Gubernur Koster Buka Pesamuhan Agung Kebudayaan Bali

koster22
BUKA PESAMUHAN - Gubernur Bali Wayan Koster saat membuka Pesamuhan Agung Kebudayaan Bali pada Sabtu (26/11/2022) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya-Art Center, Abiankapas, Denpasar. (DenPost.id/ist)

Abiankapas, DenPost.id

Gubernur Bali Wayan Koster membuka Pesamuhan Agung Kebudayaan Bali pada Sabtu (26/11/2022) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya-Art Center, Abiankapas, Denpasar. Saat itu Gubenur didampingi  Ketua Sabha Prajuru Majelis Kebudayaan Bali, Prof Dr.Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Koster menyampaikan bahwa perjuangan di bidang kebudayaan ini dia lakoni sejak aktif menjadi anggota Komisi X DPR RI tiga periode dari Fraksi PDI Perjuangan dengan mengeluarkan Undang– undang No.5 Tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan. Saat dilantik menjadi Gubernur Bali pada 5 September 2018, Koster menjadikan Undang–undang No.5 Tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan sebagai landasan untuk membangun kebudayaan Bali dengan visi ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’ melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru sesuai pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Bali No.4 Tahun 2020 tentang penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali.

Berbagai unsur ada di dalam kebudayaan Bali, mulai dari adat, tradisi, seni, dan kearifan lokal, yang terdapat di delapan kabupaten dan satu kota di Bali dengan memiliki keunikan yang berbasis di desa adat. Desa adat inilah yang menjadi lembaga lahirnya pelestarian dan pengembangan berbagai tradisi, seni maupun kearifan lokal yang dimiliki Bali sangat banyak. Jadi inilah yang harus betul-betul menjadi kesadaran semua pihak di Bali, mulai dari masyarakat dan pemimpin, harus paham betul bahwa budaya inilah yang menjadi kekuatan utama Bali serta menjadi tatanan kehidupan krama yang menyatu dengan adat, seni, kearifan lokal, dan kehidupan keagamaan.

Gubernur Koster mengajak para pemimpin dan masyarakat supaya bersama–sama merawat kebudayaan Bali dengan serius, komitmen kuat dan selektif agar tetap eksis, survive (bertahan) dari zaman ke zaman dan dari generasi ke generasi. Budaya sebagai sumber nilai-nilai kehidupan yang membangun kesantunan, kesopanan, etika, dan karakter. Budaya juga mampu menghasilkan karya seni tari, gamelan, musik, seni patung, hingga seni lukis, dan budaya juga terbukti mengembangkan ekonomi rakyat. Ini harus dijalankan ke depan supaya Bali tetap survive dari apa yang menjadi kekayaannya dan jangan membuat Bali hidup ketergantungan dari sumber daya luar.

Baca juga :  Mantan Ketua LPD Belum Ditahan, Polisi Tunggu Arahan Jaksa

Gubernur Koster berharap agar Majelis Kebudayaan betul-betul melihat dengan cermat kebudayaan Bali, mana yang sudah tampil dan mana yang belum tampil untuk dirawat, digali, dan didata, seluruh aset kekayaan budaya Bali dalam Peta Kebudayaan Bali. “Mana seni tradisi zaman dahulu ada, sekarang sudah menghilang, agar dihidupkan lagi. Jika ada seni yang disalahgunakan harus kita perbaiki termasuk joged porno mesti dirapikan agar tidak merusak dan menurunkan kualitas kebudayaan Bali. Karena itu, Majelis Kebudayaan, Dinas Kebudayaan, bersama ISI Denpasar, dan perguruan tinggi lain menjalin kerja sama dengan semua desa adat untuk menjaga kembali kualitas, keunikan, keunggulan budaya Bali supaya terjaga dengan baik,” jelas Gubernur Koster yang saat ini membangun Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung.

Dalam implementasi visi ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’, sekarang penggunaan aksara bali diberlakukan lewat Peraturan Gubernur Bali No.80 Tahun 2018 tentang pelindungan dan penggunaan bahasa, aksara, dan sastra Bali, serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali. Aksara menunjukkan peradaban paling kuat bagi suatu bangsa. Negara yang mempunyai aksara itu adalah negara yang memiliki peradaban kuat, serta negara yang memiliki peradaban kuat itu adalah negara yang akan maju dan menjadi negara tangguh. ‘’Kita bersukur Bali memiliki aksara seperti halnya Jepang, Tiongkok, Korea, India, hingga Arab Saudi, yang kini menjadi negara maju,’’ tambah Koster.

Baca juga :  Cegah Covid-19, Tim Evaluasi Lurah Tangguh Sosialisasi di Kesiman

Penggunaan aksara Bali sudah masuk sampai ke sekolah-sekolah dengan adanya keyboard aksara Bali. Kemudian dalam pelaksanaan pariwisata Bali, kini semua hotel wajib menggunakan aksara Bali. Tidak hanya itu, penggunaan busana adat Bali secara disiplin digunakan setiap Kamis, purnama, tilem, dan hari jadi pemerintah daerah di Bali, sebagai pelaksanaan Pergub Bali No.79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali. “Penggunaan busana adat Bali sebagai suatu identitas orang Bali sekaligus menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan, karena perajin, pedagang, dan fashion busana adat Bali, banyak yang tumbuh,” tegas Gubernur Bali tamatan ITB, yang telah menjadi perhatian di Presidensi G20, karena terus mengenakan busana adat Bali ini.

 

Gubernur Koster juga meminta Majelis Kebudayaan Bali bersama ISI Denpasar agar 1) menggali, menginventaris semua potensi budaya Bali di desa adat, puri, dan griya; 2) memperbaiki budaya Bali yang rusak dan menghidupkan kembali budaya Bali yang ditinggal; 3) melakukan inovasi karya seni-budaya untuk ditampilkan dalam even–even tertentu; 4) memberlakukan standardisasi sanggar seni untuk layak ditampilkan pada pertemuan nasional dan internasional, ke luar negeri, dan di hotel/restoran, dan 5) membuat Tim Pengawas Pelaksanaan Standardisasi Sanggar Seni yang akan pentas di acara pertemuan nasional dan internasional, ke luar negeri, dan di hotel/restoran.

Baca juga :  Gerebek Lokasi Trek-trekan, Polda Amankan Uang Taruhan dan Pelajar SD

‘’Saya melihat di hotel, cara menampilkan seni-budaya Bali kurang bermartabat. Contohnya penabuh dan gamelan ditempatkan di bawah, sedangkan panggungnya dibuat bagus. Hal itu sangat merendahkan seni-budaya Bali. Lalu standar honor para seniman juga harus diperhatikan,  jangan diberi murahan. Termasuk transportasi harus berkualitas (bus pariwisata contohnya), jangan sampai para seniman tabuh dan penari menggunakan truk untuk menuju pentas acara,’’ tegas Koster.

Gubenur meminta Majelis Kebudayaan agar melakukan pengawasan di hotel bila ada sanggar seni yang pentas. Mantan Peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Depdikbud RI ini juga menyatakan budaya Bali harus dijunjung tinggi serta dimuliakan dalam segala tatanan, ruang, dan waktu, karena selama ini budayalah yang merawat pariwisata Bali. Tanpa budaya, Bali jangan harap ada pariwisata.

Ketua Sabha Prajuru Majelis Kebudayaan Bali Prof Dr. Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum., menlaporkan bahwa Pesamuhan Agung Kebudayaan Bali digelar berkat kerjasama Dinas Kebudayaan Provinsi Bali bekerjasama dengan Majelis Kebudayaan Bali (MKB) Tingkat Provinsi Bali. Acara ini berlangsung selama dua hari, Sabtu (26/11) dan Minggu (27/11), dengan mengambil tema ‘’Budaya Pramananing Caksu Siddhi Taksu Jagat Bali’’ yang berarti budaya sebagai spirit menghidupkan taksu Bali. Pesamuhan ini dilaksanakan untuk mengembalikan nilai-nilai kebudayaan Bali yang mulai terdestruksi oleh gempuran arus globalisasi, dan kemajuan teknologi informasi. (dwa)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini