Maksimalkan Pendapatan Produk Digital, Media Harus Berinovasi

picsart 22 12 09 09 10 08 576
WORKSHOP - Workshop Series #31: Memaksimalkan Produk Digital untuk Keberlanjutan Media, digelar SPS pada 6 Desember 2022, di Bandung, Jawa Barat.

Bandung, DENPOST.id

Sebagai organisasi perusahaan pers yang menaungi ratusan media arus utama di seluruh Indonesia, Serikat Perusahaan Pers (SPS) meyakini konvergensi media/pers ke arah digital adalah keniscayaan. Berbagai cara sudah dilakukan perusahaan-perusahaan pers, seperti membuat website/portal news, masuk ke ranah media sosial, dan lain-lain produk jurnalistik medium digital. Hampir seluruh perusahaan pers cetak, minimal memiliki portal news sebagai upaya pengembangan bisnis dan adaptasi era digital.
Hanya saja, pada praktik menuju konvergensi digital, media masih kesulitan menemukan keseimbangan dan kestabilan bisnis. Target pembaca produk konvensional semakin mengecil dan semakin segmented.

Dalam upaya menemukan formula tentang permasalahan tersebut, SPS mengadakan Workshop Series #31: Memaksimalkan Produk Digital untuk Keberlanjutan Media, 6 Desember 2022, di Bandung, Jawa Barat.
Wakil Pemimpin Redaksi Kompas.id, Tri Agung Kristanto, yang hadir sebagai pembicara mengatakan, media-media yang
tutup saat ini bukan karena disrupsi digital, tapi karena ketidakmampuan beradaptasi dan persoalan internal. Adaptasi digital yang dilakukan media juga sering tidak relevan.

Baca juga :  BRI Raih 3 Penghargaan di Ajang Co-Branding Award 2021

“Kalau mau menambah pendapatan, media jangan hanya melakukan intensifikasi, lebih baik ekstensifikasi. Kami di Kompas tidak
bisa berdiri sendiri, makanya membuat kaki-kaki (produk-produk) baru, seperti Kompas.id, Kompasiana, dll,” ungkap wartawan yang juga salah satu anggota Dewan Pers Komisi Pendidikan & Pengembangan Profesi Pers.

Sementara itu, Agus Sulistriono, CEO Promedia yang dulunya juga mengembangkan bisnis digital di Pikiran Rakyat Media Network, menegaskan, bisnis media bisa berlanjut kalau menghasilkan profit.
Dalam konteks tersebut, media harus membuat inovasi pada empat pilar. “Inovasi pada business model, business process, revenue model, dan creative content-nya,“ paparnya.

Dalam workshop ini juga hadir beberapa perwakilan korporasi/brand untuk berbagi tentang seperti apa produk digital media yang ramah pengiklan, serta seperti apa harapan dan dukungan mereka untuk keberlanjutan bisnis media. Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk., Boy Kelana Soebroto, berharap Astra dapat membantu
meningkatkan strategi media dalam memaksimalkan produk digitalnya, agar melalui media dapat memberi manfaat bagi masyarakat luas. “Di antaranya juga sharing seperti apa produk digital media yang
ramah pengiklan, serta seperti apa harapan dan dukungan kami untuk keberlanjutan bisnis media,” ujarnya.

Baca juga :  Transformasi Digital Tak Bisa Ditawar, Digitalisasi Dukung Bisnis Mikro BRI Tumbuh

Hal senada juga dikatakan oleh Jonathan Kriss, Business Development Manager AdaKami. Ia
menekankan pentingnya inovasi konten-konten digital yang dihadirkan media agar dapat menjadi bagian dalam kampanye korporasi/brand. “Harapannya teman-teman media digital juga bisa mengangkat konten eduksi yang lebih advance dalam membekali masyarakat kita dengan pertumbuhan industri
digital secara umun dan khususnya di industri keuangan,” imbuh Jonathan.

Sementara itu, Rose Henindra, Manager Publisher Relantionship TADEX-Telkomsel, platform periklanan premium terbesar berbasis programmatic di Indonesia, menggarisbawahi maksimalisasi pemanfaatan
digital marketing. Terutama ketika media tersebut merasa membutuhkan alternatif kanal beriklan, selain hanya dari platform yang sudah ada. Ia mengungkapkan, ada empat strategi penempatan iklan website terbaik untuk publisher/media.
Pertama, fokus ke costumer experience. Kedua, analisa perilaku pengguna (user behavior). Ketiga, perhatikan data hasil kunjungan website. Keempat, perhatikan penempatan iklan pada website.

Baca juga :  Satgas Bencana Nasional BUMN Perkuat Integrasi Sistem dan Peran untuk Indonesia

“TADEX menjembatani antara kebutuhan pengiklan saat ini, melalui kerja sama dengan publisherpublisher terpercaya dan terverifikasi Dewan Pers. TADEX memberikan solusi dan skema periklanan digital yang sehat, mudah, dan transparan, baik untuk pengiklan dan penerbit, sebagai wujud kontribusi
dalam membentuk ekosistem digital di Indonesia,” terang Rose.

Ketua Harian SPS Pusat, Januar P. Ruswita, menambahkan, sebagian besar kue di platform digital dikuasai platform periklanan global. Ia berharap platform periklanan nasional yang ada sekarang bisa
menciptakan iklim model bisnis media yang sehat. “Mudah-mudahan juga mendukung produk jurnalistik yang berkualitas,” harapnya. (111)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini