Tim BPKAD Bali Cek Lokasi Relokasi Korban Banjir Bandang

picsart 22 11 29 19 45 56 723
LOKASI RELOKASI - Tim Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Bali, didampingi instasi terkait di Jembrana, Selasa (29/11/2022), saat mengecek tiga titik tanah aset provinsi yang menjadi rencana lokasi relokasi warga terdampak banjir bandang di Kecamatan Mendoyo.

Negara, DENPOST.id

Korban banjir bandang Sungai Biluk Poh, akan segera direlokasi. Untuk kesiapan lokasi relokasi, tim dari Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Bali didampingi instasi terkait di Jembrana, Selasa (29/11/2022), mengecek tiga titik tanah aset provinsi yang menjadi rencana lokasi relokasi warga terdampak banjir bandang di Kecamatan Mendoyo.

Dari hasil pengecekan hanya dua lokasi yang menjadi alternatif, yakni di Lingkungan Bilukpoh Kangin, serta Banjar Pangkung Kwa, Desa Penyaringan. Sementara warga mengharapkan lokasi terdekat agar tidak pindah status adat.

Baca juga :  Pantai Ramai Dikunjungi, Satuan Polairud Polres Gianyar Gencarkan Patroli Pesisir

Untuk diketahui, BPBD Jembrana sebelumnya telah mengusulkan data warga penerima relokasi dan anggaran perbaikan fasum rusak. Total warga yang diusulkan mendapatkan relokasi sebanyak 32 KK.

Rinciannya, yakni 26 KK di Lingkungan Bilukpoh Kangin, Kelurahan Tegal Cangkring, dan 6 KK di Banjar Anyar Kelod, Desa Penyaringan. Kemudian, ada 41 KK warga seluruh Jembrana yang diusulkan mendapat dana stimulan untuk perbaikan rumah.
Terakhir, ada 5 titik lokasi kerusakan tempat ibadah hingga tempat sosial. Fasum tersebut, di antaranya pura, gereja, balai tempek dan balai banjar.

Baca juga :  Dandim Gerah Ada Oknum Lakukan Salam Tempel di Gilimanuk

Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra dikonfirmasi membenarkan adanya pengecekan aset provinsi tersebut. “Kita sudah arahkan ke Bilukpoh dan Pangkung Kwa Penyaringan,” kata Agus Arthana.

Dia menyebutkan, ada tiga titik lokasi yang dilakukan pengecekan oleh provinsi. Di antaranya, lokasi aset di Banjar Pangkung Kwa dan Tibu Beleng, Desa Penyaringan, serta di Lingkungan Bilukpoh Kangin, Kelurahan Tegal Cangkring.

Total luas lahan di dua lokasi Desa Penyaringan tersebut mencapai 2 hektar lebih. Namun, untuk yang lokasinya di Tibu Beleng, kondisinya tidak memungkinkan karena kemiringan tanah yang terjal, sehingga mustahil untuk menjadikan pemukiman.

Baca juga :  PPDB SMP Tetap Terapkan Jalur Zonasi Bina Lingkungan

Menurut Agus, permasalahan selama ini adalah warga di Bilukpoh Kangin tidak ingin berpindah status adat, sehingga mereka menginginkan relokasi dengan lokasi terdekat atau pada Kantor Pertanian dan Perkebunan Provinsi Bali di Kelurahan Tegal Cangkring.

Sementara Lurah Tegal Cangkring, Gusti Ngurah Eka Armadi mengatakan sejak awal pendataan warga yang diusulkan mendapat relokasi rumah sebanyak 26 KK. Secara umum, warga tentunya berharap dipindah ke lokasi terdekat. (120)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini