak (kemahiran kerajinan tradisional); lontar Bali (pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta); sate lilit (kemahiran kerajinan tradisional); karya pemijilan Ida Bhatara Sakti Ngerta Gumi (adat-istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan); berko (seni pertunjukan); majaran-jaranan (adat-istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan); dan serombotan (kemahiran kerajinan tradisional).

Baca juga :  Perusak Baliho Kapolda Bali Akhirnya Teridentifikasi

Gubernur Bali Wayan Koster mengapresiasi penetapan sembilan warisan budaya Bali menjadi WBTB Indonesia dan minta masyarakat Bali agar merawat, melestarikan, dan mengembangkan warisan budaya ini. Gubernua Bali tamatan ITB ini juga memerintahkan Kepala Dinas Kebudayaan, baik provinsi maupun kabupaten/kota se-Bali agar secara aktif menelusuri warisan-warisan budaya Bali untuk diajukan menjadi WBTB agar semuanya terlindungi dan mendapat pengakuan negara.

Gubernur Koster telah melakukan berbagai upaya untuk melindungi warisan budaya Bali sebagai implementasi visi “Nangun Sat Kerthi loka Bali” melalui Pola Pembangunan Semesta berencana menuju Bali Era Baru. Seperti arak bali, sebelumnya kemahiran tradisional ini, cenderung tidak terlindungi bahkan para produsen berlaku sembunyi-sembunyi karena takut dianggap pengedar minuman keras. Namun sejak terbitnya Pergub Bali No.1 Tahun 2020 tentang tata kelola minuman fermentasi dan/atau destilasi khas Bali, akhirnya arak bali mendapat pelindungan legalitas sekaligus izin edar. Para petani arak menyambut gembira dan berbagai kreativitas tumbuh, mulai dari kemasan yang elegan dan berkualitas hingga inovasi berbagai aroma dan rasa. Ini artinya Pemprov Bali telah hadir melindungi, merawat, dan memajukan warisan leluhur, yaitu kemahiran-kemahiran kerajinan tradisional membuat minuman arak. Gubernur Koster terus berjuang dengan upaya nyata menerbitkan Pergub Bali, terus menerus melakukan promosi, pembinaan, pengembangan, dan pengawasan, sehingga arak bali masuk kategori minuman spirit ke-7 dunia.

Baca juga :  Di Denpasar, Kembali 13 Pasien Sembuh dan 6 Orang Positif

Minuman yang masuk kategori spirit dunia adalah minuman kategori golongan C dengan kadar alkohol 25%-45%, yang dibuat dengan proses destilasi. Dengan demikian terdapat tuuh minuman spirit dunia yaitu: whiskey, dengan kadar 40% (asal Irlandia); Rum, dengan kadar 40%, dibuat dari sari tebu yang disebut molase (India Barat); gin, dengan kadar 40%, dibuat dari buah juniver (Belanda); vodka, dengan kadar 35% (Rusia); tequila, dengan kadar 33%, (Meksiko); brandy, dengan kadar 35%, dibuat dari buah anggur (Belanda); dan balinesse arak/barak, dengan kadar 35%-40%, dibuat dari bahan kelapa, enau, dan lontar (Bali).

Berbagai upaya nyata yang dilakukan Gubernur Koster secara konsisten menunjukkan hasil secara nyata yang dirasakan oleh perajin dan pelaku usaha arak bali. Menurut Gubernur Koster, penetapan arak bali sebagai WBTB merupakan kado istimewa tahun ini bagi perajin dan pelaku usaha arak bali.

Baca juga :  Jerinx Bebas, Sang Ayah Harapkan Jadi Lebih Baik

Gubernur asal Desa Sembiran, Buleleng, ini menegaskan dengan ditetapkannya menjadi WBTB, maka proses destilasi tradisional pembuatan arak bali harus dipertahankan, tidak boleh diubah dengan bebas, dan harus dipertahankan keasliannya. Masyarakat tidak boleh membuat arak gula dengan proses fermentasi, karena akan merusak tradisi arak bali. Kalau melanggar, maka akan ditindak tegas.

Sebagai bentuk apresiasi atas penetapan arak bali menjadi WBTB nasional, Gubernur Koster mengadakan cocktail party dan dinner yang dirangkaikan dengan perayaan rahina Tumpek Landep secara sekala pada Sabtu (5/11) besok. Acara digelar di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, yang dihadiri para perajin arak se-Bali, para manajer hotel, dan pengusaha pariwisata Bali. Acara ini bertujuan meyakinkan masyarakat, terutama para pelaku usaha pariwisata, bahwa arak bali telah mendapat pengakuan nasional dan memenuhi standar kualitas minuman destilasi. Dengan demikian, sangat layak dijadikan sebagai menu sajian di hotel-hotel dan restoran. Acara ini akan memberi dampak positif bagi para perajin arak sehingga mereka akan terus berinovasi.

Gubernur Koster memerintahkan semua hotel, restoran, dan pelaku usaha pariwisata di Bali, agar menyajikan arak bali sebagai minuman bagi wisatawan, mengurangi bahkan meniadakan minuman impor. Gubernur Koster juga minta para perajin dan pelaku usaha arak bali agar terus meningkatkan kualitas kemasan dan branding dengan menggunakan aksara Bali, harus tertib dan disiplin, agar tetap mampu bersaing secara sehat dalam pasar lokal, nasional, dan global. (dwa)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini