Winda Karuna Dita, Gadis Disabilitas Tangguh Tulang Punggung Keluarga

picsart 22 11 28 16 30 43 561
MELUKIS - Kadek Winda Karuna Dita saat melukis di rumahnya.

Bila gadis-gadis lainnya leluasa menikmati masa muda, tidak demikian dengan Kadek Winda Karuna Dita (31). Gadis cantik yang tinggal di Dusun Yeh Anakan, Desa Banjarasem, Kecamatan Seririt, Buleleng ini harus bergulat dengan kerasnya hidup. Selain fisiknya memiliki keterbatasan, Winda juga terpaksa menjadi tulang punggung keluarga pascameninggalnya sang ayah.

Melihat kesungguhannya berjuang di tengah keterbatasan, Winda bisa menjadi inspirasi dan memotivasi kaula muda yang selama ini masih banyak santai menjalani hidup. Keterbatasan fisik yang dialami Winda bermula ketika berumur 6 tahun, putri pasangan Ketut Punia (alm) dan Ni Komang Warsiki ini tiba-tiba mengalami kelumpuhan usai jatuh di rumahnya. Kedua orang tuanya telah melakukan banyak pengobatan, baik itu medis maupun nonmedis. Namun apa daya kondisi fisik Winda tidak dapat disembuhkan. Karena hal itulah, Winda tidak berkesempatan mengenyam pendidikan di sekolah.

Baca juga :  WNA dan WNI Masuk Indonesia Wajib Jalani Karantina 10 Hari

Sejak itu, Winda tidak bisa beraktivitas normal seperti biasanya. Ia hanya berdiam diri di rumah dan menerima pembelajaran dari kedua orang tuanya. Ia belajar menulis, membaca dan menggambar setiap hari. Memang ibunya mengajar dengan keras agar anaknya dapat lancar menulis dan membaca.

Aktivitas itu berjalan normal bertahun-tahun, Hingga Winda menginjak usia 23 tahun, Winda kembali menerima pukulan berat di hatinya. Sosok ayah tercinta yang sekaligus menjadi tulang punggung keluarga meninggal dunia pada tahun 2014 akibat penyakit lever. Beban hidup Winda makin berat, apalagi sang ibu tidak memiliki pekerjaan tetap.

Namun, berkat dorongan dan semangat dari sang ibu, Warsiki, perlahan gadis cantik ini mulai bangkit dan mengasah jiwa seninya. Ternyata darah seni ayahnya sebagai pemahat andal di Gianyar mengalir padanya. Mula-mula ia mulai menggambar di kertas. Beberapa karya pun dihasilkan, hanya saja belum mendatangkan rupiah. Beberapa bulan kemudian, nasib mujur pun datang. Winda akhirnya bertemu seorang dermawan yang memang peduli akan potensi dan hasil karya luar biasa dari penyandang disabilitas. “Saya dibantu orang dermawan. Dibelikan alat melukis dan catnya juga. Lama saya beradaptasi, sebelumnya hanya di kertas saja,” terangnya.

Baca juga :  Lanang Perbawa: Siap Ngayah Tari Topeng Sidakarya

Setelah melalui berbagai pembelajar, akhirnya Winda terbiasa dan lancar melukis pada media canvas dan cat khusus melukis. Berbagai karya lukisan ia unggah secara daring.
Singkat cerita, lukisan Winda yang lebih condong ke budaya Bali itu mulai banyak terjual, bahkan pesanan pun melimpah. “Jengah” seorang disabilitas mulai terlihat hasilnya. Dari karyanya itu, ia mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga.

Secara tidak langsung, Winda telah menjadi tulang punggung keluarga. Bagaimana tidak, ibunya tidak bekerja karena fokus mengurus anak, di mana kakak Winda juga disabilitas dan adik bungsunya masih mengenyam pendidikan jenjang sekolah dasar.

Baca juga :  Ngaku Disekap, Tiga Pelayan Cafe Thedari Cabut Laporan

Seiring berjalan waktu, Winda juga tidak hanya beraktivitas di rumah. Ia telah berkeliling dan berjumpa dengan banyak orang melalui komunitas dan orang-orang yang peduli terhadap penyandang disabilitas. Dari ceritanya, Winda mengaku pernah diundang di beberapa stasiun televisi nasional, antara lain menjadi bintang tamu di Hitam Putih dan Kick Andy.

“Menjadi disabilitas bukanlah halangan ataupun derita hidup, asalkan selalu berusaha mencoba apa yang menjadi potensi atau bakat, itu adalah modal dan peluang,” ucap Winda.
Tidak berhenti di situ, ternyata Winda juga adalah sosok gadis dermawan dan peduli sesama. Ia tidak meninggalkan teman-temannya yang memiliki keterbatasan. Hasil penjualan lukisannya ia sisihkan juga untuk membantu usaha penyandang disabilitas lainnya. (bin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini