Fenomena “Perang” Tarif Bungalow di Nusa Penida Tak Terbendung

picsart 22 12 05 19 55 44 512
BUNGALOW - Suasana salah satu bungalow di Nusa Penida.

Semarapura, DENPOST.id

Menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru, biasanya wilayah Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, mulai ramai dikunjungi wisatawan. Hanya saja mulai awal Desember ini, ada sejumlah pemilik penginapan atau bungalow di bagian atas memilih menutup usahanya karena tidak dapat untung atau cukup untuk menutupi biaya operasional. Apalagi ditambah fenomena “perang” tarif penginapan tidak terbendung di Nusa Penida.

Seperti dikatakan salah satu pelaku pariwisata Nusa Penida, Ketut Kusetiawan, Senin (5/12/2022). Pemilik penginapan Holy Hill di Desa Bunga Mekar ini, mengakui kalau wisatawan mulai ramai berkunjung ke Nusa Penida, terutama saat liburan. Namun, hal itu tak serta merta memberi keuntungan bagi pengelola bungalow, seperti dirinya. Apalagi saat ini banyak pengelola akomodasi pariwisata yang menawarkan tarif murah.

Baca juga :  Harga Lahan di Eks Galian C Naik Rp 4 Juta, Ini Pesan Koster

Untuk tempat bermalam di daerah bawah, hanya berkisar Rp150 ribu sampai Rp250 ribu permalam. Padahal sebelumnya, tarifnya minimal Rp300 ribu permalam. Karena akomodasi di daerah bawah memasang harga rendah, Holy Hills yang notabene berlokasi di dataran lebih tinggi dan lebih sulit dijangkau juga berusaha menawarkan tarif lebih rendah, yakni Rp100 ribu permalam. Padahal normalnya bisa mencapai Rp300 ribu permalam.

“Terus terang dengan tarif Rp100 ribu per malam hanya menutupi biaya operasional saja. Kita hanya dapat keuntungan Rp20 ribu sebulan. Kadang untuk beli paket wifi saja kami bisa mengeluarkan biaya Rp400 ribu sebulan. Belum lagi biaya listrik, air dan logistik wisatawan,” ungkapnya.

Baca juga :  Diterpa Isu ASF, Warga Tetap Jalankan Tradisi Mapatung

Dengan kondisi ini, Kusetiawan akhirnya memutuskan untuk menutup tempat usahanya. Dirinya mengatakan tak bisa bersaing dengan pengelola akomodasi lain yang memiliki banyak kamar dan berada di dataran lebih rendah. Apalagi banyak pengelola akomodasi yang berada dibawah dengan pemandangan pantai menawarkan tarif yang lebih murah.

“Walaupun sebentar lagi akhir tahun, biasanya memang banyak wisatawan, tapi saya sudah putuskan untuk menutup tempat usaha,” imbuhnya.

Baca juga :  Hilang Tiga Hari, ODGJ Ditemukan Tewas di Tukad Malam

Sementara Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta sebelumnya sempat meminta agar perang tarif tersebut dihentikan. Karena jika hal ini terus dibiarkan akan merugikan sektor pariwisata di wilayah kepulauan tersebut. (119)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini