SEMAKIN DICEGAH, BANDAR NARKOBA MALAH KIAN GAGAH

narko

PEREDARAN narkoba di Bali tak terbendung dan terus meningkat setiap tahun. Hal tersebut bisa dilihat dari bertambahnya kasus narkoba yang diungkap polisi maupun BNNP Bali. Bahkan selama tahun 2022, lebih dari 500 warga diciduk gara-gara terlibat kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba.

Banyaknya pemakai, pengedar, kurir, dan bandar yang ditangkap serta banyaknya barang bukti (BB) yang disita polisi, mengindikasikan jika Pulau Dewata masih menjadi pasar potensial peredaran gelap narkoba jaringan nasional maupun  internasional.

Hebatnya, para bandar narkoba ini semakin gagah. Mereka mampu memasukkan narkoba ke Bali dengan berbagai cara. Dengan memanfaatkan kemajuan zaman seperti teknologi IT, para bandar semakin meluaskan bisnis haramnya. Mereka tak hanya menyasar warga di perkotaan, namun juga menjangkau pelosok desa. Para bandar juga tak takut jika diancam hukuman berat, bahkan samp;ai hukuman mati, jika nekat mengedarkan narkoba dalam jumlah besar. Tak heran jika semakin dicegah aparat, para bandar malah semakin gagah.

Dalam mengedarkan narkoba, para bandar juga tak mau ketinggalan. Mereka terus berinovasi sesuai perkembangan zaman, sehingga mampu mengalahkan kehebatan aparat penegak hukum. Lihainya para bandar beraksi tentu membuat bisnis haram mereka kian subur. Terlebih permintaan narkoba, terutama saat-saat tertentu seperti perayaan tahun baru, terus meningkat.

Berdasarkan catatan DenPost, selama dua puluh tahun belakangan ini kasus narkoba di Bali tak pernah sepi. Walau polisi dan BNN bekerja keras mencegah peredaran barang haram yang mampu merusak mental generasi muda ini, ternyata narkoba tetap ada di mana-mana. Kian lama membuat kita semakin khawatir lantaran begitu maraknya pemakai narkoba, khususnya di kalangan anak-anak muda. Bahkan sebagain orang menganggap mengkonsumsi narkoba merupakan gaya hidup dunia modern. Ternyata itu salah besar! Jika ingin hebat, kalangan generasi muda bukannya tenggelam di dunia narkoba, namun harus memiliki gaya hidup yang sehat. Jauhi narkoba, lebih giat bekerja.

Baca juga :  Masyarakat Buleleng Apresiasi Kerja Keras Gubernur Koster dan Wagub Cok Ace

Sedangkan Kapolda Bali Irjen Putu Jayan Danu Putra, saat menggelar konferensi pers akhir tahun, Kamis (29/12), mengungkapkan bahwa secara umum, Polda Bali tetap gencar mengungkap kasus narkoba. Secara jumlah, tahun 2021 sebanyak 719 kasus narkoba yang ditangani. Sedangkan tahun 2022 sebanyak 712 kasus yang diungkap.

Meski demikian, sambung Irjen Putu Jayan, secara kualitas terjadi peningkatan dilihat dari beragamnya jenis narkoba yang diungkap berupa sabu-sabu (SS), ganja, dan ekstasi. “Pengungkapan kasus narkoba yang paling tinggi dilakukan Polresta Denpasar, disusul Ditresnarkoba Polda Bali, Polres Badung serta diikuti polres-polres lainnya,” tambah Kapolda.

Baca juga :  Selidiki Pembuang Bayi, Polisi Temukan Petunjuk

Menurut dia, selama tahun 2022 ini, kasus terbesar yang diungkap Polda Bali yakni peredaran SS dengan berat total 38 kg, dengan nilai sekitar Rp56 miliar. Pengungkapan kasus yang cukup besar juga dilakukan Polresta Denpasar dengan mengamankan 18,3 kg SS dan 984 butir ekstasi. “Setahun terakhir ini, Polda Bali dan jajaran mengamankan SS seberat 62,911,382 gram, ganja seberat 45,219,59 gram, ekstasi sebanyak 6.124 butir, ganja gorilla  sebarat 140,06 gram dan ribuan gram narkoba jenis lain,” tegas Putu Jayan.

Baca juga :  UNBK SMK Ditunda, Siswa Akhirnya Dirumahkan

Dirresnarkoba Polda Bali Kombes Iwan Eka Putra menambahkan penegakan hukum dan pecegahan terhadap peredaran narkoba terus dilakukan. Terbukti dengan berhasilnya ditangkap para bandar. Polisi juga menggagalkan penyelundupan narkoba dari luar negeri atau luar pulau ke Bali.

Apa penyebab peredaran narkoba di Bali terus meningkat ? “Peredaran narkoba tak terlepas dari jaringan internasional yang memasok berbagai jenis narkoba ke Indonesia. Bali sendiri merupakan pasar potensial bagi bandar narkoba karena merupakan daerah pariwisata yang didatangi warga yang hampir dari  seluruh dunia,” tegasnya.

Tidak hanya itu, bisnis gelap narkoba paling tinggi terjadi di wilayah Denpasar. Selama setahun terakhir ini, Polresta Denpasar membekuk sebanyak 356 tersangka. Dari jumlah tersebut, tiga merupakan bandar, 171 pengedar, 181 pengguna dan seorang penanam ganja. Sedangkan barang bukti yang diamankan hampir 60 kg berbagai jenis narkoba dengan nilai mencapai Rp50 miliar. (yan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini