Gubernur Rayakan Arak Bali Jadi WBTB Melalui ‘’Cocktail Party’’

kosterku1
TOAST ARAK BALI - Gubernur Bali Wayan Koster bersama Wagub Cok Ace dan Bupati Karangasem Gede Dana saat toast arak bali dengan GM hotel dalam cocktail party dan dinner di Jayasabha, Sabtu (5/11/2022) malam. DenPost/ist

GUBERNUR Bali Wayan Koster bersama Wakil Gubernur (Wagub) Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) dan Bupati Karangasem Gede Dana menyambut gembira ditetapkannya arak bali dan delapan warisan budaya Bali lainnya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia 2022 yang dituangkan dalam SK Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi No.414/P/2022 tentang penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Sebagai wujud syukur, Gubernur Koster berkumpul bersama perajin arak, manajer hotel, hingga pelaku pariwisata Bali, menggelar acara cocktail party dan dinner (makan malam) di Jayasabha, Denpasar. Sedangkan pada Sabtu (5/11/2022), secara niskala, Gubernur Koster melaksanakan persembahyangan rahina Tumpek Landep dengan upacara Atma dan atau Jana Kerthi di Pura Batu Madeg, Besakih, Karangasem.

Gubernur Koster menyampaikan perayaan rahina Tumpek Landep sebagai implementasi SE Gubernur Bali No.04 Tahun 2022 tentang tata-titi kehidupan masyarakat Bali berdasarkan nilai-nilai kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru. Pemprov Bali menginisiasi perayaan rahina Tumpek Landep dengan upacara Jana dan atau Atma Kerthi melalui Instruksi Gubernur Bali No.12 Tahun 2022. Hal ini dilandasi nilai-nilai adiluhung Sad Kerthi yang perlu dipahami, dihayati, diterapkan, dan dilaksanakan secara menyeluruh, konsisten, berkelanjutan dengan tertib, disiplin, dan penuh tanggung jawab oleh masyarakat Bali.

Tumpek bagi orang Bali dianggap hari yang suci dan sakral karena pertemuan dua waktu transisi yaitu: Kliwon (waktu terakhir dari siklus Panca Wara) dan Saniscara atau Sabtu (waktu terakhir dari siklus Sapta Wara). Ada enam Tumpek yang terjadi setiap 35 hari sekali yaitu Tumpek Landep, Tumpek Wariga, Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye, dan Tumpek Wayang. Siklus ini berulang setiap 210 hari sekali. Setiap tumpek memiliki makna, petanda, dan penanda yang berpengaruh terhadap gejala alam dan kehidupan di muka bumi.

Tumpek Landep mengandung makna ketajaman dan kekuatan pikiran yang menjadikan manusia selalu kreatif  dan dapat mengatur kehidupan dengan baik. Merayakan Tumpek Landep bertujuan agar pikiran manusia tetap tajam dan kuat seperti gunung atau wukir. Pada rahina Tumpek Landep krama Bali memuja Dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati (Dewaning Undagi) atau Dewa Kecerdasan, mohon waranugraha agar umat manusia terus-menerus diberi kecerdasan dan keteguhan dalam menghadapi dinamika hidup.

Baca juga :  Persediaan Vaksin Mencukupi, Vaksinasi HPR Terus Berlanjut

Berbagai cara dilakukan masyarakat Bali dalam memaknai Tumpek Landep. Secara niskala dilakukan persembahyangan dan upacara yadnya sebagai wujud syukur atas anugerah Tuhan. Secara sekala, krama memuliakan dan merawat berbagai buah pikiran atau karya cipta-rasa-karsa manusia seperti keris, tombak, patung, senjata, mesin, makanan, minuman, termasuk hasil karya teknologi serta pengetahuan atau kemahiran tradisional yang lahir dari kelompok masyarakat dan digeluti secara konsisten salah satunya diwujudkan dengan membuat arak tradisional lokal Bali melalui cara destilasi.

Kemahiran membuat arak adalah pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur. Sesungguhnya kemahiran membuat arak bukan sebatas pengetahuan tradisional (knowledge), melainkan masuk kategori ilmu pengetahuan (science). Kemahiran membuat arak telah memenuhi syarat tiga kerangka dasar ilmu yaitu Ontologi (hakikat tentang ada), Epistemologi (teori dan metode), dan Aksiologi (nilai guna). “Pekerjaan membuat arak memerlukan keterampilan, ketekunan, keuletan, dan penuh perjuangan, sehingga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat yang wilayahnya memiliki potensi bahan baku untuk arak seperti pohon kelapa, pohon enau, dan pohon lontar yang tumbuh subur di Karangasem,” tegas Gubernur Koster.

‘’Dalam konteks inilah, saya mengeluarkan Peraturan Gubernur Bali No.1 Tahun 2020 tentang tata kelola minuman fermentasi dan atau destilasi khas Bali, maka arak bali secara legalitas mendapat pelindungan, selanjutnya berproses sehingga mendapat izin edar. Para petani dan pelaku usaha arak menyambut gembira berlakunya kebijakan yang diatur dengan Peraturan Gubernur Bali,’’ tegas mantan peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Depdikbud RI ini.

Baca juga :  Masa Kerja PPS Ditunda, KPU Siapkan SK

Dalam waktu cepat, sekitar dua tahun sejak berlaku Peraturan Gubernur Bali ini, pada tahun 2022 mulai berkembang berbagai produk arak dan produk olahan arak secara kreatif dan inovatif, berupa kemasan yang elegan, menarik, dan berkualitas, serta inovasi berbagai aroma dan rasa. Sampai saat ini, dari data yang ada, sudah ada 27 produk yang telah dan sedang berproses untuk mendapat izin, sehingga bisa dipasarkan di Bali, di luar Bali, dan di luar negeri.

Melihat tampilan kemasan produknya secara berkualitas, kini arak bali berkelas dunia dan tidak kalah dengan produk sejenis dari luar Bali. ‘’Untuk itu, saya terus mempromosikan produk arak bali. Arak bali yang dikemas secara elegan, menarik, dan berkualitas, lengkap dengan aksara Bali, saya promosikan ke tamu kenegaraan seperti duta besar, sampai menteri. Bahkan masyarakat yang beraudiensi ke Jayasabha menikmati kopi tanpa gula campur arak. Setiap tamu datang, saya juga tunjukkan produk arak bali di display ruang tamu Jayasabha, bahkan meja rapat saya berderet arak bali,” ungkap Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini, disambut apresiasi tepuk tangan hadirin.

Gubernur juga Koster menyatakan produk arak bali sudah masuk menjadi minuman spirit ke-7 dunia. Minuman yang masuk kategori spirit dunia adalah minuman kategori golongan C, dengan kadar alkohol 25%-45%, yang dibuat dengan proses destilasi. Dengan demikian, terdapat tujuh minuman spirit dunia yaitu: Whiskey dengan kadar 40% (asal Irlandia); Rum dengan kadar 40% dibuat dari sari tebu yang disebut molase (India Barat), Gin dengan kadar 40%, dibuat dari buah juniver (Belanda); Vodka dengan kadar 35%, (Rusia); Tequila dengan kadar 33%, (Meksiko); Brandy dengan kadar 35% dibuat dari buah anggur (Belanda); dan Balinese arak/barak dengan kadar 35%-40% dibuat dari bahan kelapa, enau, dan lontar (Bali).

Baca juga :  Belum Lengkapi Izin, Kapal Pengangkut PMI Terdampar di Karangasem

‘’Karena itu saya mengundang para manajer hotel dengan tujuan mengajak semua hotel menggunakan arak bali guna terwujudnya ekonomi kerakyatan yang kuat. Saya telah memproteksi untuk melarang pengusaha yang bermodal besar memproduksi arak bali. Kalau industri besar memproduksi arak bali, maka perajin lokal Bali akan mati. Saya sarankan pengusaha yang bermodal besar itu menjadi distributor agar masyarakat Bali mendapat manfaat keuntungan ekonomi sekaligus memberi dampak terhadap ekonomi Bali yang kuat,’’ ungkap Koster.

Menurutnya, inilah upaya serius yang secara nyata dia lakukan untuk hadir melindungi, merawat, dan memajukan warisan leluhur, yaitu kemahiran membuat minuman arak, dengan cara destilasi tradisional. Dengan ditetapkan menjadi WBTB, arak bali mendapat pengakuan dan legitimasi kuat, bahwa warisan leluhur ini harus dijaga bersama-sama dengan kuat dan konsisten, serta diberdayakan secara ekonomi, menjadi sumber kehidupan dan kesejahteraan masyarakat Bali. Dengan upaya tersebut, harkat arak bali menjadi semakin kuat.

Gubernur Koster minta perajin arak bali supaya tertib dan disiplin menjaga kualitas produksi. Kemudian kepada Bupati Karangasem, Gubernur Koster berharap agar menertibkan produksi arak gula yang diproses dengan cara fermentasi yang mampu merusak arak tradisional lokal Bali yang mendapat pengakuan sebagai WBTB Indonesia, supaya cita rasa arak bali terjaga kualitasnya di mata dunia. “Para manajer hotel, restoran, dan pelaku usaha pariwisata di Bali, agar ikut berkontribusi memajukan perajin arak di Bali dengan menyajikan arak bali sebagai tradisi minuman bagi wisatawan, dengan mengurangi, bahkan meniadakan minuman impor. Kalau belum coba arak bali, belum lengkap datang ke Bali,” tutup Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini. (dwa)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini