Baru Beroperasi Enam Bulan, Bantuan Pompa Air dari Jepang “Mangkrak”

picsart 22 12 13 15 42 04 451
MANGKRAK - Kondisi bantuan pompa air dengan tenaga surya di Subak Semaagung, Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung mangkrak.

Semarapura, DENPOST.id

Bantuan pompa air dengan tenaga surya di Subak Semaagung, Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung kondisinya mangkrak. Bantuan dari pemerintah Toyama, Jepang senilai Rp 1,2 Miliar yang diresmikan pada tahun 2020 itu hanya sempat beroperasi sekitar enam bulan. Akibat persoalan ini, ratusan petani di Subak Semaagung kembali memanfaatkan air dam sebagai sumber irigasi.

Dari pantauan di lapangan, Selasa (13/12/2022) panel tenaga surya terlihat masih berdiri kokoh di Subak Semaagung. Namun karena tidak beroperasi, di sejumlah bagian terlihat sudah ditumbuhi rumput liar. Sejumlah petani yang hendak ke sawah juga terlihat memanfaatkan bangunan panel tersebut sebagai tempat parkir sepeda motor.

Mangkraknya bantuan Jepang ini tidak ditampik Kelian Subak Semaagung, I Wayan Darta. Menurut Darta, pascadiresmikan pada tahun 2020 lalu, bantuan pompa air bertenaga surya tersebut berhasil beroperasi dengan lancar. Walaupun diakui debit air yang dihasilkan tidak sesuai target, tetapi petani sangat terbantu. Sayangnya, kondisi itu hanya bertahan sekitar enam bulan karena mesin pompa air sudah tidak dapat beroperasi.

Demikian juga dengan panel surya yang didirikan di atas tanah desa seluas empat are tersebut. Padahal dirinya sudah sempat melapor ke kabid yang membidangi di Dinas Pertanian. Termasuk juga sampai ke Jakarta untuk berkoordinasi kepada pihak yang sebelumnya memfasilitasi petugas dari Jepang. Namun pihaknya di suruh melapor ke pihak Unud.

Baca juga :  Gubernur Koster Serahkan SHM Gratis di Semarapura Klod-Kangin

“Kami sudah melapor ke pihak Unud. Bahkan sudah sempat dicek oleh petugas dari Unud. Tapi saat itu cuma dibilang tunggu perbaikan kerena kabelnya bermasalah,” ungkap Wayan Darta.

Semenjak bantuan pompa air rusak, Wayan Darta mengatakan, para petani kembali menggunakan air Dam Dedari untuk mengairi sawahnya. Beruntung juga, kala itu sedang musim hujan sehingga kebutuhan air untuk mengairi sawah bisa terpenuhi oleh air hujan. Nah kini, persoalan baru mulai muncul. Karena saat hujan deras melanda wilayah Tusan beberapa waktu lalu, Dam Dedari yang memanfaatkan air dari Sungai Yeh Bubuh jebol.

Baca juga :  Pariwisata Surut, Semangat Belajar Siswa Sekolah Pariwisata Tak Boleh Ciut

Akibat kejadian ini, debit air yang tertampung tidak banyak. Kondisi inipun membuat petani harus benar-benar berhemat penggunaan air. Apalagi saat ini cuaca sangat panas dan curah hujan berkurang. Bahkan untuk menyiasati pemanfaatan air dam yang terbatas, petani di Subak Semaagung yang terdiri atas empat tempek (Panjer, Lantang, Ida Ratu dan Dlod Sema) harus menanam padi secara bergiliran.

“Saat ini Tempek Panjer seluas 10 hektar yang mendapat giliran menanam padi, sehingga tiga tempek lainnya harus menanam palawija. Tapi sejauh ini belum ada laporan gagal panen karena kekurangan air. Hanya saja, sekarang ini kan sudah mulai kering dan hujan berkurang, mudah-mudahan air irigasi mencukupi,” imbuhnya.

Baca juga :  TOSS Center Klungkung Dikunjungi Pemkab Ini

Lebih lanjut Wayan Darta berharap perbaikan bantuan mesin pompa air bertenaga surya ini bisa segera dilakukan. Apalagi menurutnya, kerusakan tergolong sepele hanya kabelnya yang terputus.

“Semoga saja segera bisa diperbaiki. Saya juga tidak mengerti kenapa bisa lama sekali, padahal hanya dikatakan kabelnya yang putus,” tandasnya. (119)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini