Dalam 10 Tahun, Jutaan Hektar Hutan di Indonesia Habis Dibabat

picsart 22 11 20 14 16 20 342
DISKUSI - Aktivis lingkungan hidup saat melakukan sesi diskusi Coffeetalk Pesta UMKM “Apa Kabar Kita” di Denpasar, Sabtu (19/11/2022).

Renon, DENPOST.id

Luas hutan Indonesia mengalami penurunan drastis dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun terakhir. Berdasarkan data Geoportal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 201, luas hutan Indonesia masih berada pada angka 92,798 juta hektar.

Namun dari tahun ke tahun, luas hutan Indonesia terus mengalami penurunan. Hingga pada tahun 2019, hanya tersisa 88.672 juta hektar. Untuk di Bali, kini hanya menyisakan 16 persen dari seluruh luas total Pulau Bali.

Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad, mengatakan, tingginya laju kerusakan hutan di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor. Yang paling dominan adalah pembukaan lahan untuk perkebunan dan areal pertambangan. “Sangat disayangkan luas hutan kita terus berkurang. Faktor penyebab utama adalah karena dibabat untuk perkebunan kelapa sawit dan pertambangan,” kata Nadia, dalam sesi diskusi Coffeetalk Pesta UMKM “Apa Kabar Kita” di Denpasar pada Sabtu (19/11/2022).

Masalah berkurangnya area tutupan hutan khususnya hutan hujan memang menjadi perhatian global. Sebab akibat berkurangnya area tutupan hujan berpengaruh pada kondisi bumi atau sering dikenal dengan perubahan iklim. Dampak lanjutannya adalah sering terjadi bencana seperti banjir, kekeringan, gagal panen dan tanah longsor. Semua penyebabnya adalah berkurangnya hutan di dunia. “Sesungguhnya penting bagi Indonesia punya hutan hujan. Bahkan hal ini menjadi pembicaraan khusus di KTT G20 kemarin,” ujarnya.

Baca juga :  Dishub Minta Operator Kapal Cepat Perhatikan Prokes dan Keselamatan Pelayaran

Menurut Nadia, menanam kembali hutan yang gundul bukan solusi ideal, jika mengacu pada penyebabnya. Sebab menanam bukanlah solusi cepat menjawab masalah saat ini. Hal yang perlu dilakukan adalah menjaga kawasan hutan agar tidak beralih fungsi untuk berbagai kepentingan komersil. Kemudian, gencar mengkampanyekan jaga sisa tutupan hutan. “Yang paling penting adalah dorong pemerintah lebih serius untuk mengurusi hutan, dengan cara perbesar anggaran secara serius, engga cuma pemodal besar saja yang diurusi tapi perlu memberi akses bagi warga untuk ambil bagian,” ucap Nadia.

Baca juga :  Denpasar Tambah 2 Positif Covid-19

Pada kesempatan yang sama, Peneliti Hukum dan Masyarakat (HuMa), Erwin Dwi Kristianto, mengatakan, hilangnya hutan dapat berpengaruh pada kehidupan warga sekitar hutan. Dia mencontohkan di Bali. Setidaknya terdapat 159 tanaman hutan yang berkaitan dengan upacara atau aktivitas warga. Jika hutan hilang maka dengan sendirinya akan berdampak pada 159 jenis tanaman ini. Demikian pula halnya di Kalimantan. Alat musik tradisional Kalimantan terbuat dari kayu khusus yang tumbuh di hutan. Jika kayu tersebut hilang maka eksistensi kesenian lokal Kalimantan juga akan tergerus. “Saya tidak yakin 159 jenis tanaman yang berkaitan dengan upacara di Bali itu semuanya masih ada. Dawai Kalimantan juga terbuat dari adiu, cuma di hutan. Kalau hutan engga ada lagi maka budaya akan hilang dan musisi tidak pakai dawai asli lagi,” ucap Erwin. (124)

Baca juga :  Mulai Senin, Anak dan Orangtua Bakal Belajar Melalui Siaran TV

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini