Begini Pengakuan Kakak Beradik Pembunuh Paman Tiri 

20230106 155104

Bangli, DENPOST.id

Hari ketiga setelah kejadian, polisi menetapkan dua orang kakak beradik, I Gede Darmawan alias Mang Kod (19) dan I Made Ariawan alias Made (18) sebagai tersangka pembunuhan paman tirinya, Nyoman Rai (36), warga Banjar/Desa Belandingan, Kintamani, Bangli. Keduanya dijerat dengan pasal 338 KUHP. Kendati demikian, kasus berdarah yang terjadi tepat di Hari Raya Galungan itu masih menyisakan tanda tanya. Sebab, selain saat kejadian ada anak korban, Gede S (2,5) yang menyaksikan bapaknya dibantai, juga hingga kini keberadaan barang bukti berupa sabit masih misterius.

Barang bukti yang baru diamankan berupa sepasang sepatu bot dan gagang sabit, keduanya milik tersangka. Sementara dari interogasi terpisah, Gede Darmawan sebagai eksekutor, mengaku khilaf dan emosi lantaran dipukul korban lebih dulu.

“Tidak ada niatan sampai begitu (melenyapkan). Itu karena saking emosi,” ujar Darmawan. Dia beralasan tega menghabisi nyawa paman tirinya, lantaran korban memukul kepala belakang dan mencekik leher dirinya lebih dulu. “Saya emosi karena dipukul duluan, dicekik. Saya lawan sambil memanggil adik saya,” ungkapnya.

Kata Darmawan saat kejadian tersangka Ariawan berada sekitar 50 meter dari TKP. Karenanya teriakan itu didengar adiknya. Setiba di lokasi, adiknya diminta memegang kaki korban. Darmawan lalu mengeksekusi korban secara membabi buta. Mulai memukul dengan tangan kosong, kemudiam menggunakan sepatu bot. Saat itu korban sudah tak berdaya, namun Darmawan belum juga puas. Dia lalu mengambil sabit yang sudah terlepas dari gagangnya untuk menebas wajah korban. Korban sempat melawan dengan menangkis, namun pada akhirnya meregang nyawa.

Baca juga :  Dibungkus Tas Kresek, Jasad Orok Dibuang di Pinggir Sungai 

Ditanya saat membacok korban, dirinya tak melihat anak korban berada tepat di belakangnya. “Saking emosi, jadi tidak perhatikan sekitar. Setelah diam (korban tak bernapas) baru lihat ada Gede (anak korban) di belakang. Tidak menangis, hanya diam,” bebernya.

Setelahnya, Darmawan mengaku menyuruh adiknya membawa anak korban pulang ke rumah. Namun adiknya, Ariawan malah kembali ke kebun/pondokan untuk melanjutkan menyabit sambil mengajak anak korban. Ditanya kok masih bisa kembali menyabit setelah membantai korban? Ariawan dengan santai mengaku tak ikut memukul atau membacok korban. “Saya hanya pegang kaki. Saya balik nyabit. Sapi saya belum dikasi pakan,” jawabnya polos.

Ditanya soal keberadaan sabit yang dipakai membacok, Darmawan kembali menyebut seingatnya disembunyikan di bawah pohon kaliandra di sekitaran TKP. Namun saat polisi mencari ke tempat sesuai yang ditunjukan, sabit itu nihil ditemukan hingga sekarang.

Setelah kembali menyabit, datanglah saksi Merta (45), yang merupakan bapak kedua tersangka. Anak korban lalu diserahkan ke saksi untuk dipulangkan. Saat Ariawan kembali ke pondokan, saat itulah Darmawan menyeret tubuh korban sepanjang 60 meter dari TKP sampai ke bibir jurang. Dia mengaku menyeret sendiri, dengan menarik kedua kaki korban. Lalu dilempar ke jurang dengan kedalaman sekitar 80 meter.

Baca juga :  Eksekusi Tanah di Kintamani, 75 Polisi Dikerahkan

Sementara itu, Kapolsek Kintamani Kompol Ruli Agus Susanto didampingi Kasat Reskrim Polres Bangli AKP Androyuan Elim dalam keterangan resminya, Jumat (6/1), menyebutkan kasus ini masih didalami. Pun kemungkinanan ada tersangka susulan, Ruli dan Elim menegaskan masih belum mengarah kesana. “Kita masih lakukan prosea otopsi yang rencananya hari ini di Forensik RS Sanglah. Menunggu hasil swab pada jenazah korban,” tegas mantan Kapolsek Abiansemal ini.

Sementara terkait kondisi psikologis Gede S, anak korban, AKP Elim mengatakan sudah berkoordinasi dengan pihak berwenang. “Kami sudah koordinasi, untuk mendampingi si anak apa masih ada trauma atau bagaimana. Intinya kami atensi,”jaminnya.

Dalam keterangan polisi, sepekan sebelum kejadian, korban dengan tersangka juga sempat cekcok, yang masalahnya juga sama yakni soal pohon alpukat yang ditanam di batas wilayah perkebunan kedua pihak. Dulu juga dikatakan keduanya sempat terlibat masalah yang sama, namun bisa didamaikan anggota babhin saat itu juga. “Ya memang sudah ada masalah dari dulu. Soal batas wilayah perkebunan. Masalah tanam pohon yang menurut korban lewati batas,” ujar Elim.

Baca juga :  Kepala Inspektorat Denpasar Meninggal Akibat Covid-19

Namun pernyataan ini malah dibantah tersangka Darmawaan. “Tidak ada masalah apa sebelumnya. Hanya saat itu (Rabu) saja. Itu pun karena dia (korban) mukul duluan,”semburnya kembali. Pun terkait menanam pohon alpukat, Darmawan mengaku tanam sudah berjarak satu meter dari batas yang dipasangi korban.

Diberitakan sebelumnya, seorang warga bernama Nyoman Rai dari Desa Belandingan, Kintamani, Bangli, ditemukan tak bernyawa di dasar jurang, desa setempat, Rabu (4/1) sore. Tubuh bapak satu anak ini baru bisa dievakuasi malam hari, mengingat kondisi TKP berada di balik bukit. Awalnya korban dikira terjatuh sendiri ke jurang. Namun belakangan pihak keluarga mencurigai korban bukan mengalami kecelakaan murni, namun korban dibunuh.

Sementara itu, informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, dari olah TKP sementara ditemukan ada 17 luka pada tubuh pria yang juga menjadi pecalang di desanya. Salah satunya juga ada luka seperti sayatan atau tebasan. “Satu giginya juga hilang. Kalau jatuh kecelakaan, melihat dari medan, tidak mungkin sampai 17 lukanya,” celetuk sumber di lapangan.

Kecurigaan dugaan pembunuhan juga berdasarkan sejumlah barang ditemukan di TKP, seperti karung beras (kampil putih), gagang sabit, dan ada ceceran darah dari atas jurang. (128)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini