Bersaing dengan Bangli, Perajin Kukusan di Klungkung Masih Bertahan

picsart 22 12 20 18 00 30 534
KUKUSAN - Perajin kukusan, Ni Ketut Urip (65) tampil mengikuti pameran UMKM yang digelar Kemensos RI di Alun-alun Ida Dewa Agung Jambe, Selasa (20/12/2022).

Semarapura, DENPOST.id

Meski kian terpinggirkan, perajin kukusan bambu masih tetap eksis di Kabupaten Klungkung. Hal ini terlihat ketika salah seorang perajin bernama Ni Ketut Urip (65) tampil mengikuti pameran UMKM yang digelar Kemensos RI di Alun-alun Ida Dewa Agung Jambe, Selasa (20/12/2022). Ia mengaku memilih bertahan dan menjadi satu-satunya pembuat kukusan di Desanya di Banjar Bajing, Desa Tegak yang masih produktif hingga saat ini.

“Dulu ramai, semua orang buat kukusan, sekarang tinggal saya saja. Saya masih bertahan buat kukusan bambu karena orang-orang di desa masih banyak yang buat nasi dengan dikukus,” ungkap Ni Ketut Urip.

Menurut Urip, keterampilan menganyam bambu sudah dikuasainya sejak berusia 15 tahun. Puluhan tahun berkecimpung di dunia anyaman, banyak suka duka telah dilaluinya. Katanya, dulu ketika alat penanak nasi tak semodern sekarang, kukusan bambu sangat laku di pasaran. Dalam waktu dua jam, 8 sampai 10 kukusan bambu buatannya bisa ludes terjual.

“Kalau dulu banyak laku pak. Tapi sekarang setiap tiga hari sekali saya bawa 10 buah kukusan bambu ke Pasar Tegak belum tentu habis terjual,” katanya.

Baca juga :  Buang Limbah ke Sungai, Lima Usaha Potong Ayam Ditipiring

Sementara terkait harga, Ni Ketut Urip mengaku kalau kukusannya tergolong murah dibandingkan dengan harga bambu yang semakin tinggi mencapai Rp 25 ribu per buah. Untuk kukusan bambu, Urip menjualnya dengan harga Rp 10 per buah. Di samping itu, keterbatasan modal juga membuat Urip tidak sanggup membeli bambu dalam jumlah besar.

Paling banyak ia mengaku hanya bisa membeli lima buah bambu dari penjual bambu dari Desa Akah, Klungkung. Dengan satu buah bambu, Ni Ketut Urip bisa menghasilkan 15 sampai 20 kukusan. Apalagi proses pembuatan kukusan ini cukup rumit, diperlukan ketelitian dan kesabaran sehingga dalam sehari dirinya hanya bisa menyelesaikan tiga sampai empat buah kukusan.

Baca juga :  Tampil di UN Compact Leader Summit, BRI Jabarkan Strategi Kembangkan UMKM

“Biasanya saya jual ke Pasar Tegak, laku atau tidak laku setiap tiga hari sekali saya pasti bawa kukusan ke pasar,” ungkapnya.

Selain ‘bersaing’ dengan kemajuan teknologi penanak nasi, perempuan yang masih terlihat bugar di usia senjanya ini juga mengatakan harus bersaing dengan kukusan buatan dari Kabupaten Bangli. Apalagi harga kukusan dari Bangli harganya lebih murah yakni Rp 5.000 per buah, sehingga kukusan tersebut lebih laku di pasaran. Utamanya di Pasar Galiran, Klungkung.

Baca juga :  Gubernur Sucikan Roh Korban Letusan Gunung Agung dan G30S PKI di Eks Galian C

“Kalau kukusan Bangli biasanya bambunya itu sambungan, jadi lebih lemes. Kalau punya saya kan tidak ada sambungan, lebih kuat dan bisa bertahan enam bulan,” katanya.

Meskipun sulit melawan kemajuan teknologi dan pesaing-pesaing dari kabupaten lain, Urip tetap optimistis di tahun-tahun mendatang kukusan buatannya masih tetap laku terjual. Meskipun diakui tidak seramai dulu, tapi setidaknya masih ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.

“Saya tetap akan membuat kukusan, karena ini saja kemampuan yang saya miliki. Mau kerja yang lain juga sulit. Apalagi saya sudah tua,” tandasnya. (119)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini