BAYI MALANG, BAYI DIBUANG

bayi
Ilustrasi pembuangan bayi

KASUS pembuangan orok (bayi) di Bali selama tahun 2022 menjadi catatan tersendiri, karena kasusnya cukup menonjol. Nyaris setiap bulan ada saja orang yang tega membuang darah dagingnya, baik yang masih hidup maupun yang meninggal dunia. Orang-orang yang tega membuang orok semacam ini sangatlah tak berperikemanusiaan. Mereka sama sekali tak punya belas kasihan. Jangankan manusia, binatang pun sangat menyayangi anak-anak mereka dari serangan musuh atau serangan dari sesamanya. Sebagian binatang ternyata juga punya hati dan rasa, sehingga mereka membela mati-matian darah dagingnya. Tapi bagaimana haknya dengan manusia?

Mereka yang tega membuang darah dagingnya jelas sangat keji dan tak punya hati. Ketika sebagian orang sangat sulit memperoleh keturunan, ternyata ada juga orang yang tak punya belas kasihan. Kelahiran bayi ke dunia yang mestinya disyukuri dan disayangi, malah dibuang, bahkan ada yang sengaja dibunuh untuk menyarukan aibnya. Itu artinya sebagian bayi memang tidak dikehendaki kelahirannya sehingga harus dihabisi. Sungguh malang nasibnya!

Menurut Sulinggih Ida Pandita Mpu Siwa Budha Daksa Dharmita, kepada KMB, perbuatan atau tindakan aborsi (brunaha), kemudian membuang sang bayi di aliran air jelas merupakan perbuatan buruk. Bahkan boleh dikatakan sebagai penjahat: pembunuh yang paling keji di dunia, karena membunuh ciptaan Brahman, walupun bayi tersebut milik sang pelaku. “Menurut Veda, Brahmanlah yang menciptakan semua makhluk hidup. Berarti dia (si pembuang bayi) melawan Hiranyagarbha, karena perampok nyawa manusia yang tidak berdosa,” ujar Sulinggih yang berasal dari Griya Agung Sukawati, Gianyar ini.

Baca juga :  Di Klungkung, Seorang Remaja Disetubuhi Ayah Tiri di Kamar Kos

Menurutnya, hukuman bagi orang yang melakukan tindakan keji ini sangat berat, baik secara sekala maupun niskala. Terlebih jika membuang orok di pantai atau di aliran sungai. Wedha menyebut bahwa orang yang ‘’mengotori” air yang merupakan kekuasaan Dewa Waruna, maka dalam hidupnya akan disengsarakan. Secara sekala, pembuang bayi ditimpakan berbagai macam penyakit yang tidak ada obatnya. Bahkan masalah ekonomi akan morat-marit, kekurangan amerta dan masih banyak lagi kesengsaraan yang akan dirasakannya. Sedangkan secara niskala, dalam Atharva Veda, disebut bahwa algojo-algojo Dewa Yama di alam neraka akan menyiksa para pembuang bayi, terutama di kemaluan dan perutnya. Bahkan mereka tak akan bisa lepas dari belenggu Dewa Yaman karena membunuh ciptaan Brahman. Apalagi janin yang masih dalam kandungan, karena bersifat satas ca masatas ca vivah (muncul tapi belum muncul).

Apakah ada ampunannya? Ida Pandita Mpu Siwa Budha Daksa Dharmita menyebut ada yakni bertobat, tapi berat. Wedha mensabdakan mereka harus menjalankan kewajiban atau dharma yang ketat yakni yadnya dengan mecaru dan dana punia ke anak yatim-piatu, tapabrata dan karma baik agar terhindar dari jeratan hukuman sekala maupun niskala. ‘’Bisakah? Tapi itu tidak gampang,” tandasnya.

Sebelum DenPost memberitakan jasad bayi yang dibungkus tas kresek hitam ditemukan warga di pinggir Sungai Tengkulak di Banjar Celuk, Desa Kapal, Mengwi, Badung, pada 18 Desember 2022 pagi. Jasad bayi berjenis kelamin laki-laki itu diduga sengaja diletakkan di anak tangga menuju sungai oleh sang ibu. Jasad bayi itu diketahui seorang warga, Sarjana (52), yang hendak buang air di sungai sekitar pukul 07.00. Sang bayi malang dibungkus selimut merah muda, berisi popok. Selain itu, ari-ari dan tali pusarnya masih ada. Beberapa barang lain juga ditemukan di sana berupa perban yang sudah dibuka, cotton bud, satu selimut bayi warna kuning, dua selimut bayi warna merah muda, dua bawang merah, baju kaos warna hitam merk ‘’Inkant Sport’’ dimana di bagian depannya bergambar mobil VW Kodok berisi tulisan ‘’Volks Wagen’’.

Baca juga :  Ajik Krisna Kini Incar ‘’Lengis Tandusan’’ Setelah Berkebun di Buleleng

Kasus pembuangan orok juga terjadi di Gianyar. Pada 21 Desember 2022 pagi. Bayi berjenis kelamin perempuan itu ternyata masih hidup. Dia diletakkan di lahan kosong milik warga di Jalan Raya Banjar Tegenungan, Desa Kemenuh, Sukawati.

Pada 14 Maret 2022 siang ditemukan jasad orok di bawah jembatan Tukad Mati di Jalan Mahendradatta, Denbar. Polisi menduga jasad orok berjenis kelamin perempuan itu dibuang di hulu sungai sehingga hanyut ke lokasi penemuan. Berikutnya pada 27 Maret 2022 kembali ditemukan jenazah orok berjenis kelamin laki-laki di selokan di Jalan Suradipa, Banjar Pulugambang, Peguyangan, Denut. Bayi yang diperkirakan baru dilahirkan itu ditemukan di dalam tas belanja.

Sedangkan tangisan bayi mengagetkan pedagang lalapan, Usman (25), di pinggir Jalan Tibung Sari, Kwanji, Dalung, Kuta Utara, Badung, pada 28 Maret 2022 sekitar pukul 20.30. Bayi laki-laki itu sengaja dibuang oleh orang tak bertanggungjawab di tumpukan sampah dengan dibungkus tas kresek hitam. Sang bayi lalu dirawat di bidan terdekat.

Baca juga :  Perdana, Gubernur Koster Gagas Jana Kerti saat Tumpek Landep

Warga yang tinggal di Jalan By-pass Ngurah Rai, Sidakarya, Densel, pun digemparkan dengan penemuan jasad orok pada 28 Juni 2022 sekitar pukul 18.00. Orok malang itut dibuang di selokan dalam kondisi membusuk dan dikerubuti belatung.

Lagi-lagi jenazah orok ditemukan mengambang di aliran Tukad Badung di Jalan Imam Bonjol, Banjar Batang Nyuh, Denbar, pada 7 Juli sekitar pukul 09.00. Polisi menduga, jenazah bayi laki-laki itu dibuang di hulu sungai kemudian dibawa arus hingga nyangkut di lokasi penemuan. Pada 19 September jasad bayi laki-laki ditemukan hanyut di Tukad Badung, tepatnya di Jalan Gunung Kerinci, Monang-maning, Denpasar Barat (Denbar). Orok malang itu diduga hasil aborsi, kemudian dibuang ke sungai oleh orangtuanya. Sesosok jasad orok berjenis kelamin laki-laki juga ditemukan di areal parkir UPTD Puskesmas di Banjar Semaon, Desa Puhu, Payangan, Gianyar, pada 4 Oktober 2022 sekitar pukul 07.20. Penemuan itu sempat menggegerkan warga setempat. Mayat bayi laki-laki tersebut kemudian dititip RS Payangan untuk langkah lebih lanjut. Sejauh ini, polisi belum berhasil membekuk para pembuang bayi itu, lantaran polisi beralasan minim saksi dan tak ada rekaman CCTV. (yad/yan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini