DPMD Badung Kembangkan Inovasi “Pusaka Sakti Badung”

picsart 22 12 11 14 07 32 393
Kepala DPMD Kabupaten Badung, Komang Budhi Argawa.

Mangupura, DENPOST.id

(Pemberdayaan Usaha Krama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai strategi kerja kolaboratif terpadu inklusi keuangan Badung, Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Badung mengembangkan inovasi Pusaka Sakti Badung.

Kepala DPMD Kabupaten Badung, Komang Budhi Argawa yang dihubungi, Minggu (11/12/2022), menjelelaskan inovasi ini menjawab salah satu permasalahan yang terdapat di masyarakat desa dalam mengembangkan usaha, khususnya usaha ultra mikro. Di mana, yang menjadi kendala utama bagi pengembangan usaha ultra mikro adalah sektor permodalan.

“Wirausaha kesulitan dalam memperoleh permodalan yang dikarenakan antara lain bunga pinjaman yang besar, persyaratan yang sulit dan wajib memiliki jaminan,” ujarnya.

Menurut Budhi Argawa, usaha ultra mikro adalah usaha mikro yang dimiliki orang perorangan. Beberapa contoh usaha mikro di antaranya laundry kiloan, bisnis kuliner rumahan, fashion online shop, bisnis souvenir, hantaran dan mahar pernikahan, toko kelontong online, jual ayam potong, usaha minuman kemasan unik, warmindo, waralaba makanan dan minuman, serta bisnis sayuran organik. “Karakteristik usaha ultra mikro, yaitu belum memiliki legalitas usaha (NIB, NPWP) dan sertifikasi produk (PIRT, BPOM, halal) dijalankan sendiri dan tidak melibatkan banyak tenaga kerja jenis komoditi / barang yang dihasilkan / dijual tidak tetap, tempat usaha tidak tetap atau bisa berpindah sewaktu-waktu, belum melakukan pembukuan usaha, bahkan keuangan pribadi dan keuangan usaha belum dipisahkan,” ujarnya.

Baca juga :  Terbawa Ombak, Jenazah Orok Terdampar di Pantai Legian, Kuta

Lebih lanjut ia menjelaskan ketetuan yang termuat dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 193/PMK.05/2018 tentang Pembiayaan Ultra Mikro. Hal ini yang menghambat akses terhadap berbagai layanan keuangan formal. “Pusaka Sakti Badung merupakan strategi pemberdayaan BUMDes yang dibentuk oleh masyarakat desa melalui musyawarah desa,” terangnya.

Hal ini yang mendorong pengembangan inovasi Pusaka Sakti Badung, melalui strategi kolaboratif dengan melibatkan antara lain faktor eksternal terdiri dari Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Investasi Pemerintah (PIP), Ditjen Pengembangan Ekonmi dan Investasi Desa Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal,m dan Transmigrasi, Otorisasi Jasa Keuangan (OJK) Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara, PT Penjaminan Kredit Daerah, BPKP Perwakilan Provinsi Bali, BPPMDDTT Denpasar, FEB Universitas Udayana, BUMDesa, dan komunitas masyarakat. Faktor internal terdiri dari Inspektorat Kabupaten Badung, Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Badung, Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Badung, Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan Kabupaten Badung, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Badung, Kecamatan Kuta Utara Kabupaten Badung, Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Badung, Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Badung, Bagian Kerja Sama Sekretariat Daerah Kabupaten Badung, Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah Kabupaten Badung, Pemerintah Desa Tibubeneng, serta BUMDesa Tibubeneng.

Baca juga :  Kurangi Kebosanan Siswa Saat Tunggu Vaksin, Kapolsek Berikan Kuis Berhadiah

“Inovasi Pusaka Sakti Badung ini diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat desa, khususnya Desa Tibubeneng sebagai pilot project untuk selanjutnya akan menjadi role model bagi BUMDes lainnya di Kabupaten Badung,” ujarnya. (115)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini